Headline
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Sekitar 50% anak pengguna internet pernah terpapar konten seksual di medsos.
Kumpulan Berita DPR RI
BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia pada kuartal III 2019 sebesar 5,02% year on year (yoy). Bila dilihat per kuartal (quarter to quarter/qtq), pertumbuhan tumbuh sebesar 3,06% dan apabila dilihat secara kumulatif, pertumbuhan ekonomi nasional sejak kuartal pertama hingga ketiga tumbuh sebesar 5,04%.
Kepala BPS Suhariyanto mengungkapkan pertumbuhan Indonesia tumbuh positif meski mengalami pelambatan.
"Ini tidak terlalu curam dibanding dengan negara maju dan negara berkembang lainnya di tengah perang dagang yang terjadi," ujarnya dalam konferensi pers di kantornya, Selasa (5/11).
Suhariyanto memaparkan pertumbuhan per kuartal sebesar 3,06% didorong oleh pertumbuhan lapangan usaha di sektor pengadaan listrik dan gas sebesar 4,94%, sektor konstruksi sebesar 4,76% dan 4,66% dari sektor jasa keuangan dan asuransi.
Sementara pertumbuhan lapangan usaha yoy, lanjut Suhariyanto banyak didorong oleh jasa lainnya sebesar 10,72%, jasa perusahaan sebesar 10,22% dan 9,19% dari sektor jasa kesehatan dan kegiatan sosial.
"Tiga sektor itu baik qtq maupun yoy merupakan pertumbuhan tertinggi lapangan usaha," jelas Suhariyanto.
Baca juga: Pertumbuhan Ekonomi Indonesia Lebih Baik dari Negara Lain
Lebih lanjut, ia menuturkan terdapat 9 sektor yang tumbuh positif namun mengalami pelambatan secara tahunan, di antaranya industri 4,15% sebelumnya di 2018 berada di angka 4,35%. Kemudian sektor pertanian sebesar 3,08% yang di tahun sebelumnya sebesar 3,66% dan perdagangan di 2018 sebesar 5,28% sementara di 2019 sebesar 4,75%
Pertumbuhan di sektor industri, imbuh Suhariyanto, terjadi lantaran berbagai fenomena yang terjadi pada kuartal III seperti peningkatan produksi crude palm oil (CPO) yang meningkat sejalan dengan konsumsi domestik CPO.
"Industri karet, barang dan karet dari plastik mengalami kontraksi disebabkan penurunan permintaan luar negeri dan produksi dalam negeri, sejalan dengan penurunan produksi mobil dan motor sebagai pengguna produk karet," tukas Suhariyanto.
Sektor pertanian tumbuh positif meski mengalami pelambatan. Hal itu didasari adanya penurunan produksi tanaman pangan akibat musim kemarau dan peternakan yang tumbuh karena peningkatan permintaan domestik.
Sementara di sektor perdagangan, pertumbuhan terjadi lantaran adanya peningkatan penjualan retail dan peningkatan produksi barang-barang hasil pertanian dan industri pengolahan.
"Sumber pertumbuhan ekonomi Indonesia pada triwulan ke-3 secara yoy disumbang oleh industri pengolahan sebesar 0,86%" tandas Suhariyanto.(OL-5)
DALAM lima tahun terakhir, harga beras di tingkat konsumen terus naik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 4,76%, berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09%.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025
BPS beberkan data perdagangan RI di jalur Selat Hormuz di tengah konflik Iran-Israel. Intip nilai ekspor-impor miliaran dolar yang terancam jika jalur ini lumpuh.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved