Headline

Utusan AS mengungkapkan Dewan Perdamaian juga akan beroperasi di wilayah selain Gaza.

Ekspor dan Investasi Perlu Ditingkatkan

Andhika Prastyo [email protected]
07/5/2019 07:20
 Ekspor dan Investasi Perlu Ditingkatkan
Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Kecuk Suhariyanto(ADAM DWI )

BADAN Pusat Statistik (BPS) mencatat pertumbuhan ekonomi Indonesia kuartal pertama 2019 sebesar 5,07%. Angka tersebut naik tipis dari capaian di periode yang sama tahun sebelumnya yang hanya 5,06%. Meski demikian, banyak hal yang mesti diperbaiki pemerintah, di antaranya dengan mendorong ekspor.

Kepala BPS Suhariyanto mengatakan, meski tipis, pertumbuhan kali ini menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan capaian kuartal pertama dalam empat tahun terakhir. Pada 2016, pertumbuhan ekonomi di tiga bulan pertama hanya 4,94%. Masih di periode yang sama, pada 2017 tercatat 5,01% dan pada 2018 sebesar 5,06%. "Capaian kali ini cukup baik karena menjadi yang tertinggi jika dibandingkan dengan tahun-tahun sebelumnya," ujar dia di kantornya, Jakarta, kemarin.

Kondisi Indonesia, kata dia, juga lebih baik jika dibandingkan dengan negara-negara maju yang juga merupakan para mitra dagang utama. Tiongkok, misalnya, pada kuartal pertama tahun ini hanya tumbuh 6,4%, lebih lambat dari periode yang sama tahun sebelumnya yang sebesar 6,8%.

Begitu pun Singapura, yang mengalami pelemahan sangat signifikan dari 4,7% di kuartal pertama 2018 menjadi 1,3% di periode yang sama saat ini. Kemudian, Korea Selatan tumbuh yang hanya 1,8%, padahal pada kuartal pertama tahun lalu mencapai 2,8%.

Menurut Suhariyanto, pertumbuhan ekonomi Indonesia kali ini ditopang Komponen Pengeluaran Konsumsi Lembaga Nonprofit yang melayani Rumah Tangga (PK-LNPRT) yang mencapai 16,93%, meninggalkan jauh capaian periode yang sama pada 2018 yang hanya 6,58%.

Dia menjelaskan, kenaikan itu terjadi lantaran masifnya kegiatan kampanye dalam gelaran pemilu kali ini. "Kelompok ini menyumbang pengeluaran sangat besar untuk keperluan kampanye. Ini sangat mendukung pertumbuhan ekonomi kuartal pertama," ujar pria yang akrab disapa Kecuk tersebut.

Lebih jauh, dia menambahkan, kontributor terbesar kedua datang dari Pengeluaran Konsumsi Pemerintah yang mencapai 5,21% dan diikuti Komponen Pembentukan Modal Tetap Bruto sebesar 5,03%. Adapun, Konsumsi Rumah Tangga hanya tumbuh 5,01%. Kendati demikian, komponen tersebut tetap menjadi struktur pembentuk terbesar bagi pertumbuhan ekonomi Indonesia dengan persentase mencapai 56,82%.

Perlu perbaikan

Menanggapi rilis BPS ini, Kepala Ekonom BNI Ryan Kiryanto mengatakan pertumbuhan ekonomi pada kuartal I yang sebesar 5,07% yoy patut disyukuri karena masih lebih tinggi dari periode yang sama tahun lalu. Namun, dia menyoroti beberapa hal yang perlu diperbaiki pemerintah, antara lain mendorong kontribusi konsumsi rumah tangga tumbuh ke kisaran 5,5%, mendorong pertumbuhan belanja pemerintah ke kisaran 8%, dan kontribusi pertumbuhan investasi ke kisaran 10%, baik investasi asing maupun modal dalam negeri, serta mendorong pertumbuhan ekspor setidaknya di kisaran 3%."Pemerintah harus jeli mendorong sektor ekonomi produktif untuk bisa tumbuh lebih kuat lagi, yaitu sektor pengolahan, perdagangan, pertanian, konstruksi, dan pertambangan," tegasnya.

Hal senada dikatakan pengamat ekonomi Indef, Bhima Yudhistira. "Pemerintah harus bekerja keras menarik investasi, mendorong industri terutama manufaktur bergerak di dalam negeri, dan kemudian produksi yang dihasilkan bisa menjadi senjata untuk ekspor," ujar Bhima, kemarin. (Try/E-2)



Cek berita dan artikel yg lain di Google News dan dan ikuti WhatsApp channel mediaindonesia.com
Editor : Triwinarno
Berita Lainnya