Headline

Diskoneksi antara tren rupiah dan IHSG dipengaruhi kredibilitas kebijakan makro.

Pesawat ATR 42-500 Tabrak Gunung Bulusaraung, KNKT Sebut Pesawat Kebablasan Keluar Jalur

Media Indonesia
21/1/2026 13:29
Pesawat ATR 42-500 Tabrak Gunung Bulusaraung, KNKT Sebut Pesawat Kebablasan Keluar Jalur
Tim SAR Gabungan pesawat hilang kontak di Maros, Sulawesi Selatan.(Mi/Lina Herlina)

Pesawat ATR 42-500 Tabrak Gunung Bulusaraung, KNKT Sebut Pesawat Keluar Jalur

KECELAKAAN udara tragis menimpa pesawat ATR 42-500 dengan nomor registrasi PK-THT milik Indonesia Air Transport (IAT). Pesawat yang dicarter oleh Kementerian Kelautan dan Perikanan (KKP) tersebut dikonfirmasi jatuh di kawasan Gunung Bulusaraung, perbatasan Kabupaten Maros dan Pangkep, Sulawesi Selatan.

Pesawat yang mengangkut 10 orang, terdiri dari 7 awak pesawat dan 3 personel KKP, tersebut sedang dalam misi surveilans perairan. Berangkat dari Bandara Adisutjipto Yogyakarta menuju Bandara Sultan Hasanuddin Makassar, pesawat dilaporkan hilang kontak pada Sabtu (17/1) saat melakukan prosedur pendekatan (approach) untuk mendarat.

Dugaan Controlled Flight Into Terrain (CFIT)

Ketua Komite Nasional Keselamatan Transportasi (KNKT), Soerjanto Tjahjono, menyatakan bahwa berdasarkan data awal, kecelakaan ini dikategorikan sebagai Controlled Flight Into Terrain (CFIT). Artinya, pesawat berada dalam kendali pilot namun menabrak medan atau lereng gunung.

"Dari indikasi awal, pilot masih melakukan kontrol terhadap pesawat. Namun, pesawat teridentifikasi tidak berada pada jalur pendekatan yang seharusnya," ujar Soerjanto dalam keterangannya kepada media.

Pihak Air Traffic Control (ATC) sempat memberikan arahan koreksi posisi sebelum komunikasi terputus total. Selain faktor jalur penerbangan, KNKT juga mendalami adanya laporan kendala mesin yang sempat dikeluhkan tiga hari sebelum kejadian, meskipun pada hari keberangkatan pesawat dinyatakan laik terbang.

Update Evakuasi: Dua Jenazah Ditemukan

Hingga hari kelima operasi SAR, tim gabungan telah berhasil menemukan dua jenazah korban. Jenazah pertama berjenis kelamin laki-laki ditemukan pada Minggu (18/1), sementara jenazah kedua yang diduga merupakan seorang pramugari ditemukan di tebing curam pada Senin (19/1).

Kepala Basarnas, Marsekal Madya TNI Mohammad Syafii, menjelaskan bahwa proses evakuasi sangat sulit karena posisi puing pesawat berada di lereng dengan kemiringan ekstrem dan kedalaman jurang mencapai ratusan meter.

"Medan sangat terjal dan sering tertutup kabut tebal, yang membatasi jarak pandang tim di lapangan," jelasnya.

Saat ini, fokus utama tim SAR adalah mencari sisa korban lainnya serta kotak hitam (black box) untuk mengungkap penyebab pasti mengapa pesawat tersebut bisa "kebablasan" keluar dari jalur penerbangan yang seharusnya. (Ant/E-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Putri yuliani
Berita Lainnya