Headline
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Diskon transportasi hingga 30%, bantuan pangan, dan sistem kerja fleksibel bergulir.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor Indonesia pada Mei 2024 mencapai US$22,33 miliar. Angka tersebut meningkat sebesar 13,82% secara bulanan (month to month/mtm) dibanding April 2024 sebesar US$19,62 miliar.
Deputi Bidang Statistik Produksi BPS M. Habibullah mengatakan total nilai ekspor mengalami peningkatan baik secara bulanan maupun tahunan. Secara tahunan, ekspor meningkat 2,86% yoy dan nilai ekspor per Mei 2023 tercatat US$21,71 miliar.
"Pada Mei, nilai ekspor mencapai US$22,33 miliar atau naik sebesar 13,82% dibanding April," ujarnya dalam konferensi pers, Rabu (19/6). Peningkatan nilai ekspor Indonesia tersebut didorong oleh sektor minyak dan gas (migas) dan nonmigas yang mengalami peningkatan secara bulanan dan tahunan.
Baca juga : Nilai Ekspor Maret Naik 16,40% Jadi US$22,43 Miliar
Nilai ekspor migas pada Mei tercatat US$1,42 miliar atau naik 5,12% dan nonmigas sebesar 14,46% dengan nilai US$20,91 miliar. "Penyumbang utama peningkatan ekspor secara bulanan dan tahunan ialah ekspor industri pengolahan (nonmigas)," imbuhnya.
Adapun industri nonmigas penyumbang ekspor terbesar antara lain bahan bakar mineral US$3,3 miliar, besi dan baja US$2,1 miliar, mesin dan perlengkapan elektrik US$1,2 miliar, serta bijih logam, terak, dan abu menyumbang sebanyak US$1,03 miliar.
Selanjutnya logam mulia dan perhiasan/permata US$962 juta, kendaraan dan bagiannya US$926 juta, nikel dan turunannya US$849,6 juta, ekspor alas kaki US$617 juta, dan berbagai produk kimia US$558,5 juta.
Baca juga : Kinerja Ekspor di Februari cuma US$19,31 Miliar, Melorot sampai 5,79%
Selain menjadi penyumbang terbesar ekspor Mei, menurut dia, seluruh komoditas tersebut turut berkontribusi besar dalam penjualan ekspor secara kumulatif sejak Januari-Mei 2024 yakni 64,34% dari total ekspor periode itu yang mencapai US$104,2 miliar.
Dia menambahkan untuk negara tujuan utama ekspor nonmigas yakni Tiongkok US$4,73 miliar atau 22,63%, Amerika Serikat US$2,18 miliar atau 10,45%, serta India dengan nilai ekspor US$1,95 miliar atau 9,31%.
"Peningkatan nilai ekspor secara bulanan terutama didorong oleh peningkatan ekspor nonmigas yaitu komoditas mesin dan perlengkapan elektrik dan bagiannya 26,6% dengan andil 1,34%. Kemudian, biji logam terak abu 25,96% dan andil 1,09%, kendaraan dan bagiannya 26,80% dengan andil 1,00%. Sementara peningkatan ekspor migas terutama didorong oleh peningkatan nilai ekspor minyak tanah dengan andil 0,34% secara tahunan meningkat 2,86%," tandasnya. (Z-2)
PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menunjukkan respons cepat dalam menghadapi dua situasi darurat di perairan lepas pantai Jawa Barat dalam kurun sepekan.
Panitia Kerja (Panja) Lingkungan Hidup Komisi XII DPR RI melakukan kunjungan kerja ke Onshore Processing Facility (OPF) Saka Indonesia Pangkah Limited (PGN SAKA) di Gresik.
PT Medco Energi Internasional, melalui anak usahanya Medco E&P Grissik, memperkuat upaya pengurangan emisi melalui penerapan nitrogen gas blanketing.
BPS melaporkan kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai US$282,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 6,15%.
SKK Migas menegaskan komitmennya memperkuat penggunaan barang dan jasa dalam negeri di sektor hulu minyak dan gas bumi.
Industri minyak dan gas (migas) global kini berada di bawah mikroskop regulasi lingkungan yang semakin ketat, terutama terkait emisi gas rumah kaca.
BPS melaporkan kinerja ekspor Indonesia sepanjang Januari hingga Desember 2025 tercatat mencapai US$282,91 miliar atau mengalami kenaikan sebesar 6,15%.
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menargetkan pertumbuhan PDB industri pengolahan non migas (IPNM) 2026 di angka 5,51%.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri pengolahan nonmigas (IPNM) berhasil tumbuh hingga 5,17%.
Kontribusi IPNM terhadap PDB nasional berada pada angka 17,39% atau naik senesar 0,47% dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya berada pada angka 16,92%.
SURPLUS perdagangan Indonesia April 2025 tercatat hanya sebesar US$160 juta, penurunan tajam dipicu lonjakan signifikan nilai impor nonmigas,
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dinilai memiliki prospek yang menjanjikan sebagaimana tecermin dari peningkatan realisasi investasi di sektor TPT.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved