Minggu 20 Maret 2022, 14:07 WIB

Indonesia Perlu Tingkatkan Ekspor Produk Olahan

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Indonesia Perlu Tingkatkan Ekspor Produk Olahan

MI/Heri Susetyo
Pabrik pengolahan kepiting rajungan yang diekspor ke Amerika Serikat di Sidoarjo, Jawa Timur.

 

INDONESIA perlu meningkatkan ekspor produk olahan dan tidak menggantungkan ekspornya pada komoditas. Bergantung pada komoditas menyebabkan kinerja perdagangan dipengaruhi oleh fluktuasi harga dunia. Dibutuhkan upaya terstruktur untuk pelan-pelan menggeser komoditas sebagai andalan ekspor.

"Sekitar 45% ekspor Indonesia berbasis komoditas yang harganya fluktuatif dan sangat bergantung dengan dinamika yang terjadi di seluruh dunia,” jelas Senior Fellow Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Deasy Pane, Minggu (20/3.

Rilis ekspor impor BPS terbaru kembali menunjukkan capaian tertinggi kumulatif Januari-Februari 2022 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, melanjutkan prestasi capaian ekspor di tahun 2021.

Namun demikian, sebagaimana diketahui, ekspor Indonesia masih didominasi oleh produk berbasis komoditas yang memang harganya meningkat tajam. Sementara itu, jika dilihat secara volume ekspor, sebenarnya tidak sebombastis itu.

Baca juga: Gangguan Rantai Pasok Jadi Katalis bagi Indonesia

Konflik Rusia-Ukraina, walaupun tidak berpengaruh langsung terhadap volume perdagangan Indonesia, berpengaruh signifikan pada pergerakan harga komoditas yang akan mempengaruhi nilai perdagangan Indonesia.

Tingginya harga komoditas akan berpengaruh pada capaian ekspor Indonesia. Namun tidak mencerminkan kualitas dan daya saing produk Indonesia, serta hanya bersifat sementara.

Dalam dua dekade terakhir kontribusi ekspor Indonesia ke dunia stagnan di angka 0,9%. Sementara itu, pelaku usaha industri yang terlibat dalam kegiatan ekspor juga hanya sekitar 18 persen, yang menunjukkan sebagian besar pelaku usaha Indonesia berorientasi domestik.

Hal ini perlu menjadi perhatian pemerintah. Pemerintah perlu mendorong pelaku usaha agar berani bersaing di dalam negeri dan pasar ekspor, didukung oleh upaya peningkatan produktivitas dan kualitas yang memenuhi standar internasional.

Hal ini dapat dilakukan melalui komitmen pemerintah untuk menciptakan iklim investasi yang mendukung, iklim persaingan usaha yang sehat, peningkatan kapasitas tenaga kerja dan infrastruktur yang mendukung.

Selain itu, dukungan terhadap inovasi, research and development dan penyerapan teknologi perlu ditingkatkan. Kurangnya ekosistem research and development bisa berdampak pada lemahnya motivasi pelaku usaha untuk berinovasi dan hanya memanfaatkan pasar domestik yang besar untuk mendapatkan keuntungan.

Padahal research and development dibutuhkan untuk mengoptimalkan nilai produk atau menambah efisiensi proses, yang memang diperlukan untuk bersaing di pasar global.

“Dari sisi demand, pemerintah perlu memastikan akses pasar ekspor dapat mudah dan berbiaya rendah dengan penurunan hambatan tarif dan non tarif di pasar ekspor dan penyediaan informasi pasar yang lengkap dan mudah diakses,” tandasnya. (Try/OL-09)

Baca Juga

Ist/BRI

Tingkat Literasi Asuransi di Indonesia Masih Tergolong Rendah

👤mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 20:42 WIB
Jika dibandingkan dengan negara tetangga, tingkat literasi dan kepesertaan asuransi di Indonesia relatif...
Dok Kementan

Mentan Ajak Petani Bersama Antisipasi Krisis Pangan Global

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 20:00 WIB
Ia mengimbau setiap kepala daerah untuk memperkuat lumbung-lumbung...
Dok KADIN

B20 Indonesia Dukung Standardisasi Global Laporan Berkelanjutan

👤Mediaindonesia.com 🕔Sabtu 25 Juni 2022, 19:25 WIB
Pasalnya, laporan keberlanjutan yang sesuai standar internasional akan mampu membantu para pelaku...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya