Headline
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
PERADABAN tidak pernah tumbuh di ruang hampa. Ia dibangun oleh gagasan, dirawat oleh nilai, dan dijaga oleh nalar.
Kumpulan Berita DPR RI
Penumpukan realisasi anggaran di akhir tahun dan tingginya dana mengendap di kas daerah menjadi sorotan. APBD yang mengendap di bank mencapai lebih dari Rp200 triliun. Kepala Pusat Makroekonomi dan Keuangan Institute for Development of Economics and Finance (Indef) M Rizal Taufikurahman menyebut fenomena itu merupakan cerminan lemahnya sinkronisasi antara siklus perencanaan, penganggaran, dan pelaksanaan APBD.
Menurutnya, keterlambatan penetapan APBD membuat proses administrasi dan lelang kegiatan bergeser hingga triwulan II dan III. Karenanya, proyek fisik baru berjalan saat tahun anggaran hampir berakhir.
"Pola ini menyebabkan belanja pemerintah daerah tidak berperan optimal sebagai instrumen stabilisasi dan akselerasi ekonomi daerah sepanjang tahun," kata Rizal saat dihubungi Media Indonesia, Minggu (26/10).
Secara makro, katanya, pola back-loading ini mengurangi efektivitas fiskal daerah dalam menjaga momentum pertumbuhan, hingga menahan multiplier effect belanja publik. Pada ada akhirnya itu menurunkan efisiensi APBN karena dana transfer ke daerah mengendap di perbankan tanpa menstimulasi ekonomi riil.
Untuk mengubah pola tersebut, Rizal mengatakan reformasi kelembagaan dan manajemen fiskal daerah menjadi kunci. Pertama, perlu penguatan fiscal discipline dan fiscal governance melalui percepatan sinkronisasi antara siklus RPJMD, RKPD, dan APBD agar penetapan bisa dilakukan sebelum tahun berjalan, sesuai amanat UU Keuangan Daerah.
Kedua, implementasi sistem e-budgeting dan e-procurement harus terintegrasi sejak perencanaan agar proses persiapan kegiatan bisa berjalan paralel, bukan sekuensial.
Ketiga, pengawasan dari Kemendagri dan BPKP sebaiknya diarahkan tidak hanya pada kepatuhan administratif, tetapi juga pada kinerja penyerapan dan kualitas belanja daerah (output-based budgeting).
Selain itu, kata Rizal, perlu insentif fiskal berbasis kinerja. Misalnya, daerah dengan penetapan APBD tepat waktu dan realisasi triwulanan yang merata diberikan tambahan dana insentif daerah (DID).
"Dengan demikian, logika fiskal berubah dari sekadar 'menghabiskan anggaran' menjadi 'memaksimalkan manfaat anggaran'. Pemerintah pusat juga dapat menetapkan cut-off dana transfer yang lebih tegas agar daerah terdorong mempercepat siklus APBD-nya," jelas Rizal.
"Intinya, pola desentralisasi fiskal harus bertransformasi dari administratif menjadi produktif, yang mana tata kelola anggaran daerah menjadi instrumen pembangunan berkelanjutan, bukan sekadar ritual tahunan penyerapan," pungkasnya. (E-3)
Hal itu disampaikan Menteri Dalam Negeri (Mendagri) Tito Karnavian di kompleks Istana Kepresidenan, Jakarta, hari ini, seusai menyampaikan laporan aktual keuangan daerah.
Menteri Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa menegaskan bahwa pengelolaan keuangan negara harus berlandaskan pada data yang akurat dan terverifikasi, terutama terkait dana transfer ke daerah.
Siklus realisasi anggaran di akhir tahun ditengarai menjadi salah satu penyebab tingginya dana pemerintah daerah (pemda) yang masih mengedap di perbankan.
Anggota Komisi II DPR RI Ahmad Doli menyoroti dana daerah mengendap sebesar Rp234 triliun di bank.
Gubernur Jawa Barat, Dedi Mulyadi, membantah tudingan bahwa Pemerintah Provinsi Jawa Barat menahan dana Anggaran Pendapatan dan Belanja Daerah (APBD) dalam bentuk deposito.
KINERJA serapan anggaran daerah menjadi sorotan pemerintah pusat, juga publik. Pasalnya, masih banyak pemerintah daerah (pemda) yang mengendapkan dana belanja di bank.
Siklus realisasi anggaran di akhir tahun ditengarai menjadi salah satu penyebab tingginya dana pemerintah daerah (pemda) yang masih mengedap di perbankan.
DPR RI desak pemerintah daerah klarifikasi dana Rp234 triliun yang mengendap di bank.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved