Headline
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.
Kumpulan Berita DPR RI
BELUM reda terkait dengan sektor perbankan yang didera dengan berita kurang baik, Bank Sentral AS The Fed kembali menyampaikan fokus dan tujuan untuk tidak berhenti menaikkan tingkat suku bunga, sekalipun volatilitas tengah tinggi.
"Ini membuat kekhawatiran kembali menyelimuti pelaku pasar dan investor, di tengah tekanan yang kembali muncul akibat kenaikkan credit default swap (CDS) dari Deutsche Bank," kata Associate Director of Research and Investment Maximilianus Nico Demus, Senin (27/3).
Sejumlah pembuat kebijakan The Fed yakin bahwa setiap tindakan yang akan diambil, adalah untuk mendukung sistem keuangan khususnya mengendalikan inflasi, meski ada rasa khawatir tekanan akan kembali terjadi.
Baca juga: Di Tangan Elon Musk, Valuasi Twitter Terjun Bebas
Baca juga: Jadikan ASEAN Pusat Pertumbuhan Dunia
James Bullard, Presiden Fed St. Louis mengatakan tingkat suku bunga akan naik dengan titik tertinggi 5,625% pada tahun 2023, atau 50 bps lebih tinggi dari yang disampaikan oleh pejabat lainnya.
Sebab permintaan tidak turun, dan inflasi tetap tinggi. Ini alasan yang cukup untuk menaikkan kembali tingkat suku bunga.
Begitupun dengan Kepala Fed Atlanta Raphael Bostik mengatakan gejolak di sektor perbankan memang terjadi, namun kebijakan moneter yang ada saat ini harus tetap fokus kepada penurunan inflasi.
Menurut mereka, kebijakan makro prudential yang tepat secara berkelanjutan akan mampu menahan tekanan di sektor keuangan, sementara kebijakan moneter yang tepat akan mampu menekan inflasi.
"Saat ini para pejabat The Fed terlihat titik tertinggi akan berada di rentang 5,625% - 5,875%," kata Nico.
Terkait dengan gejolak yang terjadi di pasar keuangan, para pejabat The Fed mengatakan 80% gejolak akan mereda dalam beberapa minggu dan bulan mendatang.
Bostic mengatakan kenaikkan tingkat suku bunga sebanyak 25 bps, bukan hal yang mudah.
"Kami menyakini perbankan yang ada sudah tangguh dan kuat, sehingga itu yang membuat The Fed menaikkan tingkat suku bunga kemarin sebanyak 25 bps," kata Nico.
Gubernur Bank Sentral AS The Fed Jerome Powell mengatakan The Fed akan tetap menaikkan tingkat suku bunga lebih tinggi, lebih besar, dan lebih lama daripada yang diharapkan untuk mengendalikan Inflasi.
Namun Powell juga menyadari bila kenaikan tingkat suku bunga terlalu tinggi, akan memicu penurunan pinjaman akibat adanya gejolak di sektor perbankan.
Tampaknya bagi The Fed, mereka yakin perekonomian yang ada saat ini sudah jauh lebih kuat untuk menahan tingkat suku bunga, sekalipun ada gejolak di sektor perbankan.
The Fed katakan, bahwa perekonomian Amerika sudah jauh lebih kuat dan tangguh untuk menghadapi ketidakpastian yang ada di pasar.
Sebetulnya yang mengkhawatirkan dari situasi dengan pemberitaan yang buruk bukan penanganannya, melainkan persepsi dan ekspektasi pelaku pasar dan investor terhadap kekuatan dan keyakinan fundamental ekonomi dalam menghadapi tekanan.
"Pertanyaannya sederhana, mampukah The Fed mengubah persepsi dan ekspektasi pelaku pasar dan investor yang cenderung negatif setidaknya untuk saat ini," kata Nico. (H-2)
PT Bank Negara Indonesia (BNI) dinilai berada pada posisi yang lebih siap memasuki 2026 dibandingkan bank-bank besar lainnya.
Menurut Pramono, pencatatan saham Bank Jakarta di BEI tidak hanya akan meningkatkan kepercayaan publik, tetapi juga mendorong profesionalisme perusahaan.
MENTERI Keuangan Purbaya Yudhi Sadewa mengaku telah menarik dana pemerintah sebesar Rp75 triliun dari total penempatan Rp276 triliun Saldo Anggaran Lebih (SAL) di sistem perbankan.
MANTAN Kepala PPATK Yunus Husein menilai pemajangan uang tunai hasil rampasan kasus korupsi dan sitaan negara oleh aparat penegak hukum tidak diperlukan dan cenderung tidak efisien.
PERUBAHAN status Bank Syariah Indonesia (BSI) menjadi persero dinilai memperkuat posisi bank tersebut, terutama dari sisi kredibilitas dan persepsi keamanan.
Bank Indonesia (BI) menyebut penurunan suku bunga kredit perbankan cenderung lebih lambat. Karena itu, BI memandang penurunan suku bunga kredit perbankan perlu terus didorong.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved