Headline
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Taksiran kerugian itu belum yang diderita masyarakat, termasuk para pelaku usaha.
Kumpulan Berita DPR RI
PLATFORM kesejahteraan keuangan pertama (the first financial wellness platform), Wagely menambah modal lagi dengan begitu cepat setelah putaran awal.
Hal ini diyakini akan mempercepat brand Wagely untuk menapaki tujuan menjadi pemimpin pasar di Indonesia dan Bangladesh.
“Kami melihat adanya tingkat pertumbuhan dua digit yang besar dan percaya bahwa dengan modal tambahan memungkinkan kami untuk dapat melipatgandakan dan mempercepat brand Wagely untuk menapaki tujuan menjadi pemimpin pasar di kedua negara di mana kami beroperasi, yaitu Indonesia dan Bangladesh," kata Co-Founder dan CEO Wagely, Tobias Fischer.
Baca juga : Alodokter Upgrade Aloproteksi Korporasi
"Dukungan dan kepercayaan dari investor lokal seperti EV (Growth Fund) merupakan bukti nyata dukungan atas misi utama Wagely,” ujar Tobias Fischer dalam keterangan pers, Selasa (5/4).
Apakah modal tambahan ini menjadi indikasi Wagely melihat peluang dan berencana untuk terjun ke pasar negara berkembang lainnya di Asia, Afrika dan Amerika?
Tobias Fischer yang merupakan salah satu karyawan pertama Grab Financial tak menampiknya.
Baca juga : Menaker: Potensi Pelatihan di Perusahaan Indonesia Cukup Besar
“Kami juga menjelajahi berbagai opportunities di pasar berpotensi lainnya sesuai dengan pertumbuhan demand akan kesejahteraan finansial pekerja,” jelasnya.
Sejauh ini, Wagely sudah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan besar. Makanya, Wagely merupakan platform kesejahteraan keuangan pertama (the first financial wellness platform) dengan pertumbuhan tercepat.
“Kami telah menjalin kerja sama dengan beberapa perusahaan terbesar (blue chips) di Indonesia dan Bangladesh, seperti British American Tobacco, Ranch Market, Medco, Adaro Energy, SQ Group, Classic Composite and Vision Garments, dan masih banyak lagi," jelasnya.
Baca juga : Menaker Ida Tekankan Pentingnya K3 Elevator untuk Cegah Kecelakaan Kerja
"Kami juga satu-satunya pemain di Asia Tenggara yang beroperasi di dua pasar, telah menerima ISO 27001 tentang keamanan informasi, dan terintegrasi langsung dengan SAP. Dukungan dan kepercayaan dari investor lokal seperti EV (Growth Fund) adalah perwujudan nyata perjalanan dan misi kami,” ujar Fischer.
Sejauh ini, Wagely sudah membantu memberikan akses pelestarian kesejahteraan keuangan bagi jutaan karyawan pekerja keras di Asia.
Wagely menawarkan akses gaji yang diperoleh hanyalah langkah pertama untuk menciptakan kesejahteraan keuangan dalam jangka panjang.
Baca juga : Koperasi Hartanah Luncurkan Aplikasi Fintech 'Gajian Sekarang'
“Berbeda dengan penyedia layanan keuangan tradisional yang menawarkan solusi vertikal, kami di sini membangun platform holistik yang menawarkan tidak hanya solusi arus kas yang sehat dan terjangkau kepada pekerja, tetapi juga melindungi mereka secara menyeluruh," ungkap mantan Direktur Capital Match, Advisor untuk Asian Development Bank tersebut.
Fischer sekali lagi menjelaskan alasan Wagely memperluas layanan ke Bangladesh dan perbedaan pasar negara itu dengan Indonesia.
Menurutnya, mereka melihat peluang besar untuk teknologi keuangan di Bangladesh yang dicirikan oleh fundamental menarik dan serupa seperti Indonesia dalam hal demografi, large TAM (Total Addressable Market), akses yang masih terbatas ke fasilitas kredit, meningkatnya permintaan untuk layanan keuangan terpadu, serta ruang gerak untuk makin memperluas produk dan segmentasi.
Baca juga : Ritel Alfamart dan Alfamidi Terapkan Digitalisasi Perekrutan Karyawan
“Selain itu, kami mendapat dukungan kuat dari perusahaan pemberi kerja dan karyawan yang memungkinkan kami untuk mendaftarkan beberapa produsen RMG (Ready Made Garment) terkemuka, termasuk SQ Group, Classic Composite, dan Vision Garments,” katanya.
Terkait tren pasar Earned Wage Acces (EWA) atau yang sering disebut ‘gaji instan’ di Asia Tenggara, Fischer menyebutnya luar biasa. Menurutnya, ada beberapa faktor yang membuat karyawan melirik EWA.
“Tempat kerja (workplace) berubah dengan cepat dan dinamis, terutama sejak Covid-19 melanda. Sekarang, metode penggajian karyawan pun turut berubah, dan ini terjadi dalam skala yang luas," katanya.
Baca juga : Kerja Sama dengan Kiva, Coca-Cola Foundation Bantu 43 Ribu Wirausaha di Indonesia
"Wagely tetap berkomitmen untuk menghadirkan kesejahteraan finansial terbaik dalam melayani kebutuhan karyawan dan pekerja kelas menengah ke bawah yang jumlahnya terus meningkat di kawasan Asia Tenggara, terlebih saat menghadapi tantangan finansial,” ujarnya.
“Kami membuka wawasan karyawan akan upah harian, akses instan ke hak upah, dan daya untuk merencanakan pengeluaran dengan lebih bijak - terbukti mengurangi angka perputaran karyawan, memperkuat loyalitas, dan meningkatkan penghematan bisnis. Kami bangga telah berhasil beroperasi di dua pasar terbesar di Asia (Indonesia dan Bangladesh), yang menaungi lebih dari 150 juta pekerja secara total,” lanjutnya.
Tak hanya karyawan, Wagely juga sukses memikat pemberi kerja atau pengusaha. Hal ini karena platform ini memberi banyak manfaat kepada mereka.
Baca juga : DPR Minta Tindak Tegas Empat Perusahaan Diduga Terlibat Pelecehan Karyawati
Fischer menjelaskan, pekerja berpenghasilan rendah dan menengah hidup sehari-hari bergantung dari gaji ke gaji. Mereka terkadang berjuang dengan pengeluaran keuangan yang tak terduga.
Hal tersebut memiliki dampak negatif pada performa karyawan yang berujung pada kinerja bisnis dengan omset yang lebih tinggi. Produktivitas pun menurun serta lebih banyak karyawan yang melakukan pinjaman.
“Menawarkan karyawan akses langsung ke upah mereka sebelum tanggal gajian akan membantu meningkatkan dan mendorong ketahanan keuangan karyawan. Dampaknya pun telah terukur dan terbukti, dimana retensi dan produktivitas karyawan meningkat,” jelasnya.
Baca juga : Cegah PHK di Industri Padat Karya, Pemerintah Terbitkan Permenaker No 5 Tahun 2023
Lalu, bagaimana sebenarnya cara Wagely mendapat profit untuk menjalankan perusahaan? Menurut Tobias Fischer, Wagely berbeda dengan lembaga keuangan petahana dan pemberi pinjaman bayaran.
Mereka, kata Fischer, menghasilkan uang ketika orang terjebak dalam pusaran hutang yang tak terbayarkan, sehingga pinjaman berbunga, overdraft, dan tentu biaya keterlambatan.
Wagely tidak membebankan biaya keanggotaan tetap, melainkan biaya transaksi saja. Biaya keanggotaan Wagely dibayarkan oleh karyawan hanya jika mereka menemukan manfaat dan nilai dalam produk kami dan membuat kemajuan bersama kami.
"Mengapa kami mengambil pendekatan ini? Alasannya karena kami percaya metode keanggotaan (membership) adalah satu-satunya model bisnis yang benar-benar menyelaraskan insentif Wagely dengan kesejahteraan keuangan karyawan,” tegas Fischer. (RO/OL-09)
Ilmu ini merupakan framework digital yang dirancang khusus untuk membantu UMKM bertumbuh, lebih adaptif, efisien, dan kompetitif.
Platform ini menggunakan teknologi AI untuk membantu pemilik usaha melindungi mereknya secara real-time.
PLATFORM kripto global OKX resmi meluncurkan CeDeFi, fitur inovatif terbaru di aplikasi OKX yang memungkinkan pengguna mengakses jutaan token di berbagai blockchain melalui satu aplikasi terpadu.
Kazee memperkenalkan layanan KazeeAI, platform Agentic AI untuk otomatisasi analisis dan pengambilan keputusan strategis, dan Fastra, platform AI untuk pembuatan laporan.
Dengan sistem Velodiva, setiap lagu tercatat secara otomatis, laporan tersedia secara transparan, dan royalti tersalurkan dengan adil kepada pencipta musik.
Sejalan dengan kerangka teorinya maka metode riset yang digunakan adalah mixed-method, yaitu perpaduan antara pendekatan kualitatif dan kuantitatif.
Di sebagian besar perusahaan kini memiliki setidaknya tiga hingga empat generasi yang berinteraksi setiap hari.
Acara tahunan yang dihadiri khusus management ini menjadi ajang silaturahmi sekaligus penghargaan atas dedikasi dan kontribusi luar biasa mereka.
ANGGOTA Komisi XII DPR RI Jalal Abdul Nasir menyoroti isu kelangkaan BBM di SPBU swasta dan kabar dirumahkannya sebagian karyawan.
Hingga awal 2025, lebih dari 57.000 tenaga kerja telah mengikuti program pelatihan IWIP dan WBN.
Deloitte Global Human Capital Trends Survey (2025) mengungkap lebih dari dua pertiga (66,6%) pekerja merasa sistem evaluasi kinerja mereka tidak adil dan kurang setara.
Bagi Hanasui, perjalanan ini bukan sekadar agenda tahunan, melainkan bentuk nyata apresiasi kepada tim yang telah menjadi pilar kesuksesan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved