Headline
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Buka puasa bersama bukan sekadar rutinitas seremonial.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMERINTAH terus menggodok perubahan rentang waktu dan besaran kewajiban penempatan devisa hasil ekspor (DHE) atas komoditas sumber daya alam (SDA). Pengambil kebijakan hanya dapat memastikan perubahan skema itu bakal diterbitkan dan diumumkan dalam waktu dekat.
"Masih dikaji, dalam waktu dekat akan diumumkan. Pasti diperpanjang dan sektornya adalah hasil minerba dan hasil perkebunan. Sekarang sedang kita bahas juga dengan Bank Indonesia terkait insentif yang bisa diberikan," ungkap Menteri Koordinator Bidang Perekonomian Airlangga Hartarto usai menghadiri Rapimnas Kamar Dagang dan Industri (Kadin) Indonesia 2024-2029, Jakarta, Minggu (1/12).
Dia mengungkapkan, penambahan rentang waktu penyimpanan DHE dan besaran yang wajib disimpan oleh eksportir itu didasarkan pada kebutuhan negara untuk menyimpan dolar. Dolar tersebut akan masuk dalam cadangan devisa yang dikelola oleh Bank Indonesia.
Salah satu kegunaan dari cadangan devisa itu ialah untuk mendukung stabilitas nilai tukar dan perekonomian dalam negeri. Pemupukan cadangan devisa kian penting, terlebih pascaterpilihnya Donald Trump sebagai Presiden Amerika Serikat yang diyakini bakal mengedepankan kebijakan ekonomi untuk kepentingan 'Negeri Paman Sam'.
Kebijakan yang diusung Trump itu diprediksi mendorong penguatan nilai tukar dolar AS dan membuat pasar uang dunia bergejolak lantaran para investor akan memindahkan investasinya ke pasar yang dianggap aman, yakni AS.
"Karena kita sangat membutuhkan dolar AS ke depan, itu hanya bisa dilakukan kalau kita menghasilkan devisa," terang Airlangga.
Sebelumnya, Ketua Dewan Pakar Partai Gerindra Burhanuddin Abdullah mengungkapkan, pemerintah tengah mempertimbangkan perpanjangan masa kewajiban penempatan DHE SDA hingga satu tahun dengan besaran 50% dari total hasil ekspor. Jangka waktu dan besaran itu lebih lama dan lebih besar dari aturan yang berlaku saat ini.
"Devisa hasil ekspor itu sedang dipertimbangkan sebesar 50% untuk satu tahun," ujarnya dalam diskusi panel bertajuk Menuju Indonesia Emas: Perspektif Partai Gerindra dalam Mewujudkan Visi Kebangsaan di NasDem Tower, Jakarta, Selasa (26/11).
Dalam aturan yang berlaku saat ini, para eksportir dengan nilai ekspor pada Pemberitahuan Pabean Ekspor US$250 ribu atau lebih wajib menempatkan DHE minimal 30% ke rekening khusus (reksus) dalam negeri yang difasilitasi oleh Bank Indonesia (BI) selama minimal tiga bulan.
Data Bank Indonesia per 20 Agustus 2024, dolar hasil ekspor yang masuk ke instrumen term deposit valuta asing devisa hasil ekspor (TD Valas DHE) telah kembali bergerak di kisaran US$2,1 miliar-US$2,2 miliar. Hal itu seiring dengan makin gencarnya BI bersama Direktorat Jenderal Bea dan Cukai memberi sanksi kepada eksportir yang enggan menyimpan dolar hasil ekspornya di instrumen keuangan domestik. (E-2)
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS melemah pada pembukaan perdagangan di Jakarta, Kamis 19 Februari 2026.
Nilai tukar rupiah dibuka melemah pada perdagangan Rabu (18/2) pagi di Jakarta.
Nilai tukar (kurs) Rupiah hari ini, Rabu (18/2/2026), dibuka melemah 18 poin ke level Rp16.855 per dolar AS. Simak analisis penyebab dan sentimen pasar.
Perencanaan keuangan keluarga Indonesia kini semakin dipengaruhi kebutuhan lintas negara, mulai dari pendidikan internasional hingga pengelolaan aset global.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah ke Rp16.828 per dolar AS hari ini, Kamis (12/2). Simak analisis ICDX terkait dampak Nonfarm Payroll AS terhadap kurs domestik.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
Bank Indonesia mencatat net inflow investasi portofolio asing US$1,6 miliar hingga Februari 2026. Simak analisis BI terkait nilai tukar Rupiah yang undervalued.
Pengamat perbankan Arianto Muditomo memperkirakan utang luar negeri (ULN) pada pemerintah Presiden Prabowo Subianto akan terus melonjak.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved