Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
DEPUTI Bidang Statistik Produksi Badan Pusat Statistik (BPS) M. Habibullah menyampaikan, komoditas beras menjadi salah satu faktor peredam inflasi September 2025. Secara historis, pada periode September 2021 hingga 2024, beras umumnya mengalami inflasi. Namun, pada September 2025, BPS mencatat deflasi beras sebesar 0,13% dan memberikan andil inflasi 0,01%.
Deflasi beras pada September ini merupakan yang kedua sepanjang tahun 2025. Sebelumnya, deflasi juga terjadi pada April 2025.
"Komoditas beras yang menjadi salah satu peredam inflasi di September 2025," ujarnya dalam konferensi pers Rilis BPS secara daring, Rabu (1/10).
Dari sisi harga, rata-rata harga beras di tingkat penggilingan pada September 2025 turun 0,62% secara bulanan (month-to-month/mtm). Beras di penggilingan menyusut dari Rp13.596 per kilogram pada Agustus 2025 menjadi Rp13.512 per kilogram pada September 2025.
"Jika dirinci berdasarkan kualitas, beras premium turun 0,72% (mtm), namun naik 5,60% (yoy), sementara beras medium turun 0,54% (mtm) tetapi meningkat 6,17% (yoy)," kata Habibullah.
Di tingkat grosir, beras mencatat deflasi tipis 0,02% (mtm) namun tetap inflasi 5,54% (yoy). Sedangkan di tingkat eceran, terjadi deflasi 0,13% (mtm) dengan inflasi tahunan 4,06% (yoy). Data ini mencerminkan rata-rata harga beras dari berbagai jenis kualitas dan wilayah di seluruh Indonesia.
Habibullah menerangkan terkait penyebab penurunan harga beras pada September 2025 dipengaruhi oleh tiga faktor utama. Pertama, adanya panen gadu di beberapa wilayah yang meningkatkan pasokan gabah.
Kedua, pemanfaatan stok gabah di penggilingan yang cukup melimpah.
"Ketiga, adanya penyesuaian harga beras pada berbagai kualitas akibat dinamika pasar," tuturnya.
Kombinasi ketiga faktor tersebut mendorong turunnya harga beras baik di tingkat penggilingan, grosir, maupun eceran, sehingga beras menjadi salah satu komoditas penyumbang deflasi pada September 2025. BpS mencatat inflasi September 2025 sebesar 0,21% mtm. (H-3)
Harga daging sapi terpantau Rp140.000 per kilogram, daging kambing Rp160.000, ayam ras Rp42.000, ayam kampung Rp65.000. Serta minyak goreng berada di kisaran Rp15.700 per liter.
Harga cabai domba mencapai Rp80.000 per kilogram, naik dari sebelumnya Rp60.000. Begitu juga cabai tanjung dari Rp30.000 menjadi Rp 45.000.
Kenaikan harga cabai rawit yang menembus harga eceran tertinggi menjadi penyumbang terbesar kenaikan indeks harga pangan daerah.
Harga cabai rawit dipatok Rp80 ribu, dari harga sepekan sebelumnya yang masih dalam kisaran Rp50 ribu.
Inflasi NTT tahun 2025 yang tercatat sebesar 2,39 persen (yoy) mencerminkan stabilitas harga yang terjaga.
Harga eceran tertinggi (HET) Minyakita ditetapkan sebesar Rp15.700 per liter. Adapun pembelian oleh konsumen akhir dibatasi maksimal 12 liter per orang per hari.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved