Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
Pidato dari para pejabat bank sentral AS The Fed, yaitu Christoper Waller dan Michelle Bowman, menggambarkan kemungkinan masih akan ditahannya tingkat suku bunga bank sentral AS The Fed yaitu Fed Rate.
Waller membuat pidato dengan judul, Something Appears to Be Giving. Dalam pidato tersebut dia mengatakan kebijakan The Fed saat ini sudah berada di posisi yang tepat untuk memperlambat perekonomian dan mengembalikan inflasi kepada target The Fed, yaitu 2%.
"Dalam beberapa minggu terakhir, ada sesuatu yang memberikan sebuah tanda dimana hal itu terjadi, yaitu laju pertumbuhan ekonomi," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Rabu (29/11).
Data bulan Oktober menunjukkan adanya pelonggaran dalam aktivitas perekonomian. Data terbaru menunjukkan inflasi bergerak ke arah yang benar pada bulan Oktober, meski penurunan inflasi terjadi secara bertahap.
Meksipun tanda-tanda aktivitas ekonomi melambat pada kuartal IV 2023, namun inflasi masih terlalu tinggi dan masih terlalu dini untuk mengatakan apakah perlambatan ekonomi masih akan berlanjut atau tidak.
Waller semakin yakin, kebijakan yang saat ini akan mampu memperlambat perekonomian dan mengembalikan kepada target inflasi AS sebesar 2%.
"Data ekonomi yang akan muncul dalam beberapa bulan berikutnya akan menjawab apakah langkah rapat dewan gubernur bank sentral AS (FOMC) telah cukup untuk mencapai stabilitas harga," kata Nico.
Waller juga menantikan data pertumbuhan ekonomi AS kuartal III-2023, yang juga dinantikan oleh pelaku pasar dan investor. Menurutnya pertumbuhan ekonomi akan tumbuh dengan kecepatan yang tinggi.
Pertumbuhan belanja konsumen akan menyumbang sebagian besar data PDB AS nanti. Pasar tenaga kerja juga mulai mendingin. Penciptaan lapangan kerja tahun ini turun dibandingkan dengan angka tertinggi pada 2022.
Tingkat pengangguran Amerika juga telah turun menuju ke angka terendah dalam 50 tahun terakhir sebesar 3,4% pada bulan April, dan 3,9% pada bulan Oktober.
Rasio lowongan pekerjaan terhadap jumlah orang yang mencari pekerjaan juga mengalami penurunan. Pendapatan rata-rata pegawai Amerika per jam juga melambat dari sebelumnya 5% pada tahun lalu menjadi 4,1% pada bulan Oktober 2023.
"Kesimpulan sementara, pasar tenaga kerja masih akan cukup ketat, namun pasar masih akan moderat hingga inflasi AS bergerak menuju 2%," kata Nico.
Sejauh ini Waller mengatakan data inflasi AS terlihat menggembirakan meski belum cukup bukti apakah penurunan inflasi masih akan berlanjut atau tidak. Ada dua data penting yang akan muncul sebelum pertemuan The Fed pada bulan Desember 2023, yaitu inflasi dan lowongan pekerjaan untuk bulan November.
"Dari sana kita bisa mengukur apakah inflasi masih berada di jalur menuju 2% atau tidak," kata Nico.
Waller terlihat lebih optimistis, agak berbeda dengan Michelle Bowman yang mengatakan kenaikan tingkat suku bunga masih diperlukan untuk mengembalikan inflasi kepada targetnya, meksi kenaikan tingkat suku bunga berdasarkan data yang masuk.
Namun Bowman mendukung untuk kenaikan tingkat suku bunga berikutnya, apabila inflasi berada di posisi yang stagnan.
Sejauh ini para pejabat The Fed lainnya juga berpendapat lebih nyaman untuk mempertahankan tingkat suku bunga untuk saat ini pada pertemuan bulan Desember, meski data yang masuk akan tetap menjadi perhatian.
Hal ini telah membuat pelaku pasar dan investor tampaknya semakin optimistis, bahwa kenaikan tingkat suku bunga pada bulan Desember tidak akan terjadi.
Hal ini tercermin dari indeks Dow Jones yang ditutup +0,24%, S&P 500 +0,10%. Begitu juga dengan imbal hasil US Treasury tenor 10 years yang turun menjadi 4,33%.
"Peluang ditahannya tingkat suku bunga Fed Rate pada bulan Desember terlihat sangat besar. Apabila ini terjadi, kami yakin potensi kenaikan pasar saham dan obligasi semakin terlihat pada penghujung tahun 2023," kata Nico. (Try)
Prediksi harga emas Senin 23 Februari 2026 diperkirakan masih dalam tren positif. Simak faktor dolar AS, suku bunga, dan sentimen global yang memengaruhi pasar.
Inflasi Januari 2026 naik ke 3,55%. Bank Indonesia menahan BI Rate di 4,75% jelang Ramadan dan Idulfitri, seiring tekanan musiman dan nilai tukar rupiah.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
Presiden Donald Trump kembali menyuarakan dukungan atas penyelidikan terhadap Jerome Powell terkait proyek renovasi kantor Fed. Trump juga mendesak penurunan suku bunga.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 4,76%, berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09%.
PROVINSI DKI Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,63% (month to month/mtm) pada Februari 2026, berbalik dari kondisi deflasi 0,23% (mtm) pada Januari 2026.
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, berpotensi memicu dampak ekonomi global.
BPS juga menyoroti bahwa Februari 2026 bertepatan dengan momen Ramadan. Berdasarkan historis lima tahun terakhir, inflasi selalu terjadi saat Ramadan dengan besaran yang berfluktuasi.
Harga bahan pokok yang mengalami penurunan mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah, dari Rp110.000 menjadi Rp76.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah melonjak drastis dari Rp100.000 menjadi Rp140.000 per kilogram. Selain karena permintaan, faktor cuaca juga berpengaruh besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved