Headline
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
BEI sempat hentikan sementara perdagangan karena IHSG terkoreksi 8%.
Kumpulan Berita DPR RI
KETUA Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT) Soerjanto Tjahjanto mengungkapkan, pesawat Sriwijaya Air SJ-182 masih dalam kondisi utuh alias tidak meledak di udara sebelum jatuh ke perairan Kepulauan Seribu, Jakarta, pada Sabtu (9/1).
Mesin turbin pesawat pun, juga dikatakan tidak mati saat kecelakaan. Hal ini diindikasi berdasarkan temuan KNKT, soal hancurnya bagian turbin pesawat SJ-182 di dalam laut.
"Pesawat secara utuh sampai membentur air, tidak ada pecah di udara. Selanjutnya temuan pada turbin pesawat menunjukkan konsistensi bahwa mesin masih dalam kondisi hidup sebelum membentur air," ungkap Soerjanto dalam Rapat Kerja dengan Komisi V DPR RI, Rabu (3/2).
Dia menambahkan, "(Temuan turbin) ini diindikasikan bahwa turbin-turbinnya rontok semua. Itu menandakan ketika mengalami impact (jatuh) ke air, mesinnya masih berputar,"
Dalam paparan, Soerjanto juga menjelaskan, menurut data dari Tim SAR Gabungan, puing pesawat tersebar dalam wilayah dengan lebar 80 meter dan panjang 110 meter pada kedalaman laut 16 sampai 23 meter.
Baca juga : Ini Dampak Positif Holding Ultra Mikro untuk Pemulihan Ekonomi
Adapun beberapa bagian pesawat telah ditemukan ialah, instrumen pesawat dari ruang kemudi, bagian roda pendarat utama, bagian sayap, bagian dari mein bagian dari kabin penumpang dan ekor.
Bagian-bagaian ini, terang Soerjanto, mewakili seluruh bagian pesawat dari depan hingga ke belakang. Luas sebaran dan ditemukannya bagian pesawat dari depan sampai belakang.
"Hal ini konsisten dengan bukti bahwa pesawat tidak mengalami ledakan sebelum membentur air, atau pecah diatas udara, itu tidak benar," pungkasnya.
Pesawat Sriwijaya Air Boeing 735-500 classic series dengan kode penerbangan SJ-182 dengan rute Jakarta-Pontianak mengalami kecelakaan setelah sempat kehilangan kontak, dalam kejadian tersebut tercatat dalam daftar manifes tiga orang warga Lampung di antara 62 orang yang terdiri atas 50 penumpang dan 12 orang kru itu. (OL-2)
KNKT membutuhkan waktu sekitar 5 hingga 10 hari untuk memeriksa black box pesawat Indonesia Air Transport tipe ATR 42-500 yang mengalami kecelakaan di Gunung Bulusaraung
Tim SAR temukan FDR dan CVR pesawat jatuh di Maros-Pangkep, Sulsel, Rabu (21/1). Data kotak hitam segera diserahkan ke KNKT untuk investigasi penyebab kecelakaan.
Kecelakaan udara tragis menimpa pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT).
KNKT menyampaikan bahwa pesawat ATR 42 pecah berhamburan akibat menabrak lereng gunung Bulusaraung, Kabupaten Pangkajene Kepulauan (Pangkep), Sulawesi Selatan.
Pesawat bernomor registrasi PK-THT yang disewa Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) itu hilang kontak dalam penerbangan rute Yogyakarta-Makassar, Sabtu (17/1).
KNKT menyimpulkan insiden ATR 42-500 sewaan KKP sebagai CFIT: pesawat masih terkendali namun menghantam lereng Gunung Bulusaraung.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved