Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
Aktivitas manufaktur Indonesia pada Oktober mencatat peningkatan ekspansi dengan PMI S&P Global di level 51,2 naik dari angka 50,4 bulan sebelumnya. Ini menandai ekspansi tiga bulan berturut-turut, ditopang oleh kenaikan pesanan baru, perekrutan tenaga kerja, dan stabilnya output produksi.
Merespon hal itu, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo), Shinta Widjaja Kamdani mengatakan bahwa hal tersebut menunjukkan aktivitas industri perlahan-lahan kembali bergerak setelah sempat stagnan di pertengahan tahun.
"Tapi kalau ditanya apakah pemulihan ini sudah merata, jawabannya belum sepenuhnya. Ada sektor-sektor yang sudah menunjukkan perbaikan cukup kuat, tapi ada juga yang masih tertahan oleh tekanan biaya maupun lemahnya permintaan," kata Shinta saat dihubungi, Senin (3/11).
Shinta mengungkapkan, jika merujuk pada laporan Prompt Manufacturing Index BI pada kuartal III-2025, beberapa sektor yang menguat dan cenderung ekspansif antara lain yakni sektor makanan-minuman, logam dasar, alat angkutan, serta komputer/elektronik. Di sisi lain, beberapa kelompok barang galian bukan logam juga meningkat pada Q3. Perbaikan ini, kata Shinta, sejalan dengan stabilnya permintaan input industri dan aktivitas konstruksi di sejumlah wilayah pada paruh kedua tahun ini.
Di samping itu, Shinta mengungkapkan bahwa subsektor padat karya seperti tekstil dan produk tekstil (TPT) masih menghadapi tekanan akibat lemahnya permintaan domestik dan persaingan dengan produk impor.
"Industri kulit dan alas kaki mulai membaik tetapi bergantung pada siklus pesanan ekspor. Sedangkan industri hasil tembakau dan kayu/rotan juga masih menunjukkan volatilitas. Jadi, kalau kita simpulkan, pemulihan memang berjalan tapi tidak homogen, subsektor berbasis konsumsi dan padat karya masih membutuhkan dorongan kebijakan yang lebih kuat agar tidak tertinggal," jelasnya.
Terkait margin usaha, Shinta menuturkan bahwa temuan PMI Oktober mencatat kenaikan biaya input paling tajam dalam delapan bulan terakhir, sementara waktu pengiriman kembali memanjang akibat kendala distribusi. Hal ini berakibat pada banyak pabrikan yang menahan penyesuaian harga jual agar tetap kompetitif, sehingga hal ini tentu membuat margin tertekan.
"Mereka bertahan lewat efisiensi operasional, negosiasi harga pasokan, hingga menunda ekspansi besar. Tetapi kemampuan untuk menahan margin jelas terbatas. Selama biaya logistik, energi, dan pembiayaan masih tinggi, ruang napas industri tetap sempit. Ini konsisten dengan masukan kami di berbagai forum dengan pemerintah: high cost of doing business masih menjadi faktor penekan daya saing dan margin, sementara akses pembiayaan juga belum longgar," ujar dia.
Terkait dengan minat ekspansi, Shinta memandang bahwa dunia usaha saat ini cenderung selektif karena banyak perusahaan masih menahan investasi besar karena margin tertekan dan prospek permintaan yang belum kuat.
"Namun, mereka siap bergerak begitu sinyal stabilitas kebijakan dan efisiensi biaya semakin nyata," imbuhnya.
Berbicara tantangan utama industri manufaktur, Shinta menyatakan bahwa tantangan struktural yang masih dihadapi antara lain adalah biaya berusaha yang tinggi, ketergantungan pada bahan baku impor, produktivitas tenaga kerja yang belum merata, serta regulasi dan birokrasi yang masih kompleks. Sementara dari sisi jangka pendek, Shinta menayatakan bahwa daya beli domestik belum sepenuhnya pulih, terutama di kelompok menengah bawah, dan ini berpengaruh langsung terhadap stabilitas pesanan baru.
Maka dari itu, kata Shinta, ketika pemerintah menargetkan kontribusi manufaktur naik ke 20,8% PDB, Apindo memandang hal itu hanya bisa tercapai bila kebijakan struktural dan stimulus jangka pendek berjalan simultan, bukan terpisah.
"Kami juga menilai target kontribusi manufaktur terhadap PDB saat ini perlu diposisikan sebagai bagian dari milestone agenda transformasi jangka menengah–panjang yang menuntut konsistensi kebijakan dan membangun pondasi agar sektor manufaktur dapat bangkit kembali dan benar-benar menjadi motor pertumbuhan ekonomi nasional secara berkelanjutan," pungkasnya. (E-3)
Bendera inovasi industri manufaktur Indonesia berkibar di panggung global setelah TRK Valves tampil sebagai satu-satunya perwakilan industri manufaktur nasional dalam ajang LNG 2026.
Mengawali 2026, kinerja sektor manufaktur Indonesia menguat. Hal ini tercermin dari Purchasing Managers’ Index (PMI) Manufaktur yang tetap ekspansif dan meningkat ke 52,6 pada Januari 2026.
Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) dan Singapore Manufacturing Federation (SMF) secara resmi menandatangani Memorandum of Understanding (MoU) strategis sebagai langkah konkret.
Industri manufaktur nasional menunjukkan ketahanan yang kuat dengan tetap bertahan di jalur ekspansi.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri pengolahan nonmigas (IPNM) berhasil tumbuh hingga 5,17%.
Juru Bicara (Jubir) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif menyampaikan bahwa nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember 2025 berada di angka 51,9.
Pada kuartal IV 2025, industri tekstil dan produk tekstil tercatat tumbuh 4,37 persen secara tahunan di tengah tekanan global dan perlambatan permintaan di sejumlah negara tujuan ekspor.
Pusat Pelaporan dan Analisis Transaksi Keuangan (PPATK) mengungkap praktik penghindaran pajak berskala besar di sektor perdagangan tekstil.
Penertiban produk impor ilegal oleh pemerintah menjadi mementum penting bagi kebangkitan industri UMKM bidang tekstil lokal di Indonesia.
Direktur Eksekutif Center of Reform on Economics (Core) Mohammad Faisal mengungkapkan lonjakan pemutusan hubungan kerja (PHK) pada 2025 banyak terjadi pada industri padat karya.
Pemerintah bersiap melakukan intervensi strategis di sektor tekstil nasional menyusul kolapsnya PT Sri Rejeki Isman Tbk (Sritex), salah satu pemain terbesar industri tekstil.
Ketua Umum Asosiasi Garmen dan Tekstil Indonesia (AGTI), Anne Patricia Sutanto, mengapresiasi fokus Presiden Prabowo Subianto terhadap penguatan dan hilirisasi industri tekstil dan garmen.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved