Kamis 03 November 2022, 07:35 WIB

Meraih Peluang dari Pelepah Pinang

Fathurrozak | Ekonomi
Meraih Peluang dari Pelepah Pinang

MI/FATHURROZAK
Merk Lokal Rumah Jambe-e.

 

DI Kabupaten Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur, atau sekitar 3 jam perjalanan dari Kota Jambi, terdapat ribuan hektare pohon pinang. Wilayah itu memang sudah lama dikenal sebagai sentra penghasil pinang.

Kementerian Pertanian bahkan menetapkan pinang betara sebagai varietas unggulan nasional, yang memungkinkan bisa dikembangkan di wilayah lain. Menurut data yang disampaikan Direktorat Pengolahan dan Pemasaran Hasil Perkebunan Kementan, sepanjang 2021 tercatat volume ekspor pinang meningkat 4,9% dan dari sisi nilai meningkat 39,3% bila dibandingkan dengan di 2020 (year on year/yoy).

Melihat potensi itu, dua dosen dari Jurusan Teknologi Pertanian Universitas Jambi (Unja), Dr Sahrial dan Yernisa, meneliti manfaat limbah pelepah pinang. Riset mereka dimulai pada pertengahan 2017, terkait dengan pohon sejenis palem yang ada di Jambi, seperti kelapa, pinang, nipah, dan kelapa sawit. Barulah pada 2019, riset mereka mengerucut ke pelepah pinang. Riset itu juga didorong ketika banyak orang kini mulai peduli pada produk yang lebih ramah lingkungan. Termasuk pengganti plastik dan styrofoam sebagai wadah makanan sekali pakai.

Pelepah pinang yang biasanya terbuang begitu saja akan ditumpuk oleh para petani. Pilihannya, dibiarkan membusuk atau dibakar. Namun, sejak riset yang dilakukan di Laboratorium Teknologi Pertanian Unja, kini limbah pelepah pinang bisa diolah menjadi produk baru dan menghasilkan pemasukan tambahan.

“Jadi kami namakan produknya Rumah Jambe-e, yang berkembang di lingkungan Universitas Jambi. Produknya adalah wadah makanan ramah lingkungan dari limbah pelepah pinang. Dari riset kedua dosen itu, saya berpikir itu bisa dijual. Kami pun kemudian memproduksi dalam jumlah banyak,” kata Ko-pendiri Rumah Jambe-e, Rudi Nata, saat ditemui Media Indonesia dalam kesempatan Pameran Pasar WhatsApp yang berkolaborasi dengan UKMJagowan.ID dan ukmindonesia.id di Senayan Park, Jakarta, Senin (31/10).

Keterlibatan Rudi juga karena dirinya bekerja di Laboratorium Teknologi Pertanian Unja. Ia pun kemudian bertugas menerjemahkan hasil riset produk ke pasar. Pengenalan pertama produk Rumah Jambe-e berlangsung di salah satu pameran di Jambi pada akhir 2019.

Ketika itu, dengan modal satu mesin, Rumah Jambe-e membawa sekitar 15 item jenis produk. Karena saat awal pelepah pinang belum dilirik nilai ekonominya, Rudi dan tim di Rumah Jambe-e masih mendapatkannya secara gratis. Modal awal yang digelontorkan ketika itu berkisar Rp10 juta-Rp15 juta untuk satu unit mesin produksi.

Pada 2020, Rumah Jambe-e pun menambah jumlah mesin produksi menjadi total lima unit. Dengan alat produksi itu, dalam sebulan sekurangnya mereka bisa memproduksi 25 ribu item wadah makanan dari limbah pelepah pinang.

Kini, mereka sudah memiliki 14 unit mesin produksi, dengan 10 mesin berada di lokakarya Unja dan 4 mesin di kelompok petani pinang di Tanjung Jabung Barat dan Tanjung Jabung Timur. Dengan kapasitas yang dimiliki, saat ini mereka setidaknya mampu memproduksi 50 ribu item wadah makanan pelepah pinang dalam sebulan.

 

Platform digital

Untuk memproduksi wadah makanan ramah lingkungan, Rumah Jambe-e biasanya akan mengangkut pelepah pinang dari dua kabupaten tersebut setelah sekurangnya terkumpul 2.000 lembar. Untuk mengumpulkan sebanyak itu, waktu yang dibutuhkan sekitar sepekan. Karena kini sudah muncul nilai ekonomi dari produk yang dihasilkan, Rudi pun tak lagi mendapatkan pelepah pinang secara gratis. Rumah Jambe-e akan membeli per lembarnya Rp600 dari petani pinang.

Proses produksi yang dilakukan sebenarnya cukup sederhana. Pelepah pinang yang telah dikumpulkan kemudian akan dicuci bersih terlebih dahulu menggunakan air dan sabun untuk mencuci buah. Setelah itu dijemur sekitar 3-4 jam sampai kadar airnya mencapai 10%-15%. Setelah itu dicetak dan ditekan dengan mesin dalam suhu di atas 100 derajat celsius. Barulah wadah makanan pelepah pinang bisa dikemas dan didistribusikan. Sebelum diedarkan secara luas ke pasaran, Rumah Jambe-e melakukan uji laboratorium terkait keamanan produk.

Saat Media Indonesia melihat di Pameran Pasar WhatsApp, produk Rumah Jambe-e serupa dari kayu. Terlebih dengan motif-motif asli yang ada di permukaannya. Saat beberapa produknya seperti piring dan mangkuk dipegang, teksturnya juga cukup keras seperti kayu. Berbeda dengan wadah makanan dari styrofoam. Memang, jika dibandingkan dengan produk kayu, saat dipegang ada tekstur yang sedikit empuk. Tidak sekeras wadah makanan dari kayu.

“Awalnya kami ingin mendapat sertifikasi SNI. Tapi karena produk jenis dengan bahan ini belum ada pembandingnya, jadi belum bisa. Akhirnya kami lakukan uji kandungan logam karena berkaitan dengan produksi kami yang melibatkan mesin besi. Kami juga lakukan uji cemaran pestisida karena pelepah ini didapatkan dari kebun. Dari dua uji keamanan tersebut, semuanya sudah dinyatakan aman,” lanjut Rudi.

Rudi menambahkan, karena produknya 100% terbuat dari pelepah pinang, secara keteruraiannya juga sama seperti pelepah yang terserak di kebun. “Pelepah pinang di kebun itu dua sampai tiga bulan sudah hancur. Kalaupun ada sisa serat-serat, itu akan lapuk dan mudah menyatu dengan tanah.”

Selama kurun waktu tiga tahun berjalan, pemasaran Rumah Jambe-e lebih mengandalkan platform digital. Terlebih dengan target pasar mereka yang selama ini ada di kota-kota besar di Pulau Jawa dan Bali. Sebaliknya, performa mereka di pasar luring justru kurang menjanjikan.

“Setelah kami ikut pameran pertama di Jambi, kami kan menyebar kuesioner ke pengunjung, dan mendapat respons positif. Lalu kami buat media sosialnya, toko digitalnya, dan kami informasikan ke kontak para pengunjung pameran tersebut.”

Saat menengok ke toko mereka di lokapasar digital Tokopedia, produk terlaris ialah piring bundar berdiameter 5 inci dan piring persegi berdiameter 6 inci, dengan masing-masing tercatat 215 item dan 137 item telah terjual.

“Kalau untuk penjualan di digital, kami biasanya promosikan lewat Instagram. Lalu kami berikan tautan yang mengarahkan ke lokapasar digital. Kami juga mencantumkan kontak Whatsapp business kami. Di digital, mungkin lebih baik performanya karena kami bisa atur bujet yang kami alokasikan, jangkauannya bisa lebih luas,” jelas Rudi.

Biasanya, rerata Rumah Jambe-e mengalokasikan bujet Rp300 ribu untuk promosi iklan di media sosial. Dengan begitu, mereka bisa mendapatkan calon pembeli yang tertarik dari luar Jambi dan bisa menjelaskan spesifikasi produk dengan detail.

Saat ini, Rumah Jambe-e bisa menjual 5.000 item per bulan, dengan omzet rata-rata Rp10 juta-Rp20 juta per bulan.

MI/FATHURROZAK

Produl-Produk Rumah Jambe-e

 

Terkendala pemasaran

Meski demikian, Rumah Jambe-e menyatakan mereka masih terkendala di pemasaran. Sejauh ini produk wadah makanan sekali pakai ramah lingkungan ini belum banyak dilirik oleh para pelaku usaha kuliner.

“Bisa dilihat secara omzet, kami juga belum terlalu besar. Kami masih terkendala di penjualan dan pemasaran yang belum begitu bagus. Belum ada kerja sama dengan pekaku usaha kuliner yang secara rutin. Sejauh ini masih skala ritel.”

Di samping itu, harga produk wadah makanan Rumah Jambe-e juga masih tergolong lebih mahal bila dibandingkan dengan produk wadah makanan plastik dan styrofoam sekali pakai. Harga satu item wadah pelepah pinang Rumah Jambe-e berkisar Rp2.000-Rp4.000, sedangkan plastik dan styrofoam cuma Rp500 per item.

“Tapi kalau dibanding dengan produk plastik dan styrofoam, kami punya keunggulan. Wadah pelepah pinang kami bisa dipakai berulang. Dalam uji produk yang kami lakukan, itu bisa dicuci sampai 7-8 kali. Kalau dikalkulasikan dengan produk sekali pakai yang sulit terurai, itu sebenarnya produk kami jadi lebih murah.”

Untuk penggunaan ulang wadah pelepah pinang, Rudi menjelaskan produk cukup dicuci dengan sabun, lalu dibilas dan dikeringkan dengan cara dijemur selama 1-2 jam. Jika didiamkan di suhu ruang, butuh waktu yang lebih lama untuk kering.

“Harapannya bisa bekerja sama dengan para pelaku UMKM di bidang kuliner. Mereka yang tadinya pakai wadah sekali pakai dengan plastik dan styrofoam baik untuk makan di tempat atau dibungkus, bisa berganti dengan produk ramah lingkungan yang tidak mencemari lingkungan seperti milik kami.” (M-3)

Baca Juga

 PRESIDENTIAL PALACE/AGUS SUPARTO

Presiden Minta Data Beras Dicermati agar Tidak Salah Ambil Kebijakan

👤Andhika Prasetyo 🕔Selasa 06 Desember 2022, 14:49 WIB
Kepala Negara meminta seluruh kementerian/lembaga terkait yakni Kementerian Pertanian, Kementerian Perdagangan, Badan Pangan Nasional dan...
MI/Usman Iskandar

Tahun Depan, Pemerintah Setop Ekspor Bauksit Mentah

👤Andhika Prasetyo 🕔Selasa 06 Desember 2022, 14:42 WIB
Keputusan tersebut diambil dalam rapat terbatas di Istana Merdeka, yang dipimpin Presiden Joko Widodo. Pemerintah menilai...
Antara

Pegiat Startup Apresiasi Keberhasilan Jokowi Dorong UMKM Go Digital

👤mediaindonesia.com 🕔Selasa 06 Desember 2022, 14:08 WIB
Keinginan Presiden Jokowi agar UMKM go digital ini diakui sebagai terobosan bagus dalam mengikuti pergerakan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya