Headline
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Skor dan peringkat Indeks Persepsi Korupsi Indonesia 2025 anjlok.
Kumpulan Berita DPR RI
Nun jauh di sana, berjarak lebih dari 260 tahun cahaya dari Bumi, ada sebuah planet di luar tata surya kita. Ilmuwan memberinya nama LTT9779b. Planet ini ditemukan tiga tahun silam. Ia mengorbit pada bintang/mataharinya hanya dalam waktu 19 jam.
Anehnya, dan ini yang menarik para ilmuwan, planet itu memantulkan 80% cahaya dari bintang induknya. Hal itu diketahui berdasarkan pengamatan terbaru dari teleskop ruang angkasa Cheops, yang khusus menyelidik planet di luar tata surya.
Fenomena itu menjadikannya planet di luar tata surya pertama yang sebanding dengan Venus, yang merupakan objek paling terang di langit malam selain Bulan.
Karena sangat dekat dengan orbitnya, sisi planet yang menghadap bintangnya bersuhu 2.000 derajat Celcius, yang dianggap terlalu panas untuk membentuk awan. Namun, planet LTT9779b tampaknya justru memilikinya.
"Itu benar-benar sebuah teka-teki," kata Vivien Parmentier, seorang peneliti di Observatorium Cote d'Azur Prancis dan salah satu penulis studi baru di jurnal Astronomi dan Astrofisika.
“Para peneliti kemudian menyadari bahwa kita harus memikirkan pembentukan awan ini dengan cara yang sama seperti pembentukan kondensasi di kamar mandi setelah kita mandi dengan air panas," katanya dalam sebuah pernyataan.
"Seperti air panas yang mengalir ke kamar mandi, aliran logam dan silikat (bahan pembuat kaca) membuat atmosfer LTT9779b terlalu jenuh hingga awan metalik terbentuk, “ imbuhnya.
Menurut ilmuwan proyek Cheops Badan Antariksa Eropa, Maximilian Guenther, awan metalik planet ini berfungsi seperti cermin, memantulkan cahaya, dan mencegah atmosfer tertiup angin. "Ia berfungsi seperti perisai, seperti di film-film Star Trek lama, di mana ada perisai di sekitar kapal mereka," katanya kepada AFP.
“Penelitian tersebut menandai tonggak sejarah baru karena menunjukkan bagaimana planet seukuran Neptunus ini dapat bertahan,” tambahnya.
Teleskop antariksa Cheops Badan Antariksa Eropa diluncurkan ke orbit Bumi pada 2019 dalam misi untuk menyelidiki planet yang ditemukan di luar tata surya kita.
Misi itu untuk mengukur reflektifitas LTT9779b dengan membandingkan cahaya sebelum dan sesudah planet di luar tata surya itu menghilang di balik bintangnya. (AFP/M-3)
Seiring meningkatnya misi komersial ke luar angkasa, para ahli memperingatkan adanya risiko kesehatan reproduksi yang terabaikan. Apakah manusia siap bereproduksi di orbit?
Fakta mengejutkan datang dari dunia sains, Bumi juga memiliki sesuatu yang menyerupai “ekor” raksasa di luar angkasa.
NAMA seorang romo sekaligus ilmuwan asal Indonesia oleh International Astronomical Union menetapkan nama Bayurisanto sebagai nama resmi sebuah asteroid
NASA laksanakan evakuasi medis pertama dalam sejarah ISS.
NASA merilis foto luar biasa kolaborasi James Webb dan Chandra. Dua galaksi, IC 2163 dan NGC 2207, tertangkap sedang memulai proses tabrakan dahsyat.
Para astronom untuk pertama kalinya berhasil mendeteksi ledakan besar yang dilepaskan oleh sebuah bintang di luar tata surya.
TELESKOP Luar Angkasa Hubble milik NASA kembali menghadirkan temuan penting dalam dunia astronomi.
Wahana Voyager NASA mengungkap wilayah ekstrem di heliopause, batas Tata Surya dengan ruang antarbintang, dengan suhu mencapai 50.000 kelvin.
Perbedaan kecepatan ini menciptakan tegangan magnetik yang luar biasa. Plasma yang bergerak lebih cepat di ekuator "menarik" garis-garis medan magnet.
Fenomena ini berpotensi memicu keruntuhan gravotermal, yaitu kondisi ketika inti halo terus memadat akibat aliran energi ke luar.
Berbeda dengan Bumi yang solid, Matahari berotasi dengan kecepatan yang bervariasi tergantung letak dan kedalamannya.
Pesawat Juno milik NASA menangkap fenomena letusan serentak di Io, bulan Jupiter. Energi yang dihasilkan mencapai 260 terawatt, mengungkap rahasia magma di bawah permukaannya.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved