Selasa 26 April 2022, 07:31 WIB

Pemerintah Larang Ekspor CPO, DPR: Harga Sawit Anjlok, Petani Jadi Serba Salah

mediaindonesia.com | Ekonomi
Pemerintah Larang Ekspor CPO, DPR: Harga Sawit Anjlok, Petani Jadi Serba Salah

Ist/DPR
Anggota Komisi VI DPR RI Rudi Hartono Bangun.

 

KEBIJAKAN Presiden Joko Widodo melarang ekspor crude palm oil (CPO) dan minyak goreng per 28 April 2022 menuai pro dan kontra. Meski tujuannya menjaga kestabilan minyak goreng dalam negeri, namun larangan itu berdampak negatif pada petani sawit.

Anggota Komisi VI DPR RI Rudi Hartono Bangun mengaku, saat ini harga Tanda Buah Segar (TBS) milik petani sawit sudah anjlok ke Rp1000 akibat kebijakan larangan ekspor.

Pasalnya, kata Rudi, pabrik CPO tak mau menerima TBS dari petani terlalu banyak. Karena kapasitas tanki penyimpanan pabrik (storage) terbatas, sebab pabrik juga memiliki simpanan TBS dari kebun. Sementara petani sawit tak memiliki tanki penyimpanan.

"Jadi posisi petani sawit ini serba salah, dijual harganya turun, tidak dijual barang jadi busuk," ujar Rudi dalam keterangan pers yang diterima , Senin (25/4/)..

Rudi menjelaskan di daerah pemilihannya mayoritas petani yang menggantungkan hidupnya dari kebun sawit.

Baca juga: Komisi II DPR Belum Tentukan Sikap Terkait Usul Kampanye 120 Hari Pemilu 2024

"Para petani sawit kecil ini rata-rata memiliki kebun 2 hektare hingga 10 hektare, sementara petani kelas menengah memiliki 500 hektare hingga 1000 hektare. Selebihnya dikuasai perusahaan besar yang memiliki pabrik pengolahan. Ada jutaan petani sawit yang hidup hanya dari perkebunan kelapa sawit,” ungkap Rudi.

Belum lama ini, ungkap Rudi, petani sawit di daerahnya mengirimkan surat terbuka kepada Presiden Jokowi. Karena mulai tanggal 26 April 2022, Pabrik Minyak Kelapa Sawit (PMKS) yang berada di Sumut, tidak lagi menerima/membeli buah sawit hasil panen dari kebun kami, sampai batas waktu yang belum ditentukan.

“Saya mendapat info dari masyarakat, perusahaan swasta PT RMM yang selama ini menampung sawit petani, tidak lagi membeli," papar politikus Partai NasDem ini.

Oleh karena itu Rudi mendesak pemerintah, ketimbang melarang ekspor CPO lebih baik menghukum dan menjatuhkan sanksi keras kepada perusahaan-perusahaan CPO nakal.

"Saya mendukung penangkapan yang dilakukan Kejaksaan Agung. Bahkan kalau perlu mengganti semua jajaran Kementerian Perdagangan, termasuk menterinya. ibaratnya, kita mau menangkap 3 ekor tikus, tapi satu lumbug padi malah kita bakar," terangnya.

Oleh karena itu, sambung legislator dapil Sumatera Utara III  tersebut, sebaiknya pemerintah perlu mempertegas dan memperketat implementasi kebijakan Domestic Price Obligation (DMO) dan Domestic Price Obligation (DPO). Jadi tidak perlu melarang ekspor, karena petani kecil yang menerima dampaknya.

"Perusahaan CPO besar harus kontrol ketat, begitupun dengan pejabat Kemendag harus diawasi ketat,” pesan Rudi. (RO/OL-09)

Baca Juga

Ist

5.000 Pelari Siap Semarakkan BRImo Colourful Run 2022

👤mediaindonesia.com 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 23:45 WIB
Mengusung “Bring More Colour To Your Life”, BRI mengajak masyarakat untuk meningkatkan semangat hidup...
Dok. Anugerah Pangan Lestari

Perluas Pangsa Pasar, Anugerah Pangan Lestari Buka Gerai Orbeez di SCBD

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 23:41 WIB
Gerai makanan/minuman yang baru dibuka itu merupakan showcase atau display produk-produk lokal maupun impor dari PT Anugerah Pangan...
Dok Link Net

Berhasil Tingkatkan Kualitas Pelayanan, Link Net Sabet Penghargaan ICXC dan ISTC 2022

👤Mediaindonesia.com 🕔Jumat 19 Agustus 2022, 23:33 WIB
Fenomena peningkatan akses masyarakat ke konten serta platform atau aplikasi digital, telah mendorong semakin tingginya tuntutan konsumen...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya