Headline
Transparansi data saham bakal diperkuat demi kerek bobot RI.
Kumpulan Berita DPR RI
Aktivis lingkungan asal Swedia, Greta Thunberg bakal merilis sebuah buku mengenai krisi iklim. Buku yang akan diluncurkan pada musim gugur ini bertujuan memaparkan ikhtisar global tentang bagaimana banyak krisis di planet ini terhubung.
“Saya telah memutuskan untuk menggunakan platform saya untuk membuat sebuah buku berdasarkan ilmu pengetahuan terbaik yang tersedia saat ini, sebuah buku yang mencakup krisis iklim, ekologi, dan keberlanjutan secara holistik,” kata Thunberg dalam sebuah pernyataan, seperti dilansir The Guardian, Jumat (1/4).
“Karena krisis iklim, tentu saja, hanyalah gejala dari krisis keberlanjutan yang jauh lebih besar. Harapan saya adalah bahwa buku ini bisa menjadi semacam sumber untuk memahami berbagai krisis yang berbeda dan saling berhubungan erat ini.”
Dalam The Climate Book, yang akan dicetak oleh penerbit Penguin ini, Thunberg telah mengumpulkan lebih dari 100 kontributor, mulai dari ilmuwan Johan Rockström dan Katharine Hayhoe, hingga ekonom Thomas Piketty, dan novelis Margaret Atwood. Perempuan berusia 19 tahun ini juga membagikan apa yang telah dia pelajari dari pengalamannya sendiri sebagai aktivis lingkungan.
Secara khusus, dia juga membahas prevalensi greenwashing, dan mengungkapkan sejauh mana kita tidak mengetahui masalah ini.
“Saat ini, kami sangat membutuhkan harapan”, kata Thunberg. "Tapi harapan bukan tentang berpura-pura bahwa semuanya akan baik-baik saja."
Untuk diketahui, Greenwashing adalah strategi komunikasi atau pemasaran satu perusahaan (biasanya industri fesyen) untuk memberikan citra yang ramah lingkungan, baik dari segi produk, nilai, maupun tujuan perusahaan tanpa benar-benar melakukan kegiatan yang berdampak bagi kelestarian lingkungan. Klaim itu kenyataannya hanya untuk menaikkan keuntungan perusahaan tersebut.
Dia menambahkan: “Bagi saya, harapan bukanlah sesuatu yang diberikan kepada Anda, itu adalah sesuatu yang harus Anda hasilkan, ciptakan. Itu tidak dapat diperoleh secara pasif, sekadar menunggu orang lain melakukan sesuatu. Harapan adalah mengambil tindakan.”
Sejak 2018, ketika Thunberg, yang saat itu berusia 15 tahun, memulai pemogokan di sekolahnya yang sekarang terkenal. Remaja Swedia itu telah menyerukan tindakan yang serius untuk mengatasi krisis iklim. Dia telah menjadi selebritas dunia dan tokoh komunitas aktivis lingkungan, menjadi Person of the Year termuda pada 2019 oleh majalah Time dan dinominasikan tiga kali untuk hadiah Nobel perdamaian.
Dia sebelumnya telah menerbitkan tiga buku, dua ditulis bersama oleh orang tua dan saudara perempuannya: Scenes from the Heart dan Our House Is on Fire, dan satu kumpulan pidato, No One Is Too Small to Make a Difference.
“Greta telah membuktikan dirinya sebagai salah satu penulis baru kami yang terbaik dan paling menggembleng”, kata Chloe Currens, editor Thunberg di Penguin. “Dalam serangkaian bab yang tajam, berwawasan luas, dan penuh semangat, yang menyatukan bagian-bagian buku yang berbeda, dia membagikan pengalamannya sendiri dan menanggapi apa yang dia pelajari.” (M-4)
Kemenag memperkenalkan konsep ekoteologi dan peran agama sebagai sumber harmoni sosial
Analisis mendalam dampak penaburan Kapur Tohor (CaO) dalam modifikasi cuaca. Pelajari efek eksotermik, risiko alkalinitas, dan manfaat mitigasi bencana.
Ekoteologi tidak boleh berhenti sebagai wacana, tetapi harus menjadi perilaku nyata umat dalam kehidupan sehari-hari.
Industri kelapa sawit terus dipandang sebagai salah satu sektor strategis perekonomian nasional,
Di luar sanksi hukum, WALHI Sumut menekankan pentingnya agenda pemulihan ekosistem yang terencana, terukur, dan melibatkan masyarakat terdampak.
Menag juga mencontohkan perilaku ramah lingkungan dalam ibadah, seperti anjuran Nabi SAW untuk berhemat air saat berwudu.
Peneliti mengungkap hutan Arktik hancur hanya dalam 300 tahun pada masa pemanasan global purba. Temuan ini jadi peringatan bagi krisis iklim modern.
Studi cincin pohon pinus di Spanyol mengungkap anomali cuaca paling ekstrem sejak 1500-an. Ketidakstabilan curah hujan kini mencapai titik kritis.
Analisis mendalam Avatar: Fire and Ash sebagai metafora krisis iklim. Menghubungkan 'Bangsa Abu' dengan data kebakaran hutan global 2025-2026.
Cuaca 2026 semakin tak menentu. Simak panduan medis menjaga imunitas tubuh, mencegah penyakit pancaroba, dan tips menghadapi gelombang panas (heatwave).
Lautan dunia menyerap panas ekstrem tahun 2025, memecahkan rekor selama sembilan tahun berturut-turut. Simak dampak mengerikannya bagi iklim global.
Peneliti Oxford mengungkap bagaimana bentuk garis pantai dapat menjebak spesies laut saat suhu memanas. Garis pantai Timur-Barat tingkatkan risiko kepunahan.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved