Headline
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.
Kumpulan Berita DPR RI
Wakil Menteri Perindustrian (Wamenperin) Faisol Riza menargetkan pertumbuhan PDB industri pengolahan non migas (IPNM) 2026 di angka 5,51%. Target ini meningkat jika dibandingkan dengan realisasi PDB IPNM triwulan III di 2025 yaitu 5,17%.
“Target pertumbuhan BDB industri pengolahan nonmigas yang di tahun 2025, di triwulan III itu sekitar 5,17%, ditargetkan menjadi 5,51% (2026),” ucap Faisol dikutip dari siaran pers yang diterima, Kamis (1/1).
Selain itu, Faisol mengatakan bahwa target rasio IPNM terhadap PDB naik menjadi 18,56% di 2026, dari target 2025 yang hanya 17,27% di 2025.
“Berikutnya kontribusi ekspor terhadap produk IPNM terhadap total ekspor sekitar 74,85%. Kemudian presentase penyerapan tenaga kerja IPNM terhadap total pekerja ditargetkan sebanyak 14,68% (untuk 2026),” imbuhnya.
Faisol juga menyatakan bahwa nilai investasi baru sektor IPNM ditargetkan sekitar Rp852,90 triliun untuk 2026. Di samping itu, presentase nilai tambah industri pengolahan di luar Pulau Jawa ditargetkan hingga 33,25%.
“Kemudian yang terakhir target penurunan emisi gas rumah kaca pada sektor industri kriminalitas sekitar 6,79 juta ton co2 EQ,” tandasnya.
Kemenperin, tambah Faisol juga akan berupaya mendorong tiga industri yang pertumbuhannya kontraksi pada 2025, yakni industri karet, barang dari karet dan plastik, industri pengolahan tembakau, serta industri kayu, barang dari kayu agar bisa meningkat di 2026.
“Tiga industri di tahun 2025 ini masih minus pertumbuhannya ditargetkan positif, yaitu industri karet, barang dari karet dan plastik dari minus 1,13% menjadi 1,84%. Berikutnya industri pengolahan tembakau minus 0,11% menjadi 1,37% dan industri kayu, barang dari kayu yang minus 4,48% menjadi 1,58%,” beber Faisol.
Lebih lanjut, Faisol juga menyampaikan bahwa Kemenperin akan meningkatkan pertumbuhan serta kontribusi terhadap PDB subsektor-subsektor industri seperti industri agro, Industri Logam, Mesin, Alat Transportasi, dan Elektronika (ILMATE), Industri Kimia, Farmasi, dan Tekstil (IKFT), dan Industri Kecil, Menengah, dan Aneka (IKMA).
Di industri agro misalnya, Kemenperin memproyeksikan pertumbuhan industri agro di 2026 mencapai 5,29% dengan kontribusi terhadap PDB sebesar 9,60%. Kemudian di subsektor IKFT, Kemenperin memproyeksikan pertumbuhan subsektor IKFT di angka 4,77% untuk 2026 dengan kontribusi terhadap PDB 4,10%. Untuk subsektor ILMATE, Kemenperin memproyeksikan pertumbuhan subsektor ILMATE di angka 6,62% untuk 2026 dengan kontribusi terhadap PDB 4,75%. Terakhir, untuk subsektor IKMA, Kemenperin memproyeksikan pertumbuhan subsektor IKMA di angka 4,88% untuk 2026 dengan kontribusi terhadap PDB 0,10%. (E-3)
Menteri Perindustrian Agus Gumiwang Kartasasmita memimpin rapat perdana bersama jajarannya pada awal tahun 2026 dengan agenda utama membahas program restarting bagi industri kecil.
Juru Bicara (Jubir) Kementerian Perindustrian (Kemenperin), Febri Hendri Antoni Arif menyampaikan bahwa nilai Indeks Kepercayaan Industri (IKI) pada Desember 2025 berada di angka 51,9.
Industri penunjang minyak dan gas (migas) dalam negeri semakin menunjukkan peran strategisnya.
Himpunan Kawasan Industri Indonesia (HKI) menegaskan komitmennya untuk mendukung penguatan diplomasi ekonomi Indonesia melalui kawasan industri.
Teknologi kulit, karet, dan plastik akan terus berkembang dan memerlukan tenaga pendidik yang mengikuti perkembangan inovasi.
Menteri Perindustrian (Menperin), Agus Gumiwang Kartasasmita mengungkapkan bahwa industri pengolahan nonmigas (IPNM) berhasil tumbuh hingga 5,17%.
Kontribusi IPNM terhadap PDB nasional berada pada angka 17,39% atau naik senesar 0,47% dibandingkan kuartal sebelumnya yang hanya berada pada angka 16,92%.
SURPLUS perdagangan Indonesia April 2025 tercatat hanya sebesar US$160 juta, penurunan tajam dipicu lonjakan signifikan nilai impor nonmigas,
Industri tekstil dan produk tekstil (TPT) dinilai memiliki prospek yang menjanjikan sebagaimana tecermin dari peningkatan realisasi investasi di sektor TPT.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatatkan nilai ekspor Indonesia sebesar US$23,46 miliar pada Desember 2024. Angka itu turun 2,24% dibandingkan November 2024
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved