Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
TIONGKOK kembali mengalami deflasi pada Oktober. Data menunjukkan itu pada Kamis (9/11). Ini menyoroti upaya para pejabat dalam menghidupkan kembali permintaan yang masih lesu di negara dengan perekonomian terbesar kedua di dunia tersebut.
Angka-angka tersebut muncul setelah angka-angka pada awal minggu ini menunjukkan peningkatan impor yang melampaui perkiraan. Ini mengangkat harapan bahwa sejumlah besar konsumen di negara tersebut mulai bangkit.
Indeks harga konsumen, ukuran utama inflasi, turun 0,2% dalam setahun, menurut Biro Statistik Nasional (National Bureau of Statistics/NBS). Angka yang diperoleh pada Kamis ini dua kali lebih besar dari perkiraan survei Bloomberg dan menandai kembalinya deflasi, setelah sedikit pulih pada September dan Agustus dari penurunan sebesar 0,3% pada bulan Juli.
Baca juga: Gairahkan Pasar Keuangan, Anak Jerman akan Diberi Uang untuk Investasi
Pejabat NBS Dong Lijuan mengatakan dalam suatu pernyataan bahwa penurunan tersebut terkait dengan penurunan permintaan konsumen setelah liburan pertengahan musim gugur serta faktor-faktor lain termasuk tingginya pasokan produk pertanian. Meskipun deflasi menunjukkan harga barang-barang menjadi lebih murah, hal ini menimbulkan ancaman bagi perekonomian yang lebih luas karena konsumen cenderung menunda pembelian dengan harapan terjadi penurunan harga lebih lanjut.
Kurangnya permintaan kemudian dapat memaksa perusahaan untuk memangkas produksi, membekukan perekrutan atau memberhentikan pekerja, dan menyetujui diskon baru untuk menjual saham mereka. Ini mengurangi profitabilitas meskipun biaya tetap sama.
Baca juga: Minyak Merosot di Bawah US$80 Perdana sejak Juli
Harga makanan, tembakau, dan alkohol mencatat penurunan terbesar di Oktober. NBS mengatakan harga daging babi khususnya anjlok 30,1%.
Tiongkok mengalami deflasi dalam waktu singkat pada akhir 2020 dan awal 2021. Sebagian besar ini disebabkanjatuhnya harga daging babi, daging yang paling banyak dikonsumsi di negara tersebut. Sebelumnya, periode deflasi terakhir terjadi pada 2009.
NBS juga mengatakan harga produsen merosot selama 13 bulan berturut-turut, anjlok 2,6. Ini lebih rendah dibandingkan perkiraan survei Bloomberg sebesar 2,7%. Ini menunjukkan pelemahan lebih lanjut di masa mendatang.
Data pada Senin menunjukkan impor mengalami kenaikan yang mengejutkan di Oktober. Hal itu berlawanan dengan perkiraan penurunan dan pertumbuhan bulan pertama dalam setahun sejak akhir tahun lalu. Peningkatan impor bisa menjadi sinyal bahwa permintaan domestik di Tiongkok mulai pulih dari pelemahan selama berbulan-bulan. Data terbaru kemungkinan akan memberi tekanan pada pihak berwenang untuk menargetkan permintaan konsumen dengan stimulus baru.
Zhiwei Zhang, kepala ekonom di Pinpoint Asset Management, mengatakan data menunjukkan bahwa permintaan domestik masih lesu. Namun dia menunjuk pada tanda-tanda bahwa Beijing meningkatkan dukungan terhadap perekonomian yang sedang lesu.
"Dengan meningkatnya defisit anggaran dan pengembang properti mendapatkan dukungan dari pemerintah, permintaan domestik kemungkinan akan meningkat tahun depan," kata Zhang. Pemerintah telah bereaksi dalam beberapa bulan terakhir dengan meluncurkan serangkaian langkah, khususnya yang ditujukan pada sektor properti, dan mengumumkan rencana belanja infrastruktur yang besar. (AFP/Z-2)
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 4,76%, berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09%.
Berdasarkan data 10 komoditas dengan andil inflasi dan deflasi terbesar secara bulanan, cabai merah mencatat andil deflasi terbesar sebesar -0,31 persen, disusul cabai rawit -0,07 persen.
Kota Padang mengalami deflasi (penurunan harga barang) pada bulan Januari 2026.
Di Purwokerto, penurunan harga terjadi pada daging ayam ras, cabai merah, cabai rawit, bawang merah, dan telur ayam ras.
Komoditas yang memberikan andil deflasi yaitu cabai merah sebesar 0,10 persen, cabai rawit, daging ayam ras, dan bawang merah masing-masing sebesar 0,06 persen.
BADAN Pusat Statistik Daerah Istimewa Yogyakarta mencatat pada Januari 2026 ini, inflasi bulan ke bulan di provinsi ini sebesar -0,16% atau mengalami deflasi 0,16%.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 4,76%, berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09%.
PROVINSI DKI Jakarta mencatat inflasi sebesar 0,63% (month to month/mtm) pada Februari 2026, berbalik dari kondisi deflasi 0,23% (mtm) pada Januari 2026.
KETEGANGAN geopolitik di Timur Tengah, khususnya yang melibatkan Iran, berpotensi memicu dampak ekonomi global.
BPS juga menyoroti bahwa Februari 2026 bertepatan dengan momen Ramadan. Berdasarkan historis lima tahun terakhir, inflasi selalu terjadi saat Ramadan dengan besaran yang berfluktuasi.
Harga bahan pokok yang mengalami penurunan mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah, dari Rp110.000 menjadi Rp76.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah melonjak drastis dari Rp100.000 menjadi Rp140.000 per kilogram. Selain karena permintaan, faktor cuaca juga berpengaruh besar.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved