Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK Indonesia memperkirakan The Federal Reserve (The Fed) akan kembali menaikan suku bunga acuannya pada November mendatang. Itu bakal mendorong ketidakpastian pasar keuangan global makin tinggi dan berlangsung lebih lama.
"Fed Fund Rate (FFR) dari bacaan kami kemungkinan akan naik sekali lagi, yaitu di awal November. Itu probabilitasnya, akan ada kenaikan terakhir di awal November," ujar Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo dalam konferensi pers, Jakarta, Kamis (21/9).
Kemungkinan tersebut bakal mendorong tingkat suku bunga acuan yang tinggi lebih lama (higher for longer) hingga triwulan I 2024. Akibatnya muncul potensi peningkatan ketidakpastian di pasar keuangan global.
Baca juga: The Fed Pertahankan Tingkat Suku Bunga, Kenaikan Diperkirakan November
Indikasi tersebut juga terlihat dari menguatnya mata uang dolar Amerika Serikat terhadap mata uang negara lain. Dari catatan BI, indeks dolar AS (DXY) terus menguat ke level 105,4. Sejumlah kalangan bahkan memprediksi itu bisa menembus 106.
"Artinya memang ketidakpastian pasar keuangan global yang meningkat, FFR yang kemungkinan akan naik di AS, ekonomi AS yang strong, inflasi turun tapi lambat sekali, dan dollar AS sangat kuat. Sementara Eropa, kemungkinan akan di-hold suku bunganya, meski inflasi belum turun, tapi ekonomi mereka melambat," jelas Perry.
Baca juga: The Fed Dinilai akan Hentikan Penaikan Suku Bunga
Ketidakpastian yang meninggi di pasar keuangan global juga diikuti dengan perlambatan ekonomi Tiongkok. Itu membuat tingkat ketidakpastian ekonomi global kian meningkat. Negeri Tirai Bambu diketahui saat ini tengah mengalami perlambatan ekonomi.
Itu dikarenakan kinerja ekspor Tiongkok melambat akibat melemahnya permintaan dunia. Perlambatan juga disebabkan perang dagang yang terjadi dengan AS. Kinerja ekonomi domestik Tiongkok juga melambat seiring menurunnya tingkat keyakinan konsumen di Negeri Tirai Bambu.
Belum lagi sektor properti di Tiongkok masih terseok-seok.
"Saat sebelum covid, terjadi property boom di Tiongkok, ekspansif dan kemudian covid, dan sekarang belum pulih. Itu yang menjadi isu di properti," terang Perry.
"Itu menyebabkan rambatan ke negara lain, juga kenapa ekspor kita yang tidak sekuat sebelumnya, karena dampak pelemahan ekonomi Tiongkok," tambahnya. (Mir/Z-7)
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
Presiden Donald Trump kembali menyuarakan dukungan atas penyelidikan terhadap Jerome Powell terkait proyek renovasi kantor Fed. Trump juga mendesak penurunan suku bunga.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Managing Director, Chief India Economist and Macro Strategist, Asean Economist HSBC Pranjul Bhandari menyebut masih ada kemungkinan Bank Indonesia terus memangkas suku bunga.
Update pasar saham properti 9 Januari 2026. Saham DILD dan ASRI catatkan kenaikan signifikan di tengah sentimen IKN dan suku bunga, sementara APLN bergerak moderat.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Nilai tukar rupiah ditutup melemah 42 poin ke Rp16.828 per dolar AS. Penguatan dolar dan naiknya probabilitas The Fed menahan suku bunga pada Maret 2026 menekan pergerakan rupiah.
HARGA bitcoin kembali mengalami pelemahan di bawah US$90.000 setelah Federal Reserve (The Fed) memutuskan untuk menahan suku bunga acuan di kisaran 3,50%-3,75%.
HARGA emas hari ini dan perak terus mencatatkan rekor kenaikan pada Kamis (29/1) akibat pembelian aset aman di tengah ketegangan geopolitik dan ekonomi, serta setelah kebijakan The Fed AS.
Federal Reserve (The Fed) hampir dipastikan akan mempertahankan suku bunga acuannya dalam keputusan kebijakan terbaru yang dijadwalkan diumumkan pada Rabu (28/1) sore waktu setempat
Memahami dinamika harga emas tidak hanya sekadar melihat grafik harian.
Selain faktor suku bunga, Deni menilai bahwa kondisi neraca pembayaran pemerintah juga turut memberikan tekanan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved