Headline
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
YLKI mengultimatum pemerintah agar melakukan tindakan korektif yang nyata.
Kumpulan Berita DPR RI
DI tengah tren kenaikan harga minyak mentah dunia, Pertamina justru mempertahankan harga bahan bakar minyak (BBM).
Padahal, operator lain di dalam negeri, seperti Shell, Vivo, dan BP, kompak menaikkan harga produk mereka, sehingga saat ini BBM Pertamina menjadi semakin paling murah di antara seluruh operator.
Menyikapi kondisi itu, Direktur Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai tepat keputusan Pertamina tersebut.
Baca juga : Tuntaskan Tugas, Pertamina Patra Niaga Penuhi Konsumsi Energi Masyarakat Sepanjang Nataru
Tauhid juga mengatakan keputusan Pertamina sekaligus menunjukkan bahwa kondisi keuangan Badan Usaha Milik Negara (BUMN) tersebut sangat baik.
“Keputusan itu sudah tepat untuk kondisi saat ini,” kata Tauhid dalam keterangannya, hari ini.
Dengan tidak ikut-ikutan menaikkan harga, menurut Tauhid, menunjukkan peran Pertamina sebagai BUMN untuk menjaga stabilitas dan daya beli masyarakat.
Baca juga : Awali Tahun 2024, Pertamina Patra Niaga Sesuaikan Harga Pertamax Series dan Dex Series
Selain itu, jelasnya, memperlihatkan bahwa kondisi keuangan Pertamina juga sehat. Pertamina mampu mempertahankan harga meski minyak dunia saat ini terus meroket.
“Ya, untuk sementara ini kemampuan keuangan Pertamina masih kuat. Jadi, tidak ada yang perlu dirisaukan,” lanjut Tauhid.
Menurut Tauhid, Pertamina tentu memiliki perhitungan cermat. Sebab, review tiga bulanan harga BBM, memang berdasarkan rata-rata harga tertimbang.
Baca juga : Pertamina Patra Niaga Aktifkan Satgas, Jamin Kelancaran Distribusi Energi Selama Nataru
Selain itu, efisiensi di Pertamina juga bisa membuat perusahaan lebih efisien sehingga biaya produksi bisa ditekan dan menghasilkan BBM yang kompetitif.
“Harga minyak dunia fluktuasinya memang sangat cepat. Tapi misalnya tren review harga minyak dunia tiga bulanan itu naik, tidak langsung otomatis menaikkan harga di dalam negeri. Jadi, menurut saya, Pertamina juga sudah menghitung termasuk dampaknya ke fiskal kita,” jelas Tauhid.
Akhir pekan lalu, seluruh operator SPBU memang menaikkan harga BBM. Kenaikan harga tersebut antara lain dipicu tren harga minyak dunia yang terus melejit.
Baca juga : Subsidi Tepat Sasaran Elpiji, Jadi Andalan Nelayan dan Petani
Hanya Pertamina yang mempertahankan harga jual produknya. Kondisi itu menjadikan harga jual BBM Pertamina semakin paling rendah di antara operator lain.
Untuk RON 92 misalnya, Pertamax yang tetap dijual Rp12.950/liter, jauh lebih rendah dibandingkan kompetitor seperti Shell yang menjual Super Rp13.540/liter.
Begitu pula untuk RON 95, Pertamax Green tetap dijual Rp13.900/liter. Padahal, Revvo 95 dari Vivo sudah dibanderol Rp14.200/liter. Adapun Pertamax Turbo (RON 98) seharga Rp14.400/liter, juga lebih rendah ketimbang produk sejenis lain, V Power Nitro+ dari Shell, Rp14.630/liter. (RO/S-2)
Pertamina menegaskan BBM subsidi untuk nelayan terbagi dalam JBT, JBKP, dan JBU. Nelayan perlu memahami perbedaannya agar akses BBM tepat sasaran.
RDMP Balikpapan menjadi tonggak penting dalam upaya memperkuat ketahanan energi nasional.
Pada Desember 2025, KPI akan meningkatkan produksi gasoil serries menjadi sekitar 11,5 juta barrel.
Pemerintah harus mengkaji lebih mendalam bahan bakar alternatif bernama Bahan Bakar Original Buatan Indonesia Bos atau Bobibos, yang dikembangkan dari limbah pertanian.
PT Pertamina Patra Niaga menegaskan bahwa pencampuran etanol dalam bahan bakar minyak (BBM) bukanlah hal baru, melainkan standar global.
Konsumsi LPG naik 3,7% dibandingkan dengan kondisi normal, Pertalite naik 9,5%, Pertamax naik 5%, dan Pertamina Dex naik 3,1%
PT Pertamina Hulu Energi Offshore North West Java (PHE ONWJ) menunjukkan respons cepat dalam menghadapi dua situasi darurat di perairan lepas pantai Jawa Barat dalam kurun sepekan.
Moody’s Ratings menurunkan outlook 7 emiten Indonesia menjadi negatif, termasuk TLKM, ICBP, dan UNTR. Simak daftar lengkap emiten yang terdampak di sini.
Nilainya mencapai lebih dari Rp 17 triliun jika dikonversikan dalam kurs Rupiah.
Sementara kapal-kapal milik Pertamina sebagian besar telah berusia tua dan dinilai tidak efisien karena berisiko tinggi mengalami kerusakan dan kecelakaan.
Komaidi menambahkan dengan proses lebih sederhana, maka segala urusan berkaitan pengadaan atau distribusi BBM dan elpiji bisa dipenuhi lebih cepat.
Peningkatan kapasitas produksi tersebut akan memberikan dampak ganda, baik dari sisi pengurangan impor bahan bakar maupun penurunan emisi gas rumah kaca.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved