Headline
Indonesia tangguhkan pembahasan soal Dewan Perdamaian.
Kumpulan Berita DPR RI
KONSUMSI rumah tangga pada triwulan IV /2018 tumbuh 5,08%. Deputi Bidang Neraca dan Analisis Statistik BPS Sri Soelistyowati mengatakan meski belum bisa memastikan bila tren konsumsi akan terus bertengger di atas 5% , namun dia lihat semua indikatornya bagus, terutama pada sektor leisure yang meningat.
Dia menekankan gaya hidup yang semakin memudahkan rutinitas memasak dengan makanan pesan antar atau delivery menjadi salah satu pendorong konsumsi.
"Sekarang kita belanja makanan jadi, akomodasi, transportasi, rekreasi sekarang shifting ke sana. Mungkin orang lebih suka selfie daripada masak makanan karena barang makanannya itu relatif melambat, sementara yang konsumsi makanan jadi naik. Bahan makanan tidak masuk ke leisure, tapi makanan jadi masuk dan naik. Jadi makanan jadi misalnya yang beli di restoran dan belanja lewat go-food, misalnya," ujar Sri di Kantor BPS, Jakarta, Rabu (6/2).
Baca juga: Pengumuman PDB Diprediksi Tingkatkan Selera Investor ke Rupiah
Peningkatan permintaan pesan antar atau delivery, terlihat dari survei BPS akan kategori belanja restoran, di semua kabupaten kota. Dia akui ada pengaruh terhadap konsumsi dari layanan pesan antar makanan melalui aplikasi.
"Setiap triwulan kami tracking. Kami juga cross checked kelaku jasa delivery, juga ada survei ke pengeluaran, pertanyaannya detail dan itu dilakukan setiap bulan. Ada panel dan pergerakannya," tukas Sri.
Dalam paparannya, BPS menyatakan pertumbuhan ekonomi di tahun 2018 banyak ditopang oleh pertumbuhan pengeluaran konsumsi rumah tangga dengan andil sebesar 2,74%. Tercatat konsumsi rumah tangga sepanjang 2018 tumbuh sebesar 5,05%, yang mana meningkat dari tahu 2017 yang hanya sebesar 4,95%.
Subkelompok dalam konsumsi rumah tangga yang tumbuh paling pesat sepanjang 2018 adalah subkelompok Restoran dan Hotel, dimana tumbuh 5,74%. Sedangkan subkelompok Makanan dan Minuman selain restoran hanya tumbuh 5,05% sepanjang 2018.
"Hal tersebut mengindikasikan adanya perubahan pola prilaku masyarakat seiring dengan semakin mudahnya mendapatkan makanan jadi berkat bantuan teknologi, seperti delivery," ujar Kepala Badan Pusat Statistik (BPS) Suhariyanto di Jakarta, Rabu (6/2). (OL-3)
DALAM lima tahun terakhir, harga beras di tingkat konsumen terus naik.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat inflasi Februari 2026 secara tahunan (yoy) tercatat sebesar 4,76%, berbanding terbalik dengan kondisi Februari 2025 yang mengalami deflasi 0,09%.
BADAN Pusat Statistik (BPS) melaporkan nilai ekspor Indonesia pada Januari 2026 mencapai 22,16 miliar dolar AS atau tumbuh 3,39 persen dibandingkan Januari 2025
BPS beberkan data perdagangan RI di jalur Selat Hormuz di tengah konflik Iran-Israel. Intip nilai ekspor-impor miliaran dolar yang terancam jika jalur ini lumpuh.
Badan Pusat Statistik (BPS) mencatat nilai ekspor mencapai US$22,16 miliar. Angka itu meningkat 3,39% secara tahunan.
Badan Pusat Statistik (BPS) melaporkan bahwa neraca perdagangan Indonesia pada Januari 2026 mencatat surplus sebesar 0,95 miliar dolar AS.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved