Headline

Pelanggaran terhadap pembatasan operasional truk memperparah kemacetan.

Ekspor RI Diprediksi Masih Bisa Tumbuh 4%–5%, Ini Catatannya

Ihfa Firdausya
19/3/2026 15:35
Ekspor RI Diprediksi Masih Bisa Tumbuh 4%–5%, Ini Catatannya
Ilustrasi.(Dok.MI)

EXIMBANK atau Lembaga Pembiayaan Ekspor Indonesia (LPEI) memperkirakan bahwa ekonomi Indonesia masih diperkirakan tumbuh 4-5 persen dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas dan perdagangan global. Namun ada kondisi yang memungkinkan ekonomi Indonesia dapat tumbuh.

"Dengan mempertimbangkan dinamika harga komoditas serta kondisi perdagangan global, ekspor Indonesia pada 2026 diperkirakan masih dapat tumbuh pada kisaran 4–5%, dan berpotensi meningkat menjadi sekitar 5–6% pada 2027, dengan catatan permintaan global pulih secara bertahap dan meredanya tensi geopolitik," ujar Head of Indonesia Eximbank Institute Rini Satriani

Ia  menyebut dampak langsung eskalasi konflik di Timur Tengah terhadap perdagangan Indonesia diperkirakan relatif terbatas. Hal itu mengingat eksposur perdagangan RI dengan kawasan tersebut masih kecil.

Data Badan Pusat Statistik (BPS) yang diolah Indonesia Eximbank Institute menunjukkan bahwa ekspor Indonesia ke Timur Tengah hanya sekitar 4,2% dari total ekspor nasional. Komoditas utama meliputi minyak kelapa sawit (HS 1511), perhiasan (HS 7113), serta mobil dan kendaraan bermotor lainnya (HS 8703). 

Sementara itu, impor Indonesia dari kawasan tersebut mencapai sekitar 3,9% dari total impor nasional dan didominasi oleh komoditas energi, khususnya minyak. 

"Struktur perdagangan tersebut menunjukkan bahwa eksposur perdagangan langsung Indonesia terhadap kawasan konflik relatif terbatas," kata  dalam keterangan yang diterima, Kamis (19/3).

Berdasarkan data terkini, sebagian besar ekspor Indonesia mengalir ke kawasan lain seperti Asia Timur (36,4%), Asia Tenggara (20,8%), Amerika Utara (11,5%), Asia Selatan (9,6%), dan Eropa Barat (5,7%). Karena itu dinamika ekonomi di kawasan-kawasan tersebut tetap menjadi faktor yang menentukan bagi kinerja ekspor nasional. 

Rini mengatakan bahwa perkembangan konflik dan implikasinya terhadap perdagangan global terus dipantau, terutama terkait stabilitas jalur energi internasional. 

“Kami memonitor secara cermat dinamika di kawasan Timur Tengah, termasuk keamanan jalur pelayaran strategis seperti Selat Hormuz yang merupakan salah satu arteri utama perdagangan energi dunia,” ujar Rini. 

Kawasan tersebut memiliki peran strategis dalam sistem energi global karena menyumbang lebih dari 30% produksi minyak dunia. Sementara sekitar 20–30% perdagangan minyak global melewati Selat Hormuz. Gangguan pada jalur ini dapat dengan cepat memengaruhi harga energi internasional sekaligus meningkatkan biaya logistik perdagangan global. 

Walaupun impor minyak Indonesia tidak secara langsung berasal dari Timur Tengah, dampaknya tetap dapat dirasakan melalui jalur perdagangan regional. Sekitar 75% impor minyak Indonesia berasal dari Singapura dan Malaysia, yang merupakan pusat perdagangan dan pengolahan minyak di Asia.

Kedua negara tersebut juga mengimpor minyak mentah dari Timur Tengah, sehingga gangguan pasokan di kawasan tersebut dapat mendorong kenaikan harga energi yang dihadapi Indonesia. 

Indonesia Eximbank Institute juga mencermati dampak perubahan distribusi energi global terhadap negara-negara pengimpor utama minyak Timur Tengah seperti Tiongkok, Jepang, India, dan Korea Selatan. Negara-negara tersebut merupakan konsumen energi utama dari kawasan Teluk sekaligus pasar ekspor penting bagi Indonesia.

"Peningkatan biaya energi berpotensi menekan aktivitas industri di negara-negara tersebut dan memengaruhi permintaan terhadap produk ekspor Indonesia," katanya.

Apabila ketegangan geopolitik berlangsung dalam periode yang relatif lama, harga minyak global sepanjang 2026 diperkirakan bergerak pada kisaran US$85–US$120 per barel secara rata-rata. Angka itu lebih tinggi dibandingkan rata-rata awal tahun yang masih berada di sekitar US$60 per barel. 

Rini memaparkan, kenaikan harga energi dan biaya logistik berpotensi meningkatkan biaya produksi di berbagai sektor industri global. Bagi eksportir Indonesia, tekanan tersebut akan lebih terasa pada sektor yang memiliki ketergantungan tinggi terhadap bahan baku impor, seperti industri manufaktur, petrokimia, dan logam dasar. 

"Dalam kondisi tersebut, kenaikan biaya input dapat menggerus margin produksi, terutama apabila di saat yang sama permintaan global mengalami perlambatan," jelasnya. (H-4)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Indriyani Astuti
Berita Lainnya
Opini
Kolom Pakar
BenihBaik