Selasa 05 Juli 2022, 15:44 WIB

Kalangan Eksportir Minyak Jelantah Keluhkan Tingginya Tarif Ekspor

Widjajadi | Ekonomi
Kalangan Eksportir Minyak Jelantah Keluhkan Tingginya Tarif Ekspor

MI/Widjajadi.
Pengepul di Pedaringan, Solo, mengumpulkan minyak jelantah dari warung, reatoran, dan dapur rumah tangga.

 

KEBIJAKAN pemerintah menaikkan tarif bea keluar untuk barang ekspor berupa kelapa sawit crude palm oil (CPO) dan produk turunannya hingga kini masih terus dikeluhkan kalangan eksportir minyak jelantah (used ooking oil) di Jawa Tengah. Soalnya, tarif yang dikenakan sangat tinggi.

Mereka sejak sebelum lebaran 2022 sudah mencoba meminta bantuan Komisi VI DPR agar Kementerian Perdagangan bersedia menurunkan tarif bea keluar ekspor minyak jelantah, tetapi belum menunjukkan hasil. "Hingga kini belum ada respons positif dari Kemendag. Kebijakan menyamaratakan dengan produk turunan CPO lain ini sungguh memberatkan. Padahal minyak jelantah merupakan limbah sisa minyak goreng, tetapi penetapan disamaratakan," kata Respati Ardi, anggota Asosiasi Minyak Jelantah (AMJ) Jawa Tengah, dalam perbincangan di Solo, Selasa (5/7).

Pemerintah sebelumnya juga memasukkan minyak jelantah yang masuk sebagai ketegori produk turunan dari minyak sawit mentah atau CPO sebagai komoditas yang dilarang ekspor. Akhirnya keran ekspor jelantah dibuka lagi.

Namun seiring dengan kebijakan itu, pemerintah mengeluarkan aturan penambahan kategori harga referensi atas barang ekspor berupa kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya yang dikenakan bea keluar dari 12 kategori menjadi 17 kategori. Peraturan itu sebagai upaya mendukung stabilitas harga di dalam negeri dan ketersediaan produk kelapa sawit, CPO, dan produk turunannya. "Mestinya besaran tarif minyak jelantah jangan disamaratakan," imbuh Respati.

Minyak jelantah dikenai bea tarif keluar sebesar US$488 ditambah tarif pungutan sawit ekspor US$35, hingga totalnya mencapai US$523. "Ini sungguh berat, karena kami masih harus menanggung biaya angkut kapal dan biaya pengepul minyak jelantah," tukas dia.

Dia mendapatkan informasi bahwa tingginya bea keluar itu sebagai dampak dari eksportir sawit yang menggunakan nama ekspor minyak jelantah. "Mestinya jika itu benar kan itu perkara berbeda. Biarlah kasus itu menjadi prosea hukum dan tidak kemudian menyamaratakan ke dalam tarif bea keluar," sergah Respati.

Lebih jauh dia memaparkan Jawa Tengah merupakan eksportir minyak jelantah terbesar kedua di Tanah Air dengan jumlah anggota AMJ sebanyak 17 eksportir. Keberadaan minyak jelantah dari warung, restoran, dan rumah tangga mencapai 500 ton per bulan. "Kami mewadahi minyak jelantah di Jateng agar tidak membuang sembarangan limbah minyak goreng dengan memberdayakan pengepul. Ada minyak jelantah dari pabrik makanan, tetapi kami tidak kuat secara modal untuk menampung," ujar Respati.

Minyak jelantah diekspor, karena di Indonesia hingga kini belum ada mesin yang mampu mengolah jelantah menjadi biodisel untuk bahan bakar pesawat. Pengimpor di luar negeri seperti Eropa, Afrika, dan Singapura mampu mendaur ulang dan mengolah jelantah jadi biodisel. (OL-14)

Baca Juga

Ist

SR017 Terbit, Moduit Ungkap Keuntungan Investasi Sukuk Ritel

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 11:25 WIB
Pemerintah akan menawarkan satu obligasi ritel, yakni Sukuk Ritel seri SR017 yang akan ditawarkan pada tanggal 19 Agustus hingga 14...
MI/Denny S

Pengamat: Pemerintah Blunder Jika Naikkan BBM Dalam Kondisi Saat Ini

👤Despian Nurhidayat 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 11:00 WIB
KENAIKAN BBM di masa seperti saat ini akan menjadi kebijakan yang salah. Pasalnya, ada beberapa hal yang dapat dilakukan oleh pemerintah...
MI/Ahmad Yakub

Indef: Dukung Substitusi Industri Pangan Gandum dari Bahan Baku Lokal

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 13 Agustus 2022, 10:15 WIB
Direktur Indef Ahmad Tauhid mendukung kebijakan pemerintah dalam hal ini Kementan untuk memperkuat subtitusi pangan lokal sebagai...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya