Headline
Membicarakan seputar Ramadan sampai dinamika geopolitik.
Kumpulan Berita DPR RI
PEMBANGUNAN Infrastruktur yang dijadikan fokus utama pada pemerintahan jilid pertama Presiden Joko Widodo dinilai Direktur Riset Center of Reform on Economics (CORE) Piter Abdullah belum efektif mendorong pertumbuhan ekonomi.
Ia menegaskan, hal itu bukan berarti kegagalan dalam pembangunan infrastruktur, hanya saja menurutnya, pembangunan ekonomi harusnya tidak hanya fokus pada salah satu sektor saja.
"Saya tidak melihat kegagalan dari Jokowi, cuma masih kurang maksimal. Dia banyak membangun infrastruktur, tapi pembangunan ekonomi jangan hanya bertumpu pada satu sektor, harus dikembangkan lagi. Harus ada grand strategi," kata dia di sela-sela acara Dialog 100 Ekonom Bersama Wakil Presiden Jusuf Kalla, Jakarta, Kamis (17/10).
Menurut Piter selama 5 tahun periode pertama pemerintahan Jokowi, tidak terlihat strategi untuk menghambat penurunan pertumbuhan sektor industri. Padahal, perlambatan sektor industri sudah terasa sejak era pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono.
Merujuk pada data badan pusat statistik (BPS) pertumbuhan industri pada kuartal kedua 2019 hanya mampu tumbuh sebesar 3,5%. Hal ini, lanjut Piter, didorong oleh hilirisasi industri yang tidak berjalan.
Baca juga : JK Tegaskan Indonesia Tidak Alami Deindustrialisasi
Derasnya barang impor yang masuk, juga turut memukul pertumbuhan industri dalam negeri.
Padahal, katanya, tren neraca perdagangan Indonesia dalam beberapa tahun belakangan selalu surplus. Sedangkan pada September ini saja neraca perdagangan mengalami defisit sebesar 160,5 juta dolar AS
"Sekarang defisit karena barang-barang komoditi sekarang turun. Dan impornya besar," ujarnya.
Ia pun menuturkan, di tengah ketidaksiapan industri dalam negeri, pemerintah malah sibuk membuka pasar bebas dengan penandatanganan sejumlah perjanjian dagang internasional seperti Comprehensive Economic Partnership Agreement (CEPA) dan Free Trade Agreement (FTA).
Hal tersebut dinilai justru tidak meningkatkan ekspor Indonesia. Sebaliknya malah meningkatkan arus impor barang dari luar negeri.
Menurutnya, barang-barang industri dalam negeri tidak diproduksi dan masih memiliki ketergantungan dengan impor bahan baku dan barang modal dari luar.
Baca juga : Pertumbuhan Ekonomi Modal Gaet Investor
"Secara natural mau tidak mau ekspor kita harus tumbuh. Kita tidak punya strategi menahan laju impor. Kita sibuk bikin CEPA dan FTA. Kita harus evaluasi perjanjian internasional ini," ucapnya.
Lebih jauh dia mengatakan, yang pertama harus dipikirkan oleh pemerintahan ke depan adalah cara meningkatkan pertumbuhan industri. Pasalnya, jika ke depan pemerintah akan fokus kepada sumber daya manusia (SDM) maka sektor industri harus ditingkatkan.
"Karena yang akan menyerap angkatan kerja manusia Indonesia adalah sektor industri. Yang akan menaikan pertumbuhan perekonomian juga dari sektor industri," jelasnya.
Selain itu, dia mengatakan Indonesia harus mengubah struktur ekonominya, tidak lagi bertumpu pada barang komoditi seperti tambang dan karet, namun harus kembangkan industri hilir dan juga mengurangi impor.
"Namun ketika impor dibatasi kita harus bangun industri. Karena bahan baku yang kita butuhkan harus disediakan dulu. Kita harus petakan industri kita seperti apa," pungkasnya, (OL-7)
UBS menggelar UBS OneASEAN Summit untuk ke-14 kalinya dengan menghadirkan lebih dari 850 investor institusional, pembuat kebijakan, serta pemimpin industri dari berbagai negara.
Bank Indonesia (BI) mengapresiasi catatan surplus neraca perdagangan Indonesia pada Januari tahun ini.
Gubernur BI Perry Warjiyo proyeksikan pertumbuhan ekonomi RI triwulan I 2026 tetap kuat di tengah tantangan global. Simak faktor pendorong dan analisisnya.
Presiden Prabowo Subianto menjelaskan langkah pemerintah dalam mempertahankan pertumbuhan ekonomi nasional di atas 5% sekaligus mempercepat pembangunan konektivitas.
Pelajari cara menghitung pertumbuhan ekonomi suatu negara dengan rumus PDB riil. Panduan lengkap beserta indikator dan contoh penghitungan mudah.
Transisi menuju ekonomi sirkular dinilai penting untuk mendukung pertumbuhan yang inklusif, meningkatkan daya saing nasional, serta membantu pencapaian target Net Zero Emissions 2060.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved