Headline

Pada perdagangan kemarin, rupiah menguat tipis dan ditutup di level Rp16.936 per dolar AS.

BI: Perbaikan Ekonomi Tidak Secepat Proyeksi

M. Ilham Ramadhan Avisena
09/2/2021 15:25
BI: Perbaikan Ekonomi Tidak Secepat Proyeksi
Gubernur Bank Indonesia Perry Warjiyo(ANTARA/Puspa Perwitasari)

GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo menuturkan, perbaikan ekonomi sejatinya terjadi di Tanah Air. Hanya, perbaikan itu lebih lambat dari pada yang diperkirakan sebelumnya.

"Secara full year di tahun 2020 itu kontraksinya minus 2,07% ini memang juga lebih rendah daripada yang kita perkirakan. Kalau dilihat arahnya sebetulnya semuanya menunjukkan perbaikan cuma memang perbaikan tidak secepat yang kita perkirakan," tuturnya dalam Rapat Kerja bersama Komisi XI DPR, Selasa (9/2).

Sebelumnya, pada Jumat (5/2), Badan Pusat Statistik (BPS) merilis angka pertumbuhan ekonomi Indonesia tahun 2020. Tercatat, ekonomi Indonesia -2,07%, jauh lebih rendah dibanding pertumbuhan di 2019 yang tercatat 5,02%. Sedangkan BI memprediksi ekonomi Indonesia di 2020 akan tumbuh di kisaran -1% hingga -2%.

Kendati demikian, Perry menyatakan, ekonomi Indonesia dapat tumbuh positif di 2021. Bank sentral memprediksi pertumbuhannya akan berada di kisaran 4,8% hingga 5,8%. Optimisme itu didukung oleh program vaksinasi yang saat ini dijalankan di berbagai negara, termasuk Indonesia.

Baca juga: KPK Panggil Enam Saksi dalam Kasus Edhy Prabowo

"Vaksinasi di berbagai negara khususnya negara maju yang kemudian melebar berpengaruh pada pemulihan mobilitas manusianya yang diikuti juga stimulus fiskal dan moneter yang besar di berbagai negara. Tentu saja ini menjadi potensi bagi kita untuk mendorong ekonomi dari sisi ekspor," jelas Perry.

Selain vaksinasi, perbaikan di pasar keuangan juga dapat menjadi modal bagi Indonesia untuk memiliki pertumbuhan yang positif di 2021. BI, imbuh Perry, memperkirakan akan terjadi aliran modal masuk berbentuk portofolio di pasar keuangan Indonesia sebesar US$19,6 miliar.

Aliran modal masuk berbentuk portofolio itu jauh lebih besar dari yang terjadi di 2020 sekitar US$9,45 miliar. "US$19,6 miliar ini adalah terbesar kedua setelah Tiongkok dan ini menjadi juga potensi bagi kita untuk menjaga stabilitas eksternal termasuk nilai tukar," tutur Perry. (OL-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Akhmad Mustain
Berita Lainnya