Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
MINYAK mentah Brent turun di bawah US$80 per barel untuk pertama kali sejak Juli pada Rabu (8/11). Di sisi lain, pasar saham melemah. Ini karena kekhawatiran terhadap prospek ekonomi yang menghantui investor.
Minyak mentah Brent, kontrak internasional utama, turun lebih dari dua persen hingga mencapai US$79,54, di tengah kekhawatiran terhadap permintaan global. Kontrak utama AS, WTI, merosot hingga US$75,33 per barel juga mencapai level terendah sejak Juli.
"Penurunan ini terjadi karena ekspektasi ekonomi yang lebih lemah terus membebani prospek tersebut," kata analis pasar Craig Erlam di OANDA. Harga minyak mentah telah anjlok sekitar empat persen pada hari sebelumnya di tengah berita bahwa ekspor Tiongkok turun lebih cepat dari perkiraan pada Oktober. Hal ini memicu kekhawatiran baru mengenai selera energi.
Baca juga: Penerbit Surat Kabar Inggris akan PHK 450 Pekerja
"Fokusnya jelas bergeser dari kekurangan pasokan ke lemahnya permintaan dan bank sentral berkeras bahwa suku bunga harus tetap tinggi dapat memperburuk hal tersebut,” tambah Erlam. Penurunan harga minyak memberikan dukungan pada saham-saham, tetapi masih mengalami kesulitan.
Indeks utama Wall Street mengakhiri hari tanpa pergerakan besar. Dow turun tipis 0,1% dan S&P 500 dan Nasdaq keduanya naik 0,1%.
Baca juga: Kawasan Bisnis Paris Cari Kampus akibat Karyawan Bekerja di Rumah
"Pasar mengalami kenaikan yang signifikan minggu lalu. Ini minggu untuk kami mencari katalis baru dalam membangun keuntungan tersebut atau menelusuri kembali sebagian dari keuntungan tersebut dan kami sebenarnya tidak mengalami keduanya," kata Art Hogan dari B Riley Wealth Management.
Meskipun harga energi yang lebih rendah dan penurunan imbal hasil merupakan perkembangan positif, tambahnya, keduanya tidak cukup menjadi katalis untuk menggerakkan pasar secara signifikan. Saham-saham Wall Street melonjak pekan lalu setelah bank sentral AS mengisyaratkan tidak ada lagi penaikan suku bunga dan data menunjukkan perekonomian berada di jalur perlambatan tetapi tidak mengalami kontraksi.
Namun para pedagang tetap mengkhawatirkan prospek pertumbuhan, termasuk di Amerika Serikat. Pasalnya, penurunan harga pasar bisa menjadi pedang bermata dua.
Meskipun biaya pinjaman yang lebih rendah seharusnya menjadi dorongan bagi bisnis, Patrick O'Hare dari Briefing.com mengatakan beberapa investor tampaknya khawatir penurunan suku bunga pasar lebih merupakan indikasi menurunnya prospek bisnis. "Keterputusan ini mungkin membantu menjelaskan beberapa gejolak yang terjadi saat ini, karena para pelaku pasar berjuang untuk melakukan rekonsiliasi jika suku bunga diturunkan sepenuhnya karena alasan yang tepat," kata O'Hare.
Di Eropa, London mengakhiri hari dengan sedikit lebih rendah, tertahan oleh saham sumber daya alam dan energi. Frankfurt dan Paris ditutup dengan sedikit kenaikan. Pasar saham Asia berakhir beragam. (AFP/Z-2)
PEMERINTAH tak menutup peluang penambahan kuota subsidi Bahan Bakar Minyak (BBM) di tengah gejolak harga minyak mentah dunia.
Peluang pemerintah menaikan harga Bahan Bakar Minyak (BBM) atau mengurangi kuota subsidi bensin dinilai terbuka lebar.
Dampak eskalasi konflik Israel-Iran dikhawatirkan memicu adanya guncangan pasokan atau supply shock minyak mentah dunia.
PENGAMAT energi dari Universitas Trisakti Pri Agung Rahmanto meramalkan harga minyak mentah dunia bisa kembali menembus US$100 per barel pascaserangan Iran ke Israel.
Prediksi dari Analisis Deu Calion Futures (DCFX) Andrew Fischer, pergerakan harga minyak masih mencerminkan potensi kenaikan yang signifikan.
HARGA minyak mentah Indonesia atau Indonesian crude price (ICP) Januari 2024 meningkat dibandingkan bulan sebelumnya Desember 2023 sebesar US$1,61 per barel menjadi US$77,12 per barel.
Harga minyak Brent dan WTI jatuh hampir 3% setelah pernyataan Donald Trump terkait situasi di Iran meredakan kekhawatiran pasar akan gangguan pasokan global.
Pemerintah Indonesia menegaskan tidak akan mencampuri konflik politik antara Amerika Serikat dan Venezuela. Mensesneg Prasetyo Hadi menyebut pemerintah fokus pada urusan dalam negeri.
PRAKTISI minyak dan gas (migas) Hadi Ismoyo menilai konflik AS-Venezuela tidak akan mengubah jalur perdagangan minyak dunia maupun mendorong kenaikan harga minyak global.
Pemerintah Indonesia memastikan konflik AS dan Venezuela belum berdampak pada ekonomi domestik. Harga minyak dunia terpantau stabil di US$63 per barel.
Seigle memprediksi tren jangka menengah tetap menuju moderasi harga minyak.
Meski ketegangan di Timur Tengah belum mereda, harga minyak dunia belum pernah mencapai di atas US$75 per barel dalam beberapa bulan terakhir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved