Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
KEBIJAKAN swasembada dalam produksi beberapa komoditas pangan utama dinilai semakin tidak relevan untuk ketahanan pangan. Itu juga dianggap tidak akan dapat menjamin keterjangkauan pangan maupun mendorong diversifikasi pangan seperti yang diharapkan pemerintah.
"Banyak faktor dalam produksi dan distribusi pangan domestik yang kurang efisien dan membuat harga pangan menjadi tinggi. Pencapaian ketahanan pangan melalui swasembada menjadi tidak ideal karena mempertimbangkan banyak, misalnya saja dampak perubahan iklim dan cuaca yang semakin menantang untuk produksi pangan, sementara modernisasi pertanian di Indonesia masih berjalan lambat," ujar Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Azizah Fauzi melalui siaran pers, Kamis (22/6).
Selama masa swasembada beras, imbuhnya, produksi beras Indonesia memang berlebih berkat intensifikasi dan perluasan lahan. Namun itu dicapai dengan upaya panjang dan pembiayaan besar. Penekanan pada kuantitas juga mengakibatkan rendahnya kualitas beras.
Baca juga : Presiden: Diversifikasi Pangan Harus Dilakukan
Untuk mencapai ketahanan pangan, ketersediaan pangan yang terjangkau juga dapat dicapai dengan kombinasi produksi domestik dan impor atau dengan meningkatkan pendapatan rakyat untuk mendorong daya beli.
Impor pangan dapat dilakukan untuk memenuhi kekurangan pasokan antar masa panen atau ketika harga juga meningkat. Kebijakan perdagangan terbuka untuk pangan dengan demikian akan memungkinkan masyarakat memiliki akses kepada pangan bergizi dengan harga terjangkau.
Penelitian CIPS menemukan, kesenjangan produktivitas antar wilayah juga belum mampu diatasi. Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan produktivitas padi yang dihasilkan di Pulau Jawa lebih tinggi 23% dari produktivitas padi di luar Jawa.
Baca juga : Mentan: Diversifikasi Pangan Strategi Ketahanan Pangan di Pandemi
Rata-rata produktivitas petani padi pada 2019 di luar Jawa hanya mencapai 45,78 kuintal GKG per hektare, lebih rendah dari produktivitas petani padi di Pulau Jawa yang sebesar 56,42 kuintal GKG per hektare.
Akibatnya, walaupun luas panen padi di luar Jawa berkontribusi pada sekitar 50% dari total luas panen padi nasional yang mencapai 10,68 juta hektare di 2019, kontribusi petani luar Jawa terhadap produksi padi nasional hanya sebesar 44%.
Kesenjangan produktivitas antara Jawa dan luar Jawa cenderung konsisten selama dua dekade terakhir. Dampaknya terhadap peningkatan produksi padi nasional akan sangat signifikan kalau kesenjangan ini diatasi.
Baca juga : Bioteknologi, Dorong Kesejahteraan Petani untuk Perkuat Ketahanan Pangan Nasional
Kesenjangan produktivitas pada beberapa komoditas itu hanya contoh, potensi peningkatan produktivitas dari luar Jawa dapat dipacu lewat penggunaan pupuk dan benih unggul, mekanisasi pertanian, dan juga peningkatan akses dan perbaikan jaringan irigasi.
Biaya produksi bahan pangan utama lebih tinggi daripada di beberapa negara pengekspor komoditas yang sama, terutama karena mekanisme produksi dan sistem distribusi yang kurang efisien di Indonesia.
Azizah mengatakan, tingginya ongkos produksi dapat diatasi melalui investasi pertanian yang berkelanjutan, yang dapat mendorong modernisasi dan transfer teknologi.
Baca juga : Wamentan Harvick Harap Indonesia Berkontribusi bagi Ketahanan Pangan Global
"Sistem pangan Indonesia masih dihadapkan pada berbagai masalah, seperti tingginya ongkos produksi, belum efisiennya proses produksi dan panjangnya rantai distribusi, dan kesemuanya berdampak pada harga," ujarnya.
Menurutnya, swasembada pangan yang selama ini menjadi fokus pemerintah bukan hal yang mudah dicapai, terutama mengingat banyaknya faktor pada sektor pertanian Indonesia yang tidak mendukung tujuan tersebut.
Kebijakan swasembada pangan juga akan menghambat dorongan untuk mengonsumsi pangan yang beragam, yang sebenarnya juga merupakan salah satu jalan keluar untuk mengurangi ketergantungan masyarakat terhadap satu komoditas tertentu dan meningkatkan kecukupan nutrisi masyarakat. (Z-5)
Petrokimia Gresik Bangun Tangki Asam Sulfat 40 Ribu Ton untuk Perkuat Produksi Pupuk NPK
Peneliti ciptakan alat 'Stomata In-Sight' untuk mengamati pori-pori daun saat bernapas. Teknologi ini diharapkan mampu menciptakan tanaman yang lebih hemat air.
PEMERINTAH Kabupaten Pati secara resmi menandatangani Nota Kesepahaman (MoU) hibah tanah seluas 5,2 hektare kepada Perum Bulog.
Keberhasilan program MBG sangat ditentukan sinergi lintas sektor, mulai dari pemerintah, dunia usaha, legislatif, hingga akademisi.
Pemkab Sumedang membantu penyediaan alat dan mesin pertanian (alsintan), benih dan perbaikan irigasi.
Studi terbaru mengungkap fenomena sinkronisasi krisis air global akibat siklus El Niño-La Niña. Bagaimana dampaknya terhadap ketersediaan pangan dunia?
Studi terbaru mengungkap masa depan budidaya alpukat di India. Meski permintaan tinggi, perubahan iklim dan emisi karbon mengancam keberlanjutan panen.
Perdana Menteri Kanada Mark Carney bertemu Presiden Xi Jinping di Beijing. Kunjungan pertama dalam 8 tahun ini menjadi titik balik hubungan kedua negara.
Kalau kita kelompokkan petani pangan, persentase petani yang di atas 55 tahun jauh lebih besar.
Menlu RI Sugiono menegaskan komitmen Indonesia-Turki memperkuat kerja sama industri, produk halal, dan pertanian saat bertemu Presiden Erdogan di Istanbul.
Di sektor pertanian, penerapan pertanian organik dan sistem pertanian yang berkelanjutan menjadi pilihan utama.
Di bawah kepemimpinan Addin, GP Ansor bahu membahu menggerakkan aktivitas pangan melalui Banser Patriot Ketahanan Pangan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved