Headline

Pemerintah tetapkan 1 Ramadan pada Kamis, 19 Februari 2026.

Ini Tiga Indikator Agar Aktivitas Ekonomi dan Sosial Bisa Dimulai

Anggitondi Martaon
26/5/2020 14:22
Ini Tiga Indikator Agar Aktivitas Ekonomi dan Sosial Bisa Dimulai
Kepadatan lalu lintas di Jalan Gatot Subroto menuju arah Pancoran, Jakarta. (MI/Fransisco Carolio)

GUGUS Tugas Percepatan Penanganan Covid-19 mengeluarkan tiga indikator kesehatan masyarakat. Indikator ini menjadi acuan yang harus dipenuhi, jika suatu daerah ingin memulai aktivitas ekonomi dan sosial di tengah pandemi covid-19.

Kepala Ketua Tim Pakar Gugus Tugas Percepatan Penanggulangan Covid- 19, Wiku Bakti Bawono, menuturkan penetapan indikator ini berangkat dari rekomendasi Organisasi Kesehatan Dunia (WHO). Seluruh negara diminta membuat indikator untuk melihat kondisi penyebaran covid-19, serta menjadi acuan memulai aktivitas ekonomi dan sosial.

"Jadi indikator kesehatan masyarakat ini berlaku untuk semua daerah. Tetapi, gambaran setiap daerah berbeda-beda," ujar Wiku dalam konferensi pers di Graha BNPB, Selasa (26/5).

Baca juga: Presiden Optimistis Kurva Penularan Covid-19 Akan Terus Turun

Adapun indikator pertama yang harus dipenuhi ialah gambaran epidomoligi. Indikator ini terdiri dari beberapa bagian, yaitu peningkatan kasus positif, orang dalam pemantauan (ODP) dan pasien dalam pemantauan (PDP).

Wiku menegaskan peningkatan kasus positif, ODP dan PDP harus turun minimal 50%. Penurunan akan dihitung sejak dua pekan puncak lonjakan kasus positif, ODP dan PDP.

"Jadi, semua (kasus positif, ODP dan PDP) diharapkan turun, tapi konsisten turunnya selama dua pekan," jelasnya.

Indikator epidomologi juga mencakup kasus kematian akibat covid-19. Dalam hal ini, jumlah korban jiwa harus mengalami penurunan. “Kalau ini (kematian akibat covid-19) tidak ada target penurunanya berapa, tapi tetap harus turun," imbuh Wiku.

Baca juga: Anies: Perpanjangan PSBB Jadi Penentu Transisi Menuju New Normal

Wiku menyebut semua bagian dari indikator epidomoligi harus memenuhi target. Indikator epidomoligi tidak memenuhi syarat, jika hanya satu komponen yang berhasil mencapai target.

"Kalau hanya meninggal yang turun tetap tidak bisa. Memang diusahakan semua kinerja itu baik," pungkasnya.

Indikator yang kedua, yaitu surveilans kesehatan masyarakat. Setiap daerah dituntut meningkatkan kapasitas pemeriksaan masyarakat maupun uji laboratorium.

"Giliran pemeriksaan naik yang positif harus kecil. Baru keadaan sudah bisa dikatakan aman," ucap Wiku.

Baca juga: Kesuksesan Implementasi New Normal Ada di Tangan Masyarakat

Indikator terakhir ialah pelayanan kesehatan. Pemerintah ingin memastikan fasilitas kesehatan di daerah dalan kondisi baik. "Yang dimaksud adalah jumlah tempat tidurnya berapa, lalu jumlah APD (alat pelindung diri) berapa," katanya.

Wiku menjelaskan ketiga indikator ditampilkan melalui peta risiko yang terbagi dalam tiga kelompok, yaitu tinggi, sedang dan rendah. Aktivitas sosial dan ekonomi bisa dimulai kembali jika peta risiko suatu daerah masuk dalam kategori rendah.

"Jadi harus berusaha kasusnya tidak naik. Karena kalau risikonya tinggi, terjadi pergolakan sedikit, maka naiknya akan cepat. Tapi kalau turun terus (kasus positif, ODP dan PDP), maka risikonya makin rendah," tandasnya.(OL-11)

 



 



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik