Selasa 08 November 2022, 13:13 WIB

CEO Black Boulder Capital Prediksi Rupiah Bakal Melemah Tahun 2023

mediaindonesia.com | Ekonomi
CEO Black Boulder Capital Prediksi Rupiah Bakal Melemah Tahun 2023

Ist
CEO Black Boulder Capital Timothy Tandiokusuma.

 

PELAMBATAN ekonomi saat ini tengah terjadi di tiga negara maju, yakni Amerika Serikat (AS), Eropa, dan Tiongko.

Melansir CNBC Indonesia, perlambatan ekonomi tercermin pada Purchasing Managers' Index (PMI) Manufacturing global bulan September 2022 yang masuk ke zona kontraksi pada level 49,8 dan dipengaruhi oleh berlanjutnya geopolitik dan perang di kawasan Ukraina yang memicu tekanan inflasi tinggi.

Pemerintah melalui Menteri Keuangan (Menkeu) Sri Mulyani juga menilai kenaikan Fed Fund Rate diperkirakan lebih tinggi dengan siklus yang lebih panjang.

Sementara di Indonesia, hingga siaran pers ini ditulis Sabtu (5/10), pemerintah menilai laju inflasi di Indonesia lebih rendah dari prakiraan awal.

Meski demikian, pemerintah menegaskan akan tetap waspada terhadap ketidakpastian global dan telah menyiapkan sederet arah kebijakan di tengah tingginya hal tersebut dan ancaman resesi pada 2023.

Sebagai seorang pebisnis muda Tanah Air, CEO Black Boulder Capital Timothy Tandiokusuma turut menyatakan pendapatnya di tengah ancaman resesi saat ini.

Baca juga: Dolar AS Menguat, Menkeu: Stabilitas Rupiah Tetap Terjaga 

“Hal ini seperti yang pernah saya sampaikan pada awal 2022 mengenai pandangan dan prediksi ancaman resesi dan krisis moneter super atau super bubble yang sedang meletus dan masyarakat harus bersiap-siap menghadapinya," kata Timothy dalam keterangan, Selas (8/11).

'Tentu kita semua berharap resesi di Indonesia tidak sehebat yang terjadi di AS, Eropa, dan China. Meski begitu, kita harus tetap waspada dan mempersiapkan kemungkinan terburuk jika hal itu terjadi di Indonesia," jelasnya.

"Kuncinya adalah mempersiapkan keuangan secara tepat untuk memitigasi hal paling buruk yang akan terjadi, yaitu inflasi besar-besaran. Jika ini terjadi, besar kemungkinan Rupiah menyentuh hingga angka Rp16-Rp17 ribu per Dollar,” ujar Timothy. 

Pria lulusan International Business and Finance DoubleMajor di Seattle University ini menjelaskan bahwa kondisi setiap resesi terutama resesi global, nilai dolar Amerika cenderung menguat terhadap mata uang negara-negara di Asia, termasuk Indonesia.

Ia mencontohkan yang terjadi pada 1998 dan 2008 di saat krisis global terjadi, mata uang dolar AS naik secara signifikan terhadap rupiah.

Bahkan saat pandemi Covid-19 terjadi dan dunia mengalami krisis untuk waktu yang singkat di bulan Februari 2020, Dolar AS sempat naik dari level Rp13.650 ke Rp16.375, sebelum akhirnya kembali ke level Rp14.000 di 1 Januari 2021.

“Kuncinya, saat ini masyarakat perlu diedukasi tentang prediksi kondisi ekonomi mendatang untuk persiapan optimal, seperti membatasi pengeluaran, melunasi hutang, menabung dan siapkan dana darurat, dan berinvestasi dengan bijak,” tutupnya. (RO/OL-09)

Baca Juga

Dok.Ist

Perlu sikap Adaptif dan Kolaboratif Hadapi Pariwisata di Era Kebiasaan Baru

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 16:40 WIB
Pada era kebangkitan pariwisata pasca Pandemi ini, perlu aksi dan kolaborasi antar sesama pelaku...
Dok.Badak LNG

Kisah Program Salin Swara, Upaya Badak LNG Kelola Sampah Berbasis Investasi Berkelanjutan

👤Mediandonesia.com 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 16:15 WIB
Pendekatan investasi tersebut diharapkan menjadi stimulus untuk mengelola...
Dok. Deli Group Indonesai

Tunjuk Agmez Mo jadi Brand Ambassador, Deli Group Makin Serius Garap Pasar Indonesia

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 10 Desember 2022, 14:37 WIB
Karakter Agnez Mo yang multitalenta, enerjik, dan go international dianggap sangat cocok dengan Deli, yang mempunyai varian produk sangat...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya