Headline
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
SERANGAN brutal dan mematikan dari Israel-Amerika Serikat (AS) ke Iran pada Sabtu (28/2) lalu membuat dunia terhenyak.
Kumpulan Berita DPR RI
BANK sentral Selandia Baru mempertahankan suku bunga utamanya pada Rabu (12/7). Pihaknya memperkirakan inflasi akan turun lebih lanjut dalam beberapa bulan mendatang.
Keputusan untuk mempertahankan suku bunga resmi sebesar 5,5% muncul setelah angka pemerintah pada Juni menunjukkan ekonomi telah mengarah ke resesi. Reserve Bank of New Zealand mengatakan suku bunga menghambat pengeluaran dan tekanan inflasi seperti yang diantisipasi dan diperlukan.
Pembekuan itu akan melegakan pemegang hipotek negara itu yang telah melihat pembayaran bulanan mereka meningkat pesat selama setahun terakhir. Suku bunga perlu, "Tetap pada tingkat yang terbatas di masa mendatang," untuk mengembalikan inflasi ke target 1%-3%, bank menambahkan.
Baca juga: Pengangguran Inggris Naik karena Inflasi Bebani Ekonomi
Bank-bank sentral di seluruh dunia terpaksa menaikkan suku bunga selama lebih dari setahun karena mereka mencoba mengendalikan inflasi. Inflasi melonjak ketika ekonomi dibuka kembali dari penguncian covid-19 dan invasi Rusia ke Ukraina.
Langkah itu memberi dorongan kecil pada saham. Indeks patokan NZX50 naik tipis beberapa menit setelah pengumuman. Bahkan dolar lokal melakukan pemulihan yang sangat kecil terhadap dolar AS.
Baca juga: Foxconn Cabut dari Kesepakatan US$19,4 Miliar Bikin Semikonduktor di India
Pembuat kebijakan menaikkan suku bunga untuk membuat pinjaman lebih mahal, mengurangi daya beli dan permintaan konsumen dan bisnis, yang biasanya menekan harga turun. Angka pemerintah baru-baru ini menunjukkan inflasi duduk di 6,7% pada Januari-Maret dan angka kuartal kedua akan keluar minggu depan, setelah mencapai puncak 7,3% tahun lalu. (AFP/Z-2)
Harga bahan pokok yang mengalami penurunan mencolok terjadi pada komoditas cabai rawit merah, dari Rp110.000 menjadi Rp76.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah melonjak drastis dari Rp100.000 menjadi Rp140.000 per kilogram. Selain karena permintaan, faktor cuaca juga berpengaruh besar.
Cuaca buruk yang terjadi beberapa bulan terakhir cukup memengaruhi produksi yang berdampak berkurangnya pasokan. Di sisi lain, permintaan masyarakat cenderung meningkat.
Berdasarkan pantauan di Pasar Gedhe Klaten pada Minggu (22/2), harga cabai rawit merah di tingkat pedagang eceran telah mencapai Rp110.000 per kilogram.
Cabai besar keriting dijual seharga Rp70.000 per kilogram dari harga sebelumnya yang hanya Rp45.000 per kilogram.
Harga cabai rawit merah di Pasar Induk Kramat Jati hari ini (21/2) turun jadi Rp55.000/kg usai diguyur pasokan Kementan. Cek detail harganya di sini.
Sejumlah ekonom memperkirakan Bank Indonesia akan mempertahankan BI-Rate di level 4,75% bulan ini menjelang pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) BI.
IHSG Bursa Efek Indonesia pada perdagangan Kamis, 19 Februari 2026, dibuka menguat seiring harapan pelaku pasar bahwa Bank Indonesia akan mempertahankan suku bunga acuannya.
Ekonom LPPI Ryan Kiryanto memperkirakan Bank Indonesia mempertahankan BI Rate 4,75% di tengah inflasi di atas 3% dan pelemahan rupiah ke Rp16.884 per dolar AS.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
Sejumlah ekonom memproyeksikan Bank Indonesia akan mempertahankan BI Rate di level 4,75% pada pengumuman hasil Rapat Dewan Gubernur (RDG) Januari 2026, Rabu (21/1) siang ini.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved