Headline
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Ada kelompok yang nyaman dengan kelakuan lama, ingin intervensi meski tak lagi berkuasa.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) menyatakan bahwa inflasi kembali meningkat pada November 2020 ini sebesar 0,28%. Peningkatan ini diketahui melanjutkan tren inflasi yang dimulai pada Oktober 2020 lalu yakni sebesar 0,07% setelah pada tiga bulan sebelumnya mencatatkan deflasi.
Deputi Bidang Statistik Distribusi dan Jasa BPS Setianto mengatakan bahwa kenaikan harga atau inflasi ini terjadi pada 83 kota dari 90 kota inflasi yang diobservasi oleh BPS. Sementara itu, 7 kota dikatakan masih mengalami penurunan harga atau deflasi.
"Ketujuh kota itu ialah Kendari, Ambon, Tarakan, Tanjung Pandan, Meulaboh, Pare-pare dan Maluku," ungkapnya dalam konferensi pers secara daring, Selasa (1/12).
Lebih lanjut, Setianto menambahkan bahwa inflasi tertinggi terjadi di Kota Tual yakni sebesar 1,15%. Utamanya, inflasi di Kota Tual merupakan andil dari harga komoditas perikanan yaitu ikan tongkol, ikan layang atau ikan benggol, kemudian juga andil dari bahan bakar rumah tangga sebesar 0,30%.
Sementara itu, deflasi tertinggi terjadi di Kota Kendari, Sulawesi Tenggara, dengan deflasi sebesar minus 0,22%. Utamanya, deflasi ini merupakan andil dari komoditas perikanan, ikan layang atau ikan benggol dengan andil minus 0,07% ikan cakalang atau ikan sisik minus 0,05% dan ikan teri.
Setianto juga menegaskan bahwa dimulainya musim penghujan merupakan hal yang harus diwaspadai karena hal tersebut akan cukup memengaruhi tingkat inflasi ke depannya.
"Terkait musim penghujan ini perlu diwaspadai, karena distribusi barang untuk cuaca, ombak tinggi kemudian curah hujan tinggi, ini bisa hambat kondisi distribusi barang dari produsen ke konsumen," kata Setianto.
Menurutnya, inflasi ini utamanya disebabkan oleh kelompok komoditas yang bergejolak dengan inflasi sebesar 1,31% dan memberikan andil pada tingkat inflasi sebesar 0,21%. Bila dilihat dari tahun kalender dari Januari hingga Oktober, inflasi pada kelompok komoditas yang bergejolak mencapai 1,42% dan bila dilihat secara tahunan (year on year/yoy) terjadi inflasi sebesar 2,41%.
"Inflasi sebesar 0,28% ini utamanya disumbangkan oleh kelompok komoditas yang bergejolak dengan inflasi 1,31%. Inflasi inti 0,06% kemudian harga yang diatur pemerintah 0,16%," pungkasnya.
Perlu diketahui, inflasi yang terjadi pada November 2020 ini secara tahun kalender dari Desember 2019 sampai dengan November 2020 sebesar 1,23%% dan inflasi tahunan 1,59%. (E-3)
BPS Targetkan Verifikasi 106 Ribu Peserta PBI-JKN Penyintas Penyakit Kronis Tuntas Sebelum Lebaran 2026
Badan Pusat Statistik (BPS) terus memperkuat dan memutakhirkan Data Tunggal Sosial dan Ekonomi Nasional (DTSEN).
Capaian tersebut menunjukkan tren pemulihan pascapandemi yang berkelanjutan. Meski demikian, tingkat kemiskinan Jakarta saat ini masih belum sepenuhnya kembali ke posisi sebelum pandemi.
PERTUMBUHAN ekonomi Indonesia pada kuartal IV 2025 tercatat sebesar 5,39 persen secara tahunan (year on year/YoY).
BADAN Pusat Statistik (BPS) menyampaikan bahwa penduduk bekerja pada November 2025 tercatat sebesar 147,91 juta orang.
Badan Pusat Statistik Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat kinerja perekonomian nasional yang solid di sepanjang 2025 dengan pertumbuhan sebesar 5,11% secara tahunan
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved