Headline
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
“Damai bukan sekadar absennya perang. Ia adalah kebajikan,” tulis filsuf Baruch Spinoza.
Kumpulan Berita DPR RI
Badai yang menyebabkan turunnya curah hujan dalam jumlah yang sangat tinggi sering kali menyebabkan banjir dan membahayakan keselamatan manusia, infrastruktur, dan ekosistem.
Seiring dengan perubahan iklim yang semakin buruk, kejadian ekstrem seperti itu kemungkinan akan menjadi lebih intens terjadi di berbagai wilayah di seluruh dunia, termasuk Indonesia.
Ada ratusan penelitian yang mencoba mengaitkan aspek cuaca ekstrem dengan perubahan iklim yang disebabkan manusia. Salah satunya adalah penelitian yang diprakarsai ilmuwan fisika iklim yang berbasis di Swiss.
“Ada kesepakatan luas di antara para ilmuwan bahwa pada prinsipnya, mereka dapat menjawab pertanyaan tentang seberapa besar suatu peristiwa disebabkan atau diperburuk oleh perubahan iklim,” ujar Claudia Gessner seperti dilansir dari Phys pada Selasa (19/9).
Melalui sebuah simulasi ilmiah, Gessner dan rekan-rekannya telah menunjukkan cara baru untuk menggabungkan simulasi badai dengan pendekatan statistik untuk memperkirakan dengan lebih baik seberapa ekstrem kejadian curah hujan di masa depan.
“Meskipun bencana paling ekstrem jarang terjadi, catatan sejarah yang tersedia seringkali terlalu pendek untuk memberikan perkiraan yang dapat diandalkan. Maka upaya untuk mempersiapkan diri menghadapi berbagai bencana ekstrem di masa depan akan memberi manfaat untuk mencegah adanya korban,” ungkapnya.
Penelitian yang berfokus di wilayah Eropa tengah pada musim dingin tepatnya Oktober-April ini menggunakan pendekatan statistik untuk mengevaluasi kemungkinan kejadian ekstrem di masa depan yang diprediksi dari data historis dunia nyata dan dari simulasi yang dibuat dengan menggunakan Community Earth System Model Versi 2.
Analisis yang dihasilkan menunjukkan bahwa kejadian curah hujan yang jauh lebih intens daripada yang pernah tercatat sebelumnya akan mungkin terjadi dalam waktu dekat di wilayah tersebut. Namun, perkiraan statistik tersebut memiliki tingkat ketidakpastian yang tinggi dan tidak membahas mekanisme fisik di balik kejadian ekstrem di masa depan.
Oleh karena itu, para peneliti kemudian menerapkan pendekatan yang dikenal sebagai ensemble boosting dengan menggabungkan prediksi dari berbagai simulasi terkait kejadian curah hujan ekstrem di masa lalu yang terjadi di dunia nyata dari waktu ke waktu. Hal ini juga tergantung pada perubahan kelembaban yang sangat kecil beberapa hari sebelum kejadian.
Pendekatan ini menghasilkan sebuah perkiraan yang mengindikasikan bahwa kejadian ekstrem di masa mendatang dapat menghasilkan volume curah hujan sekitar 30% hingga 40% lebih tinggi daripada yang terlihat pada kejadian di masa lalu. Melalui hasil tersebut, para peneliti mencatat bahwa besaran curah hujan yang lebih tinggi di masa depan tidak dapat dihindari.
Lebih lanjut, studi yang diterbitkan dalam jurnal Earth's Future ini menunjukkan bahwa beberapa kejadian curah hujan dan musim dingin yang paling ekstrem di Eropa, dapat dikaitkan dengan pola tekanan atmosfer di permukaan laut. Hal ini juga dipengaruhi oleh keadaan sungai-sungai di atmosfer yang bertanggung jawab atas sebagian curah hujan di wilayah tertentu.
Para Ilmuwan mengatakan ensemble boosting dan pendekatan statistik dalam penelitian ini dapat saling melengkapi dengan baik dalam upaya untuk memperkirakan intensitas cuaca ekstrem di masa depan, “Pendekatan ini dapat memberikan cara untuk menguji ketahanan infrastruktur dan ekosistem bumi dalam menghadapi berbagai kejadian ekstrem." (M-3)
Penelitian terbaru Universitas Alaska Fairbanks mengungkap hilangnya es pesisir (landfast ice) di Laut Beaufort dan Chukchi yang kini mencair lebih cepat.
Penelitian terbaru di jurnal Nature mengungkap fakta mengejutkan. Serangga di wilayah tropis, termasuk Amazon, terancam punah karena tidak mampu beradaptasi dengan kenaikan suhu ekstrem.
Suhu Greenland Maret 2026 menunjukkan tren menghangat yang mengkhawatirkan. Simak update terbaru mengenai "Zona Gelap" dan dampaknya bagi permukaan laut dunia.
Peneliti terkejut menemukan Gletser Hektoria di Antartika kehilangan separuh wilayahnya dalam waktu singkat. Simak penyebab "gempa gletser" dan ancaman kenaikan permukaan laut.
Peneliti Cornell University merilis peta global yang mengungkap 70% emisi lahan pertanian berasal dari sawah padi dan pengeringan lahan gambut.
Peneliti menemukan penurunan kadar garam di Samudra Hindia bagian selatan. Fenomena ini mengancam sistem sirkulasi laut global dan iklim dunia.
Angin puting beliung akibat cuaca ekstrem melanda dua desa di Kabupaten Bekasi, Jawa Barat, dan mengakibatkan kerusakan pada 27 rumah warga di Kecamatan Cikarang Pusat dan Cikarang Selatan.
Berdasarkan data Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bandung Barat, sedikitnya 10 rumah di dua kecamatan mengalami kerusakan akibat terjangan angin kencang.
Fenomena yang rutin terjadi pada bulan Maret dan September ini menyebabkan intensitas radiasi matahari di wilayah Kalimantan mencapai titik maksimal.
Kepala Pelaksana BPBD Kota Kediri Joko Arianto, di Kediri, Minggu, mengemukakan BPBD secara masif memberikan informasi terkait dengan prakiraan cuaca.
BMKG juga mencatat potensi hujan lebat dapat terjadi secara lokal, seperti di wilayah Pulosari, Kabupaten Pemalang, serta Bumijawa dan Bojong di Kabupaten Tegal.
Hujan deras disertai angin kencang membuat pohon tumbang dan mengalangi jalan protokol hingga sebagian jalan tergenang banjir.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved