Headline

PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.

Apa yang Salah, Kinerja Manufaktur Naik, PHK malah Meningkat

Insi Nantika Jelita
07/11/2025 04:13
Apa yang Salah, Kinerja Manufaktur Naik, PHK malah Meningkat
Ilustrasi: Wakil Ketua DPR Sufmi Dasco Ahmad (kedua kiri) menemui demonstran usai melakukan pertemuan dengan perwakilan PT Multistrada Arah Sarana Tbk di Cikarang, Jawa Barat.(ANTARA/Dhemas Reviyanto)

DI tengah ekspansifnya industri manufaktur dalam tiga bulan berturut-turut, pemutusan hubungan kerja (PHK) malah kian menjadi. Hal itu tak lepas dari kebijakan perusahaan yang tetap melakukan efisiensi dalam meningkatkan kapasitas produksinya.

Demikian benang merah dari diskusi Diseminasi Studi Kelayakan Kerja 'Upah Rendah, Harapan Tinggi' secara daring, Kamis (6/11). 

"Paradoks ini ini sangat mungkin terjadi karena ekspansi industri yang tecermin dalam PMI manufaktur tidak otomatis mencerminkan penciptaan lapangan kerja baru. Perusahaan yang ekspansi itu melalui efisiensi dan otomatisasi, bukan dengan perekrutan tenaga kerja," papar Direktur Kebijakan Publik Center of Economic and Law Studies (Celios) Media Wahyudi dalam diskusi tersebut.

Lembaga pemeringkat S&P Global menempatkan Purchasing Managers’ Index (PMI) manufaktur Indonesia pada Oktober 2025 di level 51,2, alias masih berada di zona ekspansi sejak Agustus 2025.

Hal itu bertolak belakang dengan kondisi ketenagakerjaan di Tanah Air. Pabrik ban Michelin, misalnya, yang baru-baru ini mengumumkan akan mengurangi jumlah karyawannya hingga 200 orang akibat turunnya permintaan pasar. 

PHK meningkat
Berdasarkan data Kementerian Ketenagakerjaan (Kemnaker), di periode Januari–Juni 2025 tercatat 42.385 pekerja yang terkena PHK, naik sekitar 32,19% jika dibandingkan dengan periode yang sama tahun sebelumnya (32.064 pekerja). 

Media menerangkan kondisi paradoks itu terlihat pada fenomena relokasi perusahaan dari kota dengan biaya produksi lebih tinggi ke wilayah lain yang lebih murah, misalnya dari Tangerang ke Cirebon. Aktivitas industri tetap berjalan dan bahkan bisa meningkat, namun tenaga kerja di lokasi awal terkena dampak PHK.

"Ini yang terjadi sekarang, raise to the bottom. Perusahaan yang ada di Tangerang pindah ke Cirebon. PMI-nya mungkin naik, tapi PHK juga naik," ungkapnya.

Media juga menjelaskan gelombang PHK masih dapat terjadi dalam beberapa waktu ke depan meskipun ekonomi tumbuh. Pasalnya, selama ini pertumbuhan ekonomi banyak ditopang oleh industri berbasis sumber daya alam seperti nikel.

Sektor-sektor tersebut dinilainya cenderung tidak menciptakan lapangan kerja dalam jumlah besar. Sementara itu, pertumbuhan penanaman modal asing (PMA) justru menunjukkan perlambatan. (Ins/E-1)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Mirza
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik