Headline
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Presiden sebut dampak perang nuklir lintas batas dan jangka panjang.
Kumpulan Berita DPR RI
Hari ini Badan Pusat Statistik (BPS) akan mengumumkan laju pertumbuhan ekonomi (PDB) Indonesia triwulan III 2020.
Sejumlah pihak memperkirakan angka pertumbuhan angka berada di area negatif, yakni sekitar -3%.
Lembaga Penyelidikan Ekonomi dan Masyarakat Fakultas Ekonomi dan Bisnis Universitas Indonesia (LPEM FEB UI) memprediksi pertumbuhan ekonomi triwulan III 2020 akan berada di kisaran minus 3,9% hingga minus 2,8%.
Dengan demikian, secara menyeluruh di 2020 ekonomi Indonesia diproyeksikan tumbuh dalam rentang minus 2,2% hingga minus 0,9%. Itu berlandaskan dari pertumbuhan di triwulan I yang sebesar 2,97% dan jatuh di triwulan II di angka minus 5,32%.
“Kami memperkirakan bahwa pertumbuhan PDB untuk Triwulan-III 2020 dan FY (full year) 2020 akan berada di wilayah negatif. Pertumbuhan ekonomi diperkirakan mencapai -3,9% hingga -2,8% pada triwulan III 2020, membuat pertumbuhan untuk FY 2020 sekitar sekitar -2,2% hingga -0,9%,” ujar peneliti Makroekonomi dan Keuangan LPEM FEB UI Teuku Riefky dalam rilis, kemarin.
Dia menambahkan ancaman munculnya gelombang kedua dan ketiga pandemi covid-19 di beberapa negara menjadi faktor eksternal yang menekan perekonomian nasional.
Hal itu nantinya akan berpengaruh pada kondisi defisit transaksi berjalan (current account deficit/CAD) Indonesia.
Bila permintaan global terus melemah dan cenderung menurun, lanjut Teuku, CAD Indonesia akan tetap berada di kisaran 1,2% hingga 1,5% di triwulan III dan secara keseluruhan di 2020.
Teuku menjelaskan, bila sebagian masyarakat masih menahan konsumsi, dapat dipastikan kondisi ekonomi Indonesia di 2020 belum akan pulih sepenuhnya.
“Untuk mendongkrak pertumbuhan ekonomi pada sisa kuartal di tahun 2020, pemerintah perlu mencermati tekanan eksternal seiring dengan tetap menjaga permintaan domestik,” terang Teuku.
Kendati demikian, ekonomi Indonesia diprediksi melejit di kisaran 4,7% hingga 5,5% pada 2021. Itu dapat terjadi bila persoalan utama dari pandemi dapat diatasi dengan baik.
“Apabila krisis kesehatan telah ditangani dan strategi pemulihan melalui stimulus moneter dan fiskal telah dilaksanakan secara efektif, kami memperkirakan pertumbuhan PDB akan kembali ke wilayah positif dan dapat mencapai level prapandemi pada 2021,” pungkasnya.
IHSG melemah
Pelaku pasar di Bursa Efek Indonesia (BEI) menantikan besaran pasti penurunan pertumbuhan ekonomi triwulan III. Meski penurunan hingga minus 3% telah diantisipasi pasar, masih ada kekhawatiran angkanya berada di atas konsensus yang beredar selama ini.
Ditambah dengan hasil pemilu AS yang masih belum memberikan kepastian akan pemenangnya, indeks harga saham gabungan (IHSG) di BEI ditutup melemah 54,25 poin atau 1,05% ke posisi 5.105,2.
Sementara itu, kelompok 45 saham unggulan atau indeks LQ45 bergerak turun 13,64 poin atau 1,72 % menjadi 781,13. “Pemilihan presiden AS yang berlangsung dengan sangat ketat membuat market bersikap hati-hati. Di sisi lain, market menanti pengumuman PDB kuartal III Indonesia besok yang diproyeksikan masih minus sehingga akan tergolong dalam kategori resesi,” kata Analis Bina Artha Sekuritas M Nafan Aji Gusta.
Saat dibuka naik, IHSG relatif nyaman bergerak di teritori positif pada sesi pertama. Namun, pada sesi kedua, IHSG turun dan tak mampu beranjak dari zona merah hingga penutupan perdagangan saham.
“Keliatannya Donald Trump bisa kembali memenangi kursi presiden untuk kedua kali, jadi market khususnya Indonesia reaksinya cukup negatif,” ujar Technical Analyst Indo Premier Sekuritas, Mino. (Des/Ant/E-1)
Ketidakpastian global akibat meningkatnya risiko geopolitik dan perlambatan ekonomi dunia masih menjadi tantangan utama pada 2026.
Allianz Global Investors (AllianzGI) menilai perekonomian global memasuki 2026 dalam kondisi yang masih tertekan, namun menunjukkan ketahanan yang relatif solid.
GUBERNUR Bank Indonesia Perry Warjiyo mengatakan berdasar kajian kondisi perekonomian sepanjang 2025, pertumbuhan ekonomi Indonesia pada 2025 diperkirakan berada pada kisaran 4,7%-5,5%.
Gubernur Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo mengajak seluruh pemangku kepentingan untuk meninggalkan sikap wait and see atau bereaksi menunggu terhadap dinamika pasar.
GUBERNUR Bank Indonesia (BI) Perry Warjiyo menegaskan masih terbuka peluang penurunan lanjutan suku bunga acuan atau BI Rate pada tahun ini.
Terpilihnya Thomas Djiwandono sebagai Deputi Gubernur Bank Indonesia (BI) dinilai menjadi langkah positif bagi penguatan kebijakan ekonomi nasional.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved