Headline
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Pemprov Jabar identifikasi warga yang betul-betul tak mampu.
Kumpulan Berita DPR RI
PARA peneliti belum lama ini telah mengkategorikan lebih dari 80.000 spesies tanaman di seluruh dunia dan menemukan bahwa sebagian besar dari mereka akan punah karena manusia tidak membutuhkannnya lagi.
Menurut makalah yang diterbitkan dalam jurnal Plants, People, Planet, Ini berarti bahwa komunitas tumbuhan di masa depan akan jauh lebih homogen daripada yang ada saat ini.
Temuan ini menunjukkan secara gamblang tentang ancaman terhadap keanekaragaman hayati. “Ini adalah panggilan darurat bagi kita semua,” kata para peneliti, menyoroti perlunya lebih banyak pekerjaan di bidang konservasi, terutama tanaman, seperti dilansir The Guardian, Jumat (11/3)
John Kress, kurator botani emeritus di Museum Nasional Sejarah Alam Smithsonian dan penulis utama makalah tersebut mengatakan “Ini bukan masa depan, tapi sudah terjadi. Saya pikir itu adalah bagian dari peringatan yang kami coba berikan . Mungkin kita bisa memperlambat sedikit kepunahan itu.”
Para peneliti di Smithsonian mulai mengkategorikan dengan tepat spesies tanaman mana yang paling terpengaruh oleh manusia sejak awal Antroposen – zaman geologis yang ditandai dengan dampak aktivitas manusia terhadap ekosistem di Bumi, seperti pemanasan global, penggundulan hutan, dan akibat negatif lainnya dari industrialisasi.
Mereka menganalisis data pada 86.592 spesies tanaman vaskular, mengumpulkan informasi dari database internasional tentang kegunaan yang berbeda dari tanaman tersebut, misalnya: apakah tanaman itu secara ekonomi penting bagi manusia, apakah spesiesnya terancam punah yang perlu dilindungi, atau apakah tanaman itu jadi bagian dari perdagangan illegal.
Dari informasi ini, mereka membuat kategorisasi tentang bagaimana nasib tanaman-tanaman tersebut di masa depan. Mereka pun sepakat menyimpulkan bahwa lebih banyak spesies tanaman akan punah oleh aktivitas manusia di Bumi, ketimbang diselamatkan.
Para peneliti mengatakan, ada 6.749 tanaman yang bakal bertahan dan bermanfaat bagi manusia seperti jagung, padi, gandum, dan tanaman lainnya. Mereka menutupi 40% dari permukaan planet ini. Selain itu, ada pula tanaman yang telah punah di alam liar tetapi masih hidup di kota-kota, seperti sebagai pohon ginkgo, yang ditanam di setiap blok di Kota New York. Ginkgo biloba telah ditanam oleh manusia selama ratusan tahun dan merupakan pohon hias populer yang telah digunakan untuk makanan, obat-obatan, dan sebagai suplemen makanan.
Namun, ada sekitar 20.290 spesies tumbuhan dikategorikan bernasib kurang beruntung, kebanyakan karena tidak bermanfaat bagi manusia dan memang sudah diakui sebagai spesies yang terancam punah, seperti pohon magnolia dari Haiti, yang ditebang untuk kayu bakar dan tidak tumbuh di tempat lain. Garis keturunan spesies tumbuhan yang lebih kecil – seperti sikas, famili cemara seperti kayu merah dan juniper, dan famili tumbuhan runjung kuno yang disebut araucariales, kemungkinan besar akan menghilang sepenuhnya.
Para ilmuwan mencatat 26.002 spesies sebagai calon pecundang (punah) dan 18.664 spesies sebagai calon pemenang (bertahan). Dua kategori terakhir adalah tumbuhan yang saat ini dianggap netral, artinya antara masih dibutuhkan atau tidak oleh manusia.
Inti dari penelitian tersebut, di masa depan, akan ada jauh lebih sedikit keanekaragaman hayati, yang pada gilirannya akan mendorong hilangnya sejumlah spesies tanaman, dan membuat ekosistem lebih rentan dalam menghadapi cuaca ekstrem, perubahan iklim, atau lebih banyak degradasi karena dampak manusia.
“Para penulis menggunakan kumpulan data 86.592 yang mewakili sekitar 25% tanaman vaskular dunia,” kata Barnabas Daru, asisten profesor biologi di Texas A&M University, yang tidak terlibat dalam penelitian ini. “Ini berarti bahwa kita kehilangan sebagian besar teka-teki, terutama kesenjangan pengetahuan yang luas di beberapa wilayah yang paling beragam seperti Amerika Selatan, Afrika, dan Asia Tenggara.” (M-4)
Kemajuan ilmu pengetahuan modern telah membawa banyak progres dalam pengelolaan kehutanan dan lingkungan.
Pemerintah mencabut izin 28 perusahaan kehutanan dan non-kehutanan di Aceh, Sumatra Utara, dan Sumatra Barat terkait pelanggaran hukum dan kerusakan lingkungan.
Kapolda Riau Irjen Herry Heryawan, menegaskan bahwa manusia memiliki kewajiban moral tanpa batas untuk menjaga kelestarian alam
Muslimat NU dan Kementerian Lingkungan Hidup RI menandatangani MoU untuk memperkuat gerakan pelestarian lingkungan berbasis masyarakat melalui program Mustika Darling.
Kementerian LH memberikan tenggat waktu selama enam bulan bagi seluruh pengelola rest area di jalur tol untuk segera menyediakan unit pengolahan sampah mandiri yang mumpuni.
Seorang guru, Beryl Hamdi Rayhan, mengajukan gugatan ke Mahkamah Konstitusi (MK) untuk mendorong pendidikan lingkungan hidup menjadi mata pelajaran wajib dalam kurikulum nasional.
Indonesia menegaskan komitmen dalam melindungi keanekaragaman hayati dunia melalui penguatan hutan adat, perlindungan satwa liar, dan pemberantasan kejahatan satwa.
Tak hanya penting untuk aktivitas warga kota, Tebet Eco Park juga menjadi habitat bagi para satwa. Di antaranya adalah burung, reptil, hingga amfibi.
Senyawa alami memiliki keragaman struktur kimia dan mekanisme aksi yang menjadikannya sumber utama dalam pengembangan agen preventif penyakit kronis.
"Kami melihat akar masalah sesungguhnya adalah perusakan ekosistem hulu sampai hilir dari daerah aliran sungai dan kelalaian tata ruang yang terjadi secara sistematik,”
DEPUTI Bidang Pangan, Sumber Daya Alam, dan Lingkungan Hidup Bappenas menekankan agar pemanfaatan potensi keanekaragaman hayati harus dikelola secara bertanggung jawab.
MOMEN Global Climate Change Week 2025 (GCCW2025) yang berlangsung setiap akhir Oktober menjadi pengingat pentingnya kontribusi semua pihak untuk menekan laju perubahan iklim.
Copyright @ 2026 Media Group - mediaindonesia. All Rights Reserved