Headline
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Pemerintah menyebut suplai minyak dari Amerika akan meningkat.
Kumpulan Berita DPR RI
SELAIN pertemuan The Fed pada Rabu (1/11) waktu setempat, perhatian pasar tertuju pada sejauh mana Menteri Keuangan Amerika Serikat Janet Yellen akan meningkatkan pinjaman melalui utang jangka panjang untuk menutup defisit anggaran AS yang semakin lebar.
"Sebanyak 2 dari 3 lembaga pemeringkat juga sudah menurunkan rating Amerika, yang disebabkan oleh dinamika politik yang dianggap terlalu berbahaya bagi keberlangsungan Amerika," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Selasa (31/10).
Hal ini memberi risiko tambahan bagi Yellen untuk memberikan imbal hasil surat utang AS yang lebih tinggi, karena adanya penambahan risiko bagi perekonomian Amerika.
Baca juga : The Fed Beri Sinyal Tahan Suku Bunga
Belum lagi aksi jual yang terjadi belakang ini, telah mendorong imbal hasil obligasi AS US Treasury memiliki alasan untuk naik lebih tinggi melebihi masa masa ketika terjadinya krisis keuangan.
"Sejauh ini Kementerian Keuangan AS juga menunjukkan defisit anggaran yang kira kira 2x lipat lebih besar apabila dibandingkan dengan tahun sebelumnya, yang secara efektif mencapai US$2,02 triliun," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus, Selasa (31/10).
Baca juga : Ekonomi Dunia sedang Tidak Baik-Baik Saja
Sementara itu, Bank Sentral Jepang akan melakukan pembahasan, bahwa imbal hasil Japan Goverment Bond 10y akan dibiarkan untuk melewati batas 1%. Hal ini mencuri perhatian pelaku pasar dan investor.
Sebab Bank Sentral Jepang selalu terkenal dengan Yield Curve Controlnya, yang memang diperuntukkan untuk menjaga imbal hasil untuk tetap rendah. Ada
kemungkinan Bank Sentral Jepang akan memberikan fleksibilitas terhadap pergerakan imbal hasil untuk sementara waktu naik di atas 1%, dengan asumsi tingkat suku bunga Bank Sentral Jepang tidak berubah.
"Kabar baik bagi mata uang Yen, yang selama ini mengalami depresi terhadap Dollar, menjadi menguat hingga 149 Yen per dolar untuk pertama kalinya dalam waktu 2 minggu terakhir," kata Nico.
Sebelumnya, Bank Sentral Jepang menjaga imbal hasil Japan Government Bond untuk berada di kisaran 0,5%, dengan titik maksimal 1%. Meski demikian, Kazuo Ueda sebetulnya disarankan agar imbal hasil Japan Government Bond untuk tidak mencapai 1%. Namun kenyataannya imbal hasil 10y berhasil menyentuh 0,89% kemarin, dan merupakan tertinggi sejak Juli 2013.
Saat ini situasi dan kondisi yang ada, mulai dari kenaikan imbal hasil, pelemahan Yen, hingga inflasi yang berkelanjutan menjadi sebuah perhatian bagi Bank Sentral Jepang. Mereka tampaknya akan melakukan beberapa penyesuaian terhadap Yield Curve Control pada pertemuan pekan ini.
Kenaikan imbal hasil akan mempengaruhi Yen, karena sejauh ini setiap putaran pembelian obligasi Japan Government Bond merupakan salah satu langkah untuk menjaga pelonggaran kebijakan moneter namun terukur.
Community Lead IPOT, Angga Septianus mengatakan dari sentimen eksternal dan internal pada minggu ini yang wajib pula dicermati yakni dari Amerika Serikat ada S&P Global Manufacturing PMI dengan konsensus 50 yang didukung consumer spending dan pasar tenaga kerja yang kuat.
"Ada pula suku bunga The Fed yang diprediksi tetap di 5,5% dan unemployment rate yang diprediksi akan tetap di 3,8% sama seperti pada September lalu," kata Angga.
Adapun sentimendari dalam negeri yakni ekspektasi pertumbuhan ekonomi (PDB) yang positif didukung output dari pertambangan, manufaktur, ritel dan transportasi yang meningkat, tingkat inflasi Oktober yang diprediksi meningkat ke 2,6% setelah turun drastis pada September di 2,28% dibandingkan 3,27% di Agustus.
"Inflasi disebabkan oleh kenaikan harga makanan, minuman, dan tembakau terutama beras, gula pasir, dan cabai," kata Angga. (Z-4)
Konflik yang semakin memanas antara Iran, Israel, dan Amerika Serikat tidak hanya menjadi isu politik, tetapi telah memasuki ranah ekonomi global.
Harga emas dunia diperkirakan menguat moderat pada Kamis (26/2) didorong sentimen safe haven dan ketidakpastian global, dengan support di kisaran 5.180–5.200 dolar AS per troy ounce.
Simak prediksi harga emas Antam Rabu 25 Februari 2026. Waspada potensi koreksi harga usai pecah rekor Rp3,06 juta akibat aksi ambil untung di pasar global.
Prediksi harga emas Senin 23 Februari 2026 diperkirakan masih dalam tren positif. Simak faktor dolar AS, suku bunga, dan sentimen global yang memengaruhi pasar.
Harga emas dunia diperkirakan bergerak di kisaran US$4.800–US$5.100 per troy ounce. Emas Antam diproyeksikan Rp3,0–Rp3,2 juta per gram.
Prediksi harga emas Sabtu 14 Februari 2026 diperkirakan stabil hingga menguat terbatas, dipengaruhi harga emas dunia dan nilai tukar rupiah.
Presiden AS Donald Trump menyebut operasi militer terhadap Iran bisa berlangsung hingga empat minggu dan memperingatkan kemungkinan korban tambahan.
Kanselir Jerman Friedrich Merz menyatakan setuju dengan AS soal program nuklir Iran, namun peringatkan risiko eskalasi konflik di Timur Tengah.
Pengamat militer Khairul Fahmi menilai kehadiran Indonesia di Board of Peace dan rencana 8.000 TNI ke Gaza krusial cegah dominasi politik Israel.
Sejumlah negara Eropa dilaporkan bahas pengembangan penangkal nuklir pertama sejak Perang Dingin, respons ancaman Rusia dan dinamika NATO.
Anggaran pertahanan APBN 2026 mencapai Rp337 triliun. Pengamat menilai belanja alutsista harus memperkuat industri pertahanan nasional, bukan sekadar impor senjata.
LEMBAGA think tank GIF menilai kebijakan luar negeri Amerika Serikat (AS) menunjukkan kecenderungan yang semakin agresif dan koersif dalam merespons dinamika geopolitik global.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved