Selasa 05 Oktober 2021, 13:31 WIB

Pembatalan PPN Sembako Diharapkan Jaga Daya Beli Masyarakat

Fetry Wuryasti | Ekonomi
Pembatalan PPN Sembako Diharapkan Jaga Daya Beli Masyarakat

Antara
Pedagang melayani pembeli telur di Pasar Mayestik, Kebayoran Baru, Jakarta, Jumat (1/10).

 

LANGKAH pemerintah yang akhirnya membatalkan rencana pemberlakuan Pajak Pertambahan Nilai (PPN) kepada sembilan bahan pokok, merupakan keputusan tepat karena hal ini dapat membantu menjaga daya beli masyarakat yang sudah banyak melemah akibat pandemi covid-19.

Walaupun pembatalan ini belum final, dikecualikannya sembilan bahan pokok dari objek yang dikenai PPN perlu diapresiasi. Sebab pandemi covid-19 menyebabkan pendapatan sebagian masyarakat berkurang bahkan hilang.

"Hal ini menyebabkan daya beli menjadi rendah. Mereka memilih mengonsumsi pangan murah dan mengenyangkan yang belum tentu bergizi. Kalau (PPN) dikenakan sembako, komoditas pokok ini dikhawatirkan menjadi semakin tidak bisa dijangkau,” jelas Peneliti Center for Indonesian Policy Studies (CIPS) Aditya Alta, Selasa (5/10).

Pemerintah akhirnya membatalkan rencana pemberlakuan PPN terhadap barang barang kebutuhan pokok atau sembako, yaitu beras dan gabah, jagung, sagu, kedelai, garam konsumsi, daging, telur, susu, buah-buahan, sayur-sayuran, ubi-ubian, bumbu-bumbuan dan gula konsumsi.

Secara umum kenaikan harga, termasuk dengan pengenaan PPN, akan mendorong inflasi dan mengurangi daya beli masyarakat padahal, belanja rumah tangga, bersama konsumsi pemerintah, merupakan komponen pertumbuhan ekonomi negara yang relatif dapat didorong oleh pemerintah dalam jangka pendek untuk memulihkan perekonomian nasional di saat sulit seperti sekarang ini.

Pengenaan PPN pada sembako tidak saja akan meningkatkan harga pangan dan karenanya mengancam ketahanan pangan, bukan hanya bagi yang berpendapatan rendah, melainkan juga akan berdampak buruk kepada perekonomian Indonesia secara umum.

"Tingginya harga bahan pangan di Indonesia menunjukkan bahwa pemerintah masih memiliki pekerjaan rumah untuk diselesaikan. Perlu juga dipikirkan dampak dari hal ini bagi masyarakat selama beberapa tahun ke depan, terutama bagi mereka yang berasal dari keluarga berpenghasilan rendah,” jelas Aditya.

Pangan merupakan salah satu komponen utama pengeluaran rumah tangga, dan bagi masyarakat berpendapatan rendah, belanja kebutuhan pangan bisa mencapai sekitar 56% dari pengeluaran rumah tangga mereka. PPN yang ditarik atas transaksi jual-beli barang dan jasa yang dilakukan oleh Pengusaha Kena Pajak (PKP), pada akhirnya akan dibebankan pengusaha kepada konsumen.

Ketahanan pangan Indonesia sendiri berada di peringkat 65 dari 113 negara, berdasarkan Economist Intelligence Unit's Global Food Security Index 2020. Salah satu faktor di balik rendahnya peringkat ketahanan pangan Indonesia adalah masalah keterjangkauan.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) menunjukkan jumlah penduduk miskin pada Maret 2021 mencapai 27,54 juta orang atau sekitar 10% penduduk. Jumlah ini menunjukkan kenaikan sebesar 1,12 juta orang di bandingkan Maret 2020.

Garis Kemiskinan pada Maret 2021 tercatat sebesar Rp472.525/ kapita/ bulan dengan komposisi garis kemiskinan makanan sebesar Rp349.474 (73,96%) dan garis kemiskinan bukan makanan sebesar Rp123.051 (26,04). (E-3)

Baca Juga

Dok Aksrindo

Menebar Manfaat dari Nias Hingga Alas Roban

👤Iis Zatnika 🕔Senin 06 Desember 2021, 21:09 WIB
Tanggung jawab perusahaan meliputi aspek sosial, ekonomi dan...
DOK OJK

OJK dan IJK Serahkan Donasi Bencana Erupsi Gunung Semeru

👤mediaindonesia.com 🕔Senin 06 Desember 2021, 20:50 WIB
Program 'OJK dan IJK Peduli Bencana' akan terus dibuka dan dikoordinir oleh OJK untuk mengumpulkan...
Antara

Optimistis PT Krakatau Steel tak Bangkrut, Ini Respons Komisaris PT KSI ke Erick Thohir

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 06 Desember 2021, 20:35 WIB
Sebagai aset strategis, lanjutnya, seharusnya KS diperlakukan dengan strategis...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya