Jumat 17 Juni 2022, 10:55 WIB

Pasar Saham Asia Dihantui Resesi, Yen Terendah 24 Tahun

Mediaindonesia.com | Ekonomi
Pasar Saham Asia Dihantui Resesi, Yen Terendah 24 Tahun

AFP/Kazuhiro Nogi.
Pejalan kaki terlihat di papan harga saham elektronik (kiri) dan papan valuta asing di Tokyo, Jepang, 13 Juni 2022.

 

PASAR saham Asia sebagian besar jatuh pada Jumat (17/6). Ini terjadi setelah penurunan besar di New York karena suku bunga bank sentral naik menanggapi ancaman resesi. Yen merosot setelah Bank of Japan mengatakan belum akan mengikuti rekan-rekan globalnya dalam kebijakan pengetatan.

Hilang sudah optimisme yang mengalir melalui lantai perdagangan segera setelah Federal Reserve pada Rabu (15/6) mengumumkan kenaikan suku bunga terbesar selama 28 tahun. Kepala keuangan global pun mengikuti sehingga menekan kemampuan untuk meminjam.

Pasar telah jatuh selama berbulan-bulan karena para pedagang merenungkan akhir era uang tunai murah yang mengirim harga ke rekor atau tertinggi multitahun. Inflasi pun terjadi pada tingkat yang tidak terlihat dalam beberapa dekade karena lonjakan harga energi dan pangan.

Bank of England pada Kamis menaikkan suku bunga untuk kelima kali berturut-turut ke level tertinggi sejak 2009 selama krisis keuangan. Ini sama seperti bank sentral Swiss yang mengejutkan pasar dengan meluncurkan kenaikan setengah poinnya sendiri. Ini kenaikan pertama dalam 15 tahun. Bank Sentral Eropa juga telah mengisyaratkan akan mengumumkan kenaikan segera.

Pasar ekuitas jatuh karena ekspektasi untuk resesi terus meningkat. Dow berakhir di bawah 30.000 untuk pertama kali dalam lebih dari satu tahun dan S&P 500 sekarang berada di level terendah sejak Desember 2020.

Namun dengan kenaikan suku bunga di sejumlah tempat lain, Bank of Japan pada Jumat menolak untuk menjauh dari kebijakan moneternya yang longgar, meskipun inflasi melonjak dan yen berada di sekitar level terendah 24 tahun. Pejabat di Tokyo berkeras bahwa suku bunga rendah masih diperlukan untuk memelihara ekonomi yang sedang berjuang.

Yen jatuh ke 134,63 melawan dolar AS, dari 133,37 sebelum keputusan. Angka itu berkubang di sekitar level terendah dalam 24 tahun dan kehilangan sekitar 13% tahun ini.

Baca juga: Lebih Banyak Miliuner Ukraina yang Hengkang Ketimbang Rusia

Stephen Innes dari SPI Asset Management mengatakan, "Tidak ada gubernur bank sentral yang sepadan dengan beban mereka mempertaruhkan kredensial melawan inflasi ditambah lagi mengimpor inflasi energi yang lebih tinggi melalui mata uang yang lebih lemah. Sinyal yang sangat tidak menyenangkan bagi investor pasar saham dan sensitivitas indeks yang lebih luas terhadap kenaikan imbal hasil obligasi, imbuhnya, perlombaan global untuk menaikkan suku belum mendekati garis akhir.

Di pasar ekuitas, Tokyo, Shanghai, Sydney, Seoul, Singapura, Wellington, Taipei, Bangkok, Manila, dan Jakarta semuanya berada di zona merah.Di Hong Kong sedikit lebih tinggi setelah kerugian tajam pada Kamis. (AFP/OL-14)

Baca Juga

MI/Susanto

Ekonom: Jabatan Pimpinan BI tidak Boleh Diisi Politisi, Risikonya Besar

👤M. Ilham Ramadhan Avisena 🕔Jumat 30 September 2022, 23:26 WIB
Pasalnya, Bank Indonesia memiliki peran yang amat strategis bagi perekonomian nasional. Kesalahan dalam pengelolaan Bank Sentral akan...
Antara

Pemerintah Kembali Cairkan BSU BBM pada Pekan Depan

👤Ficky Ramadhan 🕔Jumat 30 September 2022, 22:19 WIB
Sejauh ini, BSU BBM sudah disalurkan kepada 7 juta pekerja. Pemerintah memperkirakan total jumlah penerima BSU BBM sekitar 14,6 juta...
MI/BAYU ANGGORO

Importir Kedelai Amerika akan Disertifikasi

👤Bayu Anggoro 🕔Jumat 30 September 2022, 22:05 WIB
Kebijakan ini menjadi penting bagi para konsumen kedelai Amerika Serikat di seluruh dunia termasuk di Indonesia  yang telah lama...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya