Kamis 30 Juni 2022, 10:52 WIB

Nenek Moyang Manusia Berusia 1 Juta Tahun lebih Tua dari Perkiraan Sebelumnya

Devi Harahap | Weekend
Nenek Moyang Manusia Berusia 1 Juta Tahun lebih Tua dari Perkiraan Sebelumnya

AFP/CNRS/LAURENT BRUXELLES
Situs penggalian Gua Sterkfontein, Afrika Selatan

 

Penelitian terbaru menemukan fakta bahwa fosil nenek moyang paling awal yang ditemukan di Afrika Selatan berusia satu juta tahun lebih tua dari yang diperkirakan sebelumnya.

Hal ini mengartikan bahwa mereka hidup di Bumi pada waktu yang sama dengan kerabat mereka yakni kelompok fosil "Lucy" dari wilayah Afrika Timur.

Sebagai informasi, fosil Lucy disebut sebagai Ibu Manusia karena kepurbaannya. Penemuan fosil Lucy saat itu cukup lengkap, yakni berupa komponen tengkorak, rahang bawah, tulang anggota badan (tangan dan kaki), tulang belakang, tulang rusuk, dan tulang pinggul dari individu dewasa muda.

Gua Sterkfontein di situs warisan dunia Cradle of Humankind yang berlokasi di barat daya Johannesburg, Afrika Selatan menjadi tempat penyimpanan situs fosil Australopithecus terbanyak di dunia.

Di antara mereka ada "Nyonya Ples", tengkorak paling utuh dari fosil Australopithecus Africanus yang ditemukan di Afrika Selatan pada 1947.

Berdasarkan penaksiran terdahulu, Nyonya Ples dan fosil lainnya yang ditemukan di kedalaman gua yang sama diperkirakan berusia antara 2,1 dan 2,6 juta tahun yang lalu.

"Tapi secara kronologis itu tidak cocok," kata ilmuwan Prancis, Laurent Bruxelles, salah satu penulis penelitian yang diterbitkan jurnal ilmiah sains PNAS, seperti dilansir dari France24 pada Rabu, (29/6).

"Aneh melihat beberapa Australopithecus bertahan begitu lama," kata ahli geologi itu kepada AFP.

Sekitar 2,2 juta tahun lalu, Homo Habilis, spesies paling awal Homogenus yang termasuk Homo Sapiens, telah berkelana di kawasan tersebut. Tapi tidak ada tanda-tanda Homo Habilis ditemukan di kedalaman gua di mana Nyonya Ples ditemukan.

Hidup di zaman yang sama

Keraguan terkait usia Nyonya Ples ini juga ditunjukkan penelitian terbaru yang menjelaskan bahwa kerangka hampir lengkap dari Australopithecus yang dikenal sebagai "Little Foot" telah berusia 3,67 juta tahun.

Kesenjangan usia antara Nyonya Ples dan Little Foot sepertinya tidak begitu besar karena mereka dipisahkan oleh begitu sedikit lapisan sedimen.

Pasar akhirnya para ilmuwan menganalisis sedimen di dekat tempat mereka ditemukan karena fosil terlalu tua dan rapuh untuk diuji.

"Sebelumnya kami pesimis dengan usia fosil tersebut karena peneliti mengukur endapan mineral batu alir kalsit yang lebih muda dari bagian gua," tulis studi tersebut.

 

Dalam studi terbaru, para peneliti menggunakan teknik penanggalan nuklida kosmogenik untuk melihat tingkat isotop langka yang tercipta ketika batuan mengandung kuarsa terkena partikel berkecepatan tinggi dari luar angkasa.

"Pembusukan radioaktif mereka terjadi ketika batu-batu itu terkubur di gua saat mereka jatuh di pintu masuk bersama dengan fosil," kata penulis utama studi tersebut, Darryl Granger dari Universitas Purdue di AS.

Para peneliti menemukan bahwa Nyonya Ples dan fosil lain yang berada di dekatnya berusia antara 3,4 dan 3,7 juta tahun.

"Ini berarti bahwa anggota Australopithecus africanus seperti Mrs Ples hidup "sezaman" dengan Australopithecus afarensis Afrika Timur, termasuk Lucy yang berusia 3,2 juta tahun yang ditemukan di Ethiopia," kata Dominic Stratford, direktur penelitian dan salah satu penulis studi tersebut.

Temuan baru ini juga mungkin bisa mengubah pemahaman kita tentang akar sejarah leluhur manusia.

Australopithecus Afrika Selatan sebelumnya dianggap "terlalu muda" untuk menjadi nenek moyang Homogenus. Hal itu mengartikan bahwa kediaman Lucy di Afrika Timur dianggap sebagai tempat yang lebih mungkin bagi Homogenus berevolusi," kata Stratford.

Meskipun demikian, penelitian baru menunjukkan Australopithecus Afrika Selatan membutuhkan waktu hampir satu juta tahun untuk berevolusi menjadi nenek moyang Homogenus yang merupakan cikal bakal manusia.

"Selama jangka waktu jutaan tahun, hanya berjarak 4.000 kilometer (2.500 mil), spesies ini memiliki banyak waktu untuk bepergian dan berkembang biak satu sama lain, jadi kita dapat membayangkan evolusi umum di seluruh Afrika," jelas Bruxelles.

Bruxelles menambahkan, “penelitian menunjukan sejarah hominid lebih kompleks daripada evolusi linier.” (M-4)

Baca Juga

Dok. Penerbit Banana

Nostalgia Penuh Tanda Tanya

👤Pro/M-2 🕔Sabtu 20 Agustus 2022, 07:30 WIB
BANYAK orang memiliki perjalanan hidup yang penuh warna dan...
Dok. Penerbit Baca

Meraih Kebahagiaan dengan Vibrasi Positif

👤Putri Rosmalia 🕔Sabtu 20 Agustus 2022, 07:25 WIB
Setiap bab dalam buku King seakan menjadi pelepas dahaga akan kebuntuan dan kepenatan yang kerap dialami seseorang di dunia...
Instagram

Kisah-Kisah Sejarah di Panggung Perdana Festival Musikal Indonesia

👤Devi Harahap 🕔Sabtu 20 Agustus 2022, 00:15 WIB
Selama Sabtu dan Minggu ini (20-21/08), publik Ibu Kota dapat menikmati berbagai sajian musikal dengan benang merah sejarah...

E-Paper Media Indonesia

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya