Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Baru Diresmikan, Pabrik Petrokimia Lotte Chemical Indonesia di Cilegon Tekan Impor Rp23 Triliun

Ihfa Firdausya
09/11/2025 09:50
Baru Diresmikan, Pabrik Petrokimia Lotte Chemical Indonesia di Cilegon Tekan Impor Rp23 Triliun
Presiden Prabowo Subianto meresmikan Lotte Chemical Indonesia di Cilegon(Ilham Ramadhan A./MI)

PABRIK petrokimia New Ethylene Project milik PT Lotte Chemical Indonesia (LCI) di Cilegon diproyeksikan mampu mengganti impor produk petrokimia hingga USD1,4 miliar atau Rp23,3 trilun per tahun. Pabrik tersebut baru saja diresmikan oleh Presiden Prabowo Subianto, Kamis (6/11).

Proyek yang menelan investasi sekitar US$3,9 miliar ini menjadi bagian dari strategi pemerintah untuk mempercepat hilirisasi dan mendorong nilai tambah di dalam negeri.

“Pabrik baru ini mampu menghasilkan nilai hilirisasi hingga US$2 miliar per tahun, dengan rincian US$1,4 miliar akan menggantikan impor dan US$600 juta berpotensi menambah nilai ekspor,” kata Menteri Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Bahlil Lahadalia dalam keterangan yang dikutip, Minggu (9/11).

Bahlil menjelaskan, dari total kapasitas produksinya, sebesar 70% akan dipasarkan di dalam negeri dan 30% di luar negeri. “Jadi selama ini kita impor, dengan pabrik ini kita tidak lagi mengimpor secara besar-besaran seperti tahun sebelumnya," ujar Bahlil.

Fasilitas New Ethylene Project mampu mengolah naphtha sebesar 3.200 kiloton per tahun (kTA), dengan dukungan LPG hingga 50% sebagai bahan tambahan. Dari proses tersebut dihasilkan produk hulu seperti ethylene (1.000 kTA), propylene (520 kTA), mixed C4 (320 kTA), pyrolysis gasoline (675 kTA), pyrolysis fuel oil (26 kTA), dan hydrogen (45 kTA).

Sementara itu, produk hilir yang dihasilkan meliputi high density polyethylene (HDPE) sebanyak 250 kTA, linear low density polyethylene (LLDPE) sebanyak 200 kTA, polypropylene (PP) sebanyak 350 kTA, butadiene sebanyak 140 kTA, raffinate sebanyak 180 kTA, serta benzene, toluene, dan xylene (BTX) dengan total kapasitas 400 kTA.

Produk-produk petrokimia tersebut akan menjadi bahan baku bagi berbagai industri, seperti pembuatan botol plastik, kabel, bumper kendaraan, alat kesehatan, ban, karet sintetis, pembasmi serangga, hingga cat.

"Hari ini membuktikan bahwa hilirisasi Indonesia tidak hanya kita bangun hilirisasi mineral dan batubara, tapi juga sudah mulai beranjak ke hilirisasi minyak dan gas bumi," tegas Bahlil.

Fasilitas pengolahan turunan migas berskala besar ini diharapkan memperkuat ketersediaan bahan baku berbasis petrokimia dalam negeri, mengurangi tekanan pada neraca perdagangan, serta memperkuat ekosistem industri nasional. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik