Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
Tiga varietas benih unggul sawit terbaru dirilis PT Astra Agro Lestari. Semua varietas itu memiliki ketahanan terhadap penyakit ganoderma atau busuk pangkal batang. Dengan diciptakannya bibit-bibit baru itu, kini perusahaan telah memiliki enam jenis dengan keunggulan masing-masing.
Sebelumnya pada 2020, Astra Agro berhasil menciptakan tiga varietas andalan untuk mendukung daya saing dan produktivitas kebun sawit yang diberi nama AAL Lestari, AAL Sejahtera, dan AAL Nirmala. Kini, lima tahun berselang Astra Agro kembali melepas bibit-bibit unggul dengan berbagai pembaruan.
Tiga varietas baru ini dirilis setelah dinyatakan lulus Sidang Pelepasan Varietas Tanaman Perkebunan oleh Direkorat Jenderal Perkebunan di Bogor, Jawa Barat. Keunggulan paling utama dari ketiga varietas teranyar ini adalah moderat resisten atau tahan terhadap penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh cendawan ganoderma. Penyakit ini merupakan musuh bagi para pelaku industri sawit termasuk para petani karena sulit ditangani bila sudah terinfeksi.
Ganoderma menyebabkan pelapukan pada bagian dalam pohon hingga membuat tanaman mati secara perlahan. Hal ini dapat menjadi kendala produktivitas perkebunan sawit secara nasional. Direktur Perbenihan Perkebunan Kementerian Pertanian Ebi Rulianti mengatakan tiga benih baru ini merupakan terobosan dan inovasi yang sangat baik.
“Varietas kelapa sawit DxP AAL Nirmala MRG, DxP AAL Lestari MRG, DxP AAL Sejahtera MRG, layak untuk dilepas atau lulus karena kami nilai menjadi solusi dalam penanganan penyakit busuk pangkal batang yang disebabkan oleh ganoderma boninense,” ungkap Direktur Perbenihan Perkebunan Ebi Rulianti.
Menurutnya, Astra Agro memiliki tim pengembangan dan penilitian yang mumpuni karena berhasil merilis benih baru dalam waktu yang lebih singkat. Padahal biasanya pelepasan varietas baru kelapa sawit dengan moderat resisten ganoderma membutuhkan waktu sekitar 15 sampai dengan 20 tahun.
Astra Agro yang masuk dalam Konsorsium Genom Sawit Indonesia (KGSI) telah ikut berkontribusi dalam melawan penyakit tanaman tersebut. Ebi menambahkan selain resisten terhadap Ganoderma, ketiga varietas yang sudah dilepas ini memiliki keunggulan produksi tinggi dan tidak menghasilkan buah kempet.
“Di Indonesia sudah dapat dipastikan tidak ada lahan atau tanah yang bebas dari ganoderma, sehingga adanya varietas baru yang dirilis oleh Astra Agro, harapannya perusahaan dan petani mampu memperoleh produksi yang optimal, selamat dan sukses untuk Astra Agro,” jelas Ebi.
Sementara itu, Senior Vice President Research and Development Astra Agro Lestari Cahyo Wibowo menyebutkan bahwa penyakit busuk pangkal batang ini telah berkembang cukup pesat di Indonesia seperti di Sulawesi Barat dan Sumatera.
“Salah satu upaya kami dalam menangani penyakit ini yaitu dengan meneliti dan mengembangkan bibit unggul moderat tahan ganoderma serta kultur teknis yang baik dan mampu menghasilkan produksi yang tinggi,” tuturnya.
Cahyo mengungkapkan penyakit ini mampu membunuh tanaman kelapa sawit dengan relatif cepat sehingga total populasi tanaman per hektare (SPH) akan turun drastis dan mengakibatkan penurunan produksi TBS yang signifikan. Hal tersebut yang mendasari tim Research and Development (R&D) Astra Agro menganggap perlu memperbaharui varietas unggul sebelumnya dengan menambahkan keunggulan yakni tahan terhadap Ganoderma.
Keunggulan lainnya yang tidak kalah penting adalah mencegah masalah partenokarpi atau kerap disebut dengan buah kempet. Cahyo menyebutkan bahwa tiga varietas terbaru ini tidak akan menghasilkan buah kempet, sehingga berpengaruh positif terhadap produktivitas yang dihasilkan.
Meskipun memiliki keunggulan yang baru, tiga varietas ini tetap memiliki keunggulan-keunggulan pada varietas sebelumnya seperti produksi tandan buah segar (TBS)dan kandungan minyak yang lebih banyak. Cahyo mengungkapkan dengan dirilisnya tiga varietas baru ini, Astra Agro berharap dapat segera mengaplikasikan bibit-bibit ini di kebun operasional Astra Agro khususnya di wilayah endemik busuk pangkal batang sehingga potensi kehilangan produksi akibat serangan penyakit ini dapat diminimalisir. (E-3)
Inovasi rompi antipeluru berbahan serat sawit hasil riset tim IPB University resmi dinyatakan lolos uji balistik militer dan tersertifikasi oleh Dislitbang TNI AD.
Ketua Komjak Pujiono Suwadi mengapresiasi capaian pemulihan aset negara oleh Satgas PKH namun itu dinilai masih jauh dari kerugian negara di bidang sumber daya alam
Komarudin Watubun mempertanyakan rencana Presiden Prabowo Subianto yang mendorong penanaman kelapa sawit di Papua.
Kemenhut resmi memulai kegiatan relokasi lahan dan pemulihan ekosistem Taman Nasional Tesso Nilo (TNTN). Kegiatan ini ditandai dengan penumbangan sawit dan penanaman pohon
perusahaan yang terbukti melakukan praktek illegal logging dan perusahaan sawit yang merugikan ekosistem sekitar harus membayar ganti rugi atas kerusakan di sumatra
RENCANA ekspansi perkebunan sawit skala besar di Papua dengan dalih produksi bahan bakar minyak (BBM) energi alternatif mendapat penolakan tegas sejumlah organisasi masyarakat sipil.
Dengan mengurangi harga barang yang dilaporkan, maka bea masuk yang dibayarkan juga akan berkurang dan hal tersebut sangat merugikan ekonomi dari sisi pendapatan negara.
Purbaya mengingatkan, ke depan pihaknya tidak akan memberikan kesempatan perusahaan-perusahaan kelapa sawit untuk bisa kembali melakukan praktik under invoicing.
KSPSI menekankan pentingnya standar hubungan industrial yang setara dan berkeadilan di sektor perkebunan kelapa sawit.
Siklon tropis Senyar yang membawa curah hujan ekstrem memang menjadi pemicu utama banjir. Namun, menurutnya, faktor manusia dan aktivitas industri juga perlu dikaji lebih serius.
PT Astra Agro Lestari Tbk menegaskan konsistensinya dalam menjalankan kebijakan keberlanjutan, termasuk Nol Deforestasi, yang telah menjadi bagian dari operasional perusahaan sejak 2015.
Bencana banjir bandang yang terjadi di tiga provinsi di Pulau Sumatera, bukan hanya karena faktor alam, tapi akibat penebangan hutan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved