Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
NILAI tukar rupiah diperkirakan masih akan terus bergerak tidak pasti hingga akhir tahun ini. Sebab utamanya ialah kondisi ekonomi global dan sentimen pasar terhadap perekonomian dalam negeri.
Wakil Direktur Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Eko Listiyanto mengatakan, nilai tukar rupiah akan cenderung menguat di triwulan IV tahun ini. Itu besar kemungkinan terjadi karena ada momentum yang bisa mendorong laju pertumbuhan ekonomi.
"Dugaan saya akan ada booster di triwulan IV 2024 karena ada pilkada dan libur akhir tahun. Tapi memang secara umum rupiah ini akan cenderung tidak stabil," ujarnya dalam seminar nasional Kajian Tengah Tahun Indef bertajuk Presiden Baru, Persoalan Lama, Selasa (25/6).
Baca juga : 3 Alasan di Balik Menguatnya Rupiah Hari Ini
Eko menilai, salah satu penyebab tidak stabilnya nilai tukar rupiah ialah karena persoalan mendasar pada perekonomian dalam beberapa waktu terakhir. Berbagai indikator ekonomi yang tampak positif menurutnya berbanding terbalik dengan realitas.
Indeks keyakinan, misalnya, kerap disebut oleh pemerintah berada dalam zona optimis. Namun jika dibedah, kata Eko, komponen yang ada di dalamnya justru mengalami penurunan. "Ini gambaran dan mengonfirmasi apa yang terjadi di triwulan I bahwa konsumsi mulai turun," ujarnya.
"Kalau dibedah lagi, penggunaan pendapatan di rumah tangga, konsumsi, menabung, dan cicilan pinjaman. Kalau kita lihat, di akhir Mei, yang naik itu adalah cicilan pinjaman," tambahnya.
Baca juga : Nilai Tukar Rupiah Kian Melemah, Mendag: Jangan Khawatir
Di kesempatan yang sama, peneliti makroekonomi dan keuangan Indef Abdul Manap Pulungan menilai pelemahan nilai tukar rupiah yang terjadi belakangan ini juga sedianya merupakan imbas dari kebijakan Bank Indonesia yang tidak tepat.
Menurut dia, bank sentral seolah menemui jalan buntu dan hanya mengandalkan kebijakan suku bunga untuk menjaga stabilitas rupiah. Padahal kebijakan itu justru tak memberikan pengaruh apa pun pada nilai tukar rupiah.
"Pada April 2024 hanya BI yang menaikan suku bunga acuan, reaktif pada situasi global. Dari negara-negara G-20, hanya BI yang naikan suku bunga. Dia mau ahead the curve, tapi malah beyond the curve, yang lain tidak menaikan, dia menaikan sendiri," kata Abdul.
Baca juga : Pekan Depan, Kurs Rupiah Diramalkan Melemah Tajam
"Sebetulnya rentang depresiasinya itu tidak terlalu tinggi. Rentang pada 1 Januari sampai 23 April itu depresiasi rupiah 5,08%. Sementara ada negara lain yang terdepresiasi lebih tinggi, tapi tidak menaikan suku bunga acuan," tambahnya.
Alih-alih ada perbaikan, lanjut Abdul, depresiasi rupiah terus berlanjut. Sedangkan negara-negara lain yang tak mengutak-atik bunga acuannya justru mengalami apresiasi pada nilai tukarnya. "Jadi saya pikir ini adalah kita yang bermasalah," tuturnya.
Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Indonesia (Apindo) Shinta Widjaja Kamdani mengungkapkan, kondisi rupiah saat ini menjadi yang paling buruk jika dibandingkan dengan mata uang negara ASEAN 5. Itu turut mengonfirmasi gagalnya Indonesia membendung penguatan dolar AS.
"Pada saat ini, walau semua nilai tukar menurun, Indonesia ini salah satu yang terparah di ASEAN 5. Kalau ditanya pengusaha itu mau nilai tukar berapa. Dari survei Apindo itu menemukan bahwa 54% pengusaha itu tahun lalu menginginkan nilai tukar Rp14 ribu per dolar AS. Dengan kondisi sekarang mungkin akan terlihat ambisius," pungkasnya.
(Z-9)
EKONOM Indef Rizal Taufikurahman, menilai probabilitas pelemahan rupiah di awal perdagangan cukup tinggi seiring meningkatnya konflik Iran-Israel dan Amerika Serikat.
Mata uang rupiah ditutup melemah ke 16.787 per dolar AS (27/2). Ketegangan Iran-AS dan tarif panel surya 104% jadi pemicu utama. Simak ulasan lengkapnya.
Nilai tukar rupiah pada pembukaan perdagangan Rabu tercatat melemah 19 poin atau sekitar 0,11% ke level Rp16.848 per dolar AS.
Nilai tukar rupiah terhadap dolar AS hari ini, Rabu 25 Februari 2026, dibuka melemah ke level Rp16.848. Ketidakpastian global menjadi pemicu utama.
Nilai tukar rupiah melemah ke 16.829 per dolar AS pada 24 Februari 2026. Simak analisis penyebab tekanan eksternal dan proyeksi suku bunga The Fed di sini.
Nilai tukar Mata Uang Rupiah pada Selasa pagi (24/2/2026) melemah 10 poin ke level Rp16.835 per dolar AS. Simak analisis penyebab pelemahan rupiah hari ini.
PELUNCURAN NU Harvest Maslaha dan Sharia Global Services menandai fase baru keterlibatan Nahdlatul Ulama (NU) di arena ekonomi, tepat ketika NU memasuki usia satu abad.
Kesepakatan besar ini diresmikan dalam ajang US-Indonesia Business Summit 2026 yang berlangsung di Washington D.C., Rabu (18/2) waktu setempat.
Harga emas global dan Antam turun pada 17 Februari 2026. Prediksi untuk Rabu, 18 Februari, diperkirakan stabil atau berpotensi rebound tipis dengan harga Antam Rp2,96–3,05 juta per gram.
Firman Soebagyo kritik impor garam Australia dan nilai pemerintah lemah lindungi petani lokal. Komisi IV DPR desak bangun industri garam nasional.
Presiden RI Prabowo Subianto mengungkapkan kekhawatirannya terhadap adanya pihak-pihak tertentu yang dinilai berupaya melemahkan Indonesia dan menghambat langkah bangsa.
Pemprov DKI Jakarta memprediksi lonjakan kebutuhan pangan jelang Ramadan dan Idulfitri 2026, terutama telur ayam, daging, bawang merah, dan minyak goreng.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved