Rabu 02 Juni 2021, 10:34 WIB

IHSG Kembali ke Level 6.000 Didorong Kenaikan Minyak

Fetry Wuryasti/Despian Nurhidayat | Ekonomi
IHSG Kembali ke Level 6.000 Didorong Kenaikan Minyak

Antara
Ilustrasi

 

Indeks Harga Saham Gabungan (IHSG) pada perdagangan Rabu (2/6) dibuka pada level 6.002,94, dari penutupan kemarin pada level 5.947,46. Hal serupa juga terjadi pada bursa Asia yang menguat merespon data manufaktur Tiongkok yang cukup baik.

IHS Markit melaporkan aktivitas manufaktur yang dicerminkan dengan Purchasing Managers' Index (PMI) zona euro bulan Mei naik menjadi 63,1 dari bulan sebelumnya 62,9. Angka indeks di bulan Mei tersebut merupakan yang tertinggi sepanjang sejarah, yang membuat pasar saham semakin bergairah menyambut pemulihan ekonomi.

Ekspansi manufaktur Tiongkok juga menunjukkan peningkatan meski tipis. Caixin/Markit melaporkan PMI manufaktur bulan Mei naik menjadi 52, dari bulan sebelumnya 51,9.

"Investor akan mencermati rilis data inflasi dan data manufaktur Indonesia," kata Analis Artha Sekuritas, Dennies Christoper, Rabu (2/6).

Pada bulan lalu IHS Markit melaporkan PMI manufaktur pada April 2021 sebesar 54,6. Naik dari bulan sebelumnya yaitu 53,2 dan mencapai titik tertinggi sepanjang sejarah pencatatan.

Dari pasar komoditas, harga minyak naik seiring dengan optimisme OPEC+ terhadap kenaikan permintaan. Harga minyak Brent terangkat +1,93% dan WTI +2,11%.

Pada akhirnya, harga minyak kembali bergoyang, menembus level $70 per barel pada hari Selasa kemarin. Kelompok produsen minyak paling besar di dunia pada hari Selasa sepakat untuk mengurangi produksi secara bertahap di tengah kenaikkan harga minyak.

Namun pengurangan produksi minyak hanya sampai June, karena OPEC+ akan meningkatkan produksinya pada bulan Juli mendatang sebesar 2,1 juta barel per hari.

"Alhasil harga minyak mengalami kenaikan lebih dari 3% dalam kurun waktu 2 tahun terakhir, dan sejauh ini harga minyak sudah naik sebesar lebih dari 30%," kata Associate Director of Research and Investment Pilarmas Investindo Sekuritas Maximilianus Nico Demus.

Namun setelah Juli 2021, OPEC+ akan dijadwalkan akan menahan produksi hingga April 2022 untuk menjag keseimbangan harga minyak. Kelompok yang didominasi oleh Timur Tengah yang bertanggung jawab terhadap 1/3 produksi minyak global tengah berusaha untuk menyeimbangkan kenaikkan permintaan dengan potensi peningkatan produksi minyak dari Iran.

"Sejauh ini kami juga belum mendapatkan angka secara pasti potensi angka peningkatan produksi di Iran, namun potensi itu sangat besar apabila tidak diimbangi dengan stok yang ada saat ini," kata Nico.

Oleh sebab itu dalam jangka waktu menengah, OPEC+ kemungkinan besar akan menyesuaikan kebijakannya untuk mencegah penambahan produksi dari Iran untuk menyeimbangkan pasar.

Kenaikan harga minyak merupakan sebuah gambaran adanya permintaan yang kuat, baik bensin maupun solar dari Amerika, Tiongkok, dan Eropa sehingga memberikan situasi dan kondisi dimana inflasi akan mengalami kenaikan.

Setelah sebelumnya minyak berjuang untuk bertahan dari harga terendahnya, sekarang minyak berjuang untuk menjaga antara permintaan dan pasokan apalagi dengan kembalinya Iran ke dalam jajaran pasar minyak internasional.

Apabila kesepakatan antara Iran dan US tercapai terkait dengan pengurangan sanksi untuk Iran, maka Iran berpotensi meningkatkan produksi minyak mentahnya sebanyak 4 juta barel per hari, dan 2,4 juta pada tahun depan.

"Namun hati hati, karena kenaikkan harga minyak masih belum stabil, namun akan menjadi sentimen positif bagi beberapa emiten yang bergerak di bidang minyak untuk jangka waktu pendek," kata Nico. (OL-13)

Baca Juga: Wall Street Bergerak Dinamis, Sektor Perawatan Kesehatan Turun

Baca Juga

Antara

RI Capai Swasembada Beras, FAO Ucapkan Selamat

👤Insi Nantika Jelita 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 16:15 WIB
Bagi FAO, prestasi yang dicapai Indonesia tidak mudah. Mengingat, krisis global tengah melanda akibat efek domino perang Rusia-Ukraina,...
BPMI Setpres

Jokowi Optimistis Indonesia Segera Swasembada Jagung

👤Andhika Prasetyo 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 15:18 WIB
"Tujuh tahun lalu kita impor jagung besar-besaran sampe 3,5 juta ton. Sekarang hanya 800 ribu. Ini lompatan yang sangat besar,"...
Ist/Kementan

Dunia Internasional Akui Tiga Tahun Indonesia Swasembada Beras

👤mediaindonesia.com 🕔Minggu 14 Agustus 2022, 15:13 WIB
Pengharagaan Indonesia mencapai swasembada beras diterima langsung oleh Presiden Joko Widodo di Istana Kepresidenan...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya