Headline
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Pelibatan tokoh dan elite politik akan memperkuat legitimasi kebijakan pemerintah.
Kumpulan Berita DPR RI
PT Perusahaan Listrik Negara (PLN) berhasil menuntaskan pembangunan saluran udara tegangan ekstra tinggi (SUTET) 275 kilovolt (kv) yang menjadi backbone kelistrikan di Sumatra.
SUTET 275 kv Sumatra yang dioperasikan pada awal Oktober 2019 membentang dari Lahat-Pangkalan Susu sepanjang 2.936 kilometer sirkuit (kms) dengan jumlah tower sebanyak 3.789 tower serta 14 GITET untuk jalur Pangkalan Susu-Sigli dan Lahat-Lampung.
Dikenal dengan nama Tol Listrik Sumatra tahap 1, Transmisi ini merupakan backbone penyaluran energi listrik dari Sistem Sumatera Bagian Selatan menuju Sumatera Bagian Utara atau sebaliknya.
Vice President Public Relation PLN Dwi Suryo Abdullah mengatakan kehadiran SUTET 275 kv ini akan memberikan kemudahan bagi investor untuk berinvestasi.
"Karena selama ini yang ditanya investor ketersediaan listriknya," kata Dwi di sela-sela kunjungan ke PLTU Pangkalan Susu, Sumatra Utara, kemarin.
Dengan tol listrik ini, investor tidak perlu lagi mengkhawatirkan pasokan energi.
"Di mana pun kawasan industri akan dibangun, baik itu di Sumatra Utara, Jambi, Bengkulu, Aceh tidak perlu khawatir. Kami siap untuk menyuplai listriknya," ujarnya.
Selain itu, kehadiran tol listrik ini diperkirakan memberikan penghematan biaya pokok produksi (BPP) pasca-interkoneksi ini sebesar Rp69 per kwh atau sekitar Rp163 miliar dalam 3 bulan terakhir.
"Dengan adanya Tol Listrik Sumatra 275 kv keandalan listrik Sumatra semakin meningkat dan bisa menurun-kan BPP listrik di Sumatra," ujar VP Konstruksi Jaringan Regional Sumatra, Binara Nainggolan.
Jaringan itu mampu meng-evakuasi daya hingga 2.000 Mw dari Sumatra Selatan yang kelebihan pasokan. (Hde/E-1)
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Pejabat Sementara (Pjs) Direktur Utama PT Bursa Efek Indonesia (BEI), Jeffrey Hendrik, mengingatkan para investor untuk tetap bersikap rasional di tengah konflik Timur Tengah.
Pasar saham akan dibayangi sentimen risk off. Hal itu menyusul memburuknya situasi geopolitik di Timur Tengah pascaserangan terkoordinasi AS-Israel terhadap Iran.
Tren investasi pada 2026 diproyeksikan semakin mengarah pada penguatan portofolio yang mampu bertahan di tengah gejolak pasar.
Ketidaksinkronan antara data administratif dan realitas pasar ini menjadi salah satu alasan mengapa lembaga internasional mulai mempertanyakan kredibilitas tata kelola ekonomi nasional.
Jumlah investor pasar modal mencapai 20 juta pada akhir 2025, hanya 5% dari total penduduk Indonesia.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved