Headline
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Gara-gara Yaqut, Noel ikut ajukan jadi tahanan rumah.
Kumpulan Berita DPR RI
DIREKTUR Eksekutif Institute for Development of Economics and Finance (Indef) Tauhid Ahmad menilai, proyeksi Bank Dunia atas pertumbuhan ekonomi Indonesia di 2021 sukar terwujud. Sebab, dinamika penyebaran pandemi covid-19 belum begitu memadai dan pemulihan ekonomi nasional berjalan sangat lambat.
"Angka 4,4% seperti yang diproyeksikan Bank Dunia itu terlalu tinggi. Karena itu berarti ekonomi kita di triwulan I 2021 harus positif. Kemarin Ibu Sri Mulyani (Menteri Keuangan) mengatakan di triwulan I saja masih di zona negatif. Hitungan kami bahkan masih sekitar -1%," tutur Tauhid saat dihubungi.
Dia bilang, pernyataan Menteri Keuangan itu mengonfirmasi kesulitan pemulihan yang diharapkan terakselerasi di triwulan I 2021. Beberapa waktu lalu, Sri Mulyani bilang ekonomi Indonesia akan tumbuh di kisaran -1% hingga 0,1% di triwulan pertama 2021.
"Itu artinya pemerintah merespon dan mengakui bahwa berat untuk pemulihan, karena di triwulan pertama saja masih tumbuh negatif," kata Tauhid.
Untuk mencapai pertumbuhan 4,4% di 2021, imbuhnya, maka ekonomi Indonesia harus tumbuh di atas 6% pada triwulan II, III dan IV. Hal itu, kata Tauhid, mustahil terjadi bila penanganan pandemi masih berjalan lambat seperti saat ini.
Apalagi pergerakan ekonomi Indonesia tidak agresif layaknya Tiongkok dan Vietnam yang diperkirakan Bank Dunia akan tumbuh tinggi di 2021. "Perbaikan kita itu slow down, memang ada perbaikan tapi lambat," jelas Tauhid.
Baca juga : Dampak Pandemi, MBR Semakin Sulit Dapatkan Rumah
Lambatnya pemulihan ekonomi Indonesia juga tercermin dari pertumbuhan antartriwulan yang hanya di kisaran 1% hingga 2%. Oleh karenanya menurut dia, proyeksi Bank Dunia itu tidak sejalan dengan perkembangan ekonomi di Indonesia.
Tauhid meyakini, dalam waktu dekat Bank Dunia akan merevisi ke bawah pertumbuhan ekonomi Indonesia. Apalagi pemerintah juga tetap kukuh membatasi kegiatan ekonomi melalui penerapan Pemberlakuan Pembatasan Kegiatan Masyarakat (PPKM) mikro dan pelarangan mudik.
Kebijakan itu perlu dilakukan untuk menangani pandemi, tapi tidak akan berimplikasi pada pertumbuhan ekonomi yang diharapkan.
Sebelumnya, Bank Dunia dalam laporan bertajuk Uneven Recovery menyebutkan, ekonomi Indonesia akan tumbuh 4,4% di 2021. Angka itu merupakan rerata pertumbuhan dari negara-negara di kawasan Asia Timur dan Pasifik.
Hanya dua negara di kawasan tersebut yang diprediksi memiliki pertumbuhan ekonomi tinggi, yakni Tiongkok 8,1% dan Vietnam 6,6%. Oleh karenanya Bank Dunia menyebutkan pemulihan ekonomi di kawasan Asia Timur dan Pasifik tidak merata. (OL-7)
Purbaya menjelaskan bahwa meskipun kondisi global penuh ketidakpastian, permintaan domestik masih menjadi mesin utama penggerak ekonomi.
LPEI memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia masih diperkirakan tumbuh 4-5 persen dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan perdagangan global dengan catatan
Batam mencatat pertumbuhan ekonomi sebesar 6,76% secara tahunan (year-on-year) pada 2025. Angka itu menjadikannya sebagai yang tertinggi di Provinsi Kepulauan Riau (Kepri).
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo proyeksikan pertumbuhan ekonomi RI triwulan I 2026 tetap kuat di tengah tantangan global. Simak faktor pendorong dan analisisnya.
INDONESIA tidak kekurangan uang. Yang kurang adalah arah. Ini bukan gejala siklikal atau persoalan sentimen pasar, melainkan kegagalan struktural.
Tanpa dorongan fiskal awal, ekonomi akan selalu menunggu.
Alih-alih memicu inflasi pangan, program prioritas pemerintah MBG dinilai justru akan menjadi stimulus bagi peningkatan produktivitas nasional dan penguatan ekonomi kerakyatan.
Berdasarkan data selama bulan Januari hingga Desember 2024, tercatat 38juta kunjungan wisatawan datang ke DIY.
berdasarkan hasil rapat DK OJK yang dilaksanakan pada 1 Oktober lalu menilai sektor jasa keuangan terjaga stabil.
INDONESIA dan Dewan Kerja Sama Teluk (Gulf Cooperation Council/GCC) telah melaksanakan Putaran Ketiga Perundingan Perjanjian Perdagangan Bebas antara kedua pihak (Indonesia-GCC FTA).
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved