Rabu 07 April 2021, 15:55 WIB

2022, Pemerintah Siap Terapkan Skema Subsidi Baru

M. Ilham Ramadhan Avisena | Ekonomi
2022, Pemerintah Siap Terapkan Skema Subsidi Baru

Antara
Ilustrasi pekerja menyusun tabung gas elpiji 3 kg yang diperuntukkan bagi masyarakat miskin.

 

PEMERINTAH berencana mengubah skema subsidi pada 2022 mendatang. Rencana itu didasari pada realisasi subsidi yang dinilai belum tepat sasaran.

Nantinya, pemberian subsidi dilandasi oleh kelayakan individu sebagai penerima, bukan berdasarkan komoditas atau barang.

"Secara garis besar, yang ingin kami usulkan adalah transformasi ke subsidi berbasis orang. Program perlindungan sosial," ujar Kepala Badan Kebijakan Fiskal (BKF) Kementerian Keuangan Febrio Nathan Kacaribu dalam rapat kerja dengan Badan Anggaran DPR, Rabu (7/4).

Baca juga: Menaker: JKP Jamin Korban PHK Dapat Bantuan Selama 6 Bulan

"Karena, hanya 36% saja dari total subsidi yang dinikmati oleh golongan 40% termiskin. Sementara 40% terkaya justru menikmati sekitar 39,5% dari total subsidi. Jadi ini adalah bentuk ketidakadilan," sambungnya.

Perubahan skema tersebut akan berdampak pada efektivitas penyaluran dan penghematan uang negara. Sebab, dana yang dialihkan dari ketidaktepatan data penerima subsidi dapat dialokasikan ke program produktif lain, atau menambah besaran subsidi kepada penerima yang layak.

"Penghematan yang bisa dilakukan tentunya bisa kita gunakan untuk memastikan perlinsosnya bisa ditambah. Anggaran kesehatan bisa ditambah, anggaran pendidikan bisa ditambah dan juga infrastruktur bisa ditambah. Secara keseluruhan, anggarannya semakin berkualitas," jelas Febrio.

Reformasi skema subsidi usulan pemerintah menyasar pada LPG 3 kilogram, listrik 450 volt ampere (VA) dan 900 VA, Bahan Bakar Minyak (BBM) dan pupuk. Nantinya, Data Terpadu Kesejahteraan Sosial (DTKS) akan menjadi acuan pemerintah menyalurkan subsidi, tentu dengan pembaruan validitas di periode tertentu.

Baca juga: Subsidi Energi Harus Mudahkan Akses Kelompok Miskin

Direktur Jenderal Ketenagalistrikan Kementerian Energi dan Sumber Daya Mineral (ESDM) Rida Mulyana mengungkapkan jika perubahan skema subsidi berlaku, terdapat penghematan uang negara dari alokasi subsidi listrik, yang saat ini mencapai Rp61,09 triliun kemudian bisa turun menjadi Rp32 triliun.

"Dengan 15,2 juta pelanggan (pelanggan yang saat ini menerima subisidi, tapi tidak masuk dalam DTKS), asumsi penghematan belanja negara itu sekitar Rp22,12 triliun," papar Rida.

Apabila skema itu diubah dan berjalan efektif, anggaran tersebut dapat dialihkan untuk meningkatkan rasio elektrifikasi, meningkatkan mutu pelayanan dan subsidi pemasangan baru untuk rumah tangga tidak mampu. Berikut, melaksanakan program konversi PLTD ke EBT di wilayah 3T dan paket bundling distribusi kompor listrik bagi pelanggan listrik dengan kapasitas hingga 1.300 VA.(OL-11)

 

 

Baca Juga

MI/Dok Kemenag RI

Mastuki: Bahan Halal Mendesak Disiapkan

👤Siswantini Suryandari 🕔Senin 12 April 2021, 05:30 WIB
Untuk pemenuhan bahan halal, Badan Penyelenggara Jaminan Produk Halal mendorong perguruan tinggi melakukan riset dan...
ANTARA FOTO/Aprillio Akbar

Krisis Listrik, PLN Batu Bara Harus Bisa Beri Solusi

👤Siswantini Suryandari 🕔Senin 12 April 2021, 05:00 WIB
Laskar Rakyat Jokowi (LRJ) meminta kinerja PT PLN Batubara untuk memberikan contoh baik dalam memegang komitmen bisnis dengan mitra,...
thecornishfishmonger.co.uk

Kadin Dukung Lombok jadi Pusat Budidaya Lobster Nasional

👤Mediaindonesia.com 🕔Senin 12 April 2021, 01:00 WIB
Infrastruktur tambahan yang penting perlu dibangun agar proses budidaya ini bisa benar berhasil hingga siap diserap...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Modal Bikin Bank Baru kian Besar

 Di ketentuan RPOJK Bank Umum, bagi perbankan yang baru mau berdiri, diwajibkan memenuhi modal inti Rp10 triliun, termasuk untuk pendirian bank digital.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya