Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
Sekretaris Jenderal Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (Sekjen ESDM) Dadan Kusdiana menyampaikan Indonesia siap melakukan perdagangan emisi karbon (CO2) antar negara (cross border). Negara asing bakal diperbolehkan menyimpan karbon di perut bumi Indonesia melalui teknologi penangkapan dan penyimpanan karbon (carbon capture and storage/CCS).
Dadan menyebut rencana perdagangan emisi itu akan mendatangkan peluang bisnis dan investasi baru bagi pemerintah. Indonesia, ungkapnya, memiliki potensi penyimpanan karbon yang amat besar hingga 500 giga ton CO2.
"Misalkan CO2 dari Jepang (disimpan) ke sini, mereka pasti bayar. Ini menjadi bisnis baru dari peluang usaha CCS karena kita punya potensi yang besar," tutur Dadan dalam media gathering di Bandung, Jawa Barat, Sabtu (16/12).
Baca juga: Asosiasi Ahli Emisi Karbon Gandeng BKI dan BSN
Saat ini, lanjutnya, pemerintah tengah merampungkan peraturan presiden (perpres) penerapan CCS. Aturan itu akan memberikan kepastian hukum bagi pelaku usaha dalam mengembangkan CCS di Indonesia, termasuk mengatur perdagangan emisi karbon antar negara.
"Kita segera punya regulasi CCS. Perpres sudah diparaf (oleh Menteri ESDM) dan akan ditandatangani presiden," jelas Dadan.
Baca juga: Menko Airlangga Beberkan Strategi Transisi Energi di Indonesia
Sekjen ESDM mengatakan Indonesia telah menunjukkan keseriusan mengimplementasi teknologi ramah lingkungan tersebut. Hal ini terlihat dari langkah PT Pertamina (Persero) yang telah sukses melakukan injeksi perdana CO2 di Lapangan Pertamina EP Sukowati Bojonegoro, Jawa Timur pada Kamis, (17/12) lalu. Sebanyak 500 ton CO2 diinjeksikan ke sumur Sukowati-18 (SKW-18) selama tujuh hari.
"Yang di Sukowati itu sekarang CO2 sudah di-capture (ditangkap). Kita sudah mulai soal CCS ini dan Indonesia sudah sama seperti negara maju," kata Dadan.
Dalam kesempatan yang sama, Kepala Balai Besar Survei dan Pemetaan Geologi Kelautan Kementerian ESDM Hadi Wijaya menambahkan, di daerah Kalimantan Utara dan Kalimantan Timur terdapat potensi-potensi sumur minyak dan gas (migas) kering yang bisa dimanfaatkan untuk menyimpan banyak karbon.
"Jadi, ada beberapa lapangan migas yang cukup tua dan tereksplorasi cukup lama, itu menjadi bagian dari penentuan CCS," imbuhnya. (Z-11)
Sebagai anggota terbaru koalisi, Kementerian Kehutanan Republik Indonesia membawa keahlian kelas dunia dalam proyek karbon berbasis hutan dan solusi berbasis alam.
Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin pasar karbon global berkat hutan tropis terluas ketiga di dunia.
Sebagai Ultimate Sponsor dan Co-Host eksklusif dari KTT yang didukung pemerintah ini, Edena menunjukkan peran krusialnya dalam mengembangkan infrastruktur pasar karbon di 70 negara.
Berbagai elemen masyarakat sipil Indonesia yang turut hadir di COP30 di Belém, Brasil, terus mendesak transparansi dan keberpihakan dalam skema pembiayaan iklim global.
Indonesia menekankan pentingnya kolaborasi regional ASEAN dalam membangun pasar karbon berintegritas tinggi serta mempercepat pencapaian target emisi nol bersih (net zero).
Indonesia menyambut komitmen dukungan teknis dan pendanaan dari Inggris, termasuk peluang pengembangan pasar karbon alam, program UK PACT untuk carbon credits kehutanan.
Indonesia memiliki peluang besar menjadi pemimpin pasar karbon global berkat hutan tropis terluas ketiga di dunia.
Pemerintah Indonesia terus menunjukkan komitmennya dalam memerangi perubahan iklim terkhusus yang berkaitan dengan kontribusi perdagangan karbon.
Pemerintah Provinsi Kalsel mulai menjajaki potensi dan skema perdagangan karbon (carbon trade) sebagai salah satu sumber pendapatan daerah berbasis ekonomi hijau dan berkelanjutan.
Indonesia menegaskan komitmennya dalam memperkuat tata kelola karbon dan pembiayaan iklim berbasis hutan pada Konferensi Perubahan Iklim PBB (COP30).
Terdapat empat mekanisme utama yang diatur sejak awal, yaitu perdagangan karbon, pembayaran berbasis kinerja, pungutan karbon, dan mekanisme lainnya.
DUNIA tengah menghadapi tiga krisis besar yang saling berkaitan, krisis iklim, pencemaran lingkungan, serta hilangnya keanekaragaman hayati. Ketiga krisis tersebut dinilai sebagai ancaman
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved