Minggu 11 Juli 2021, 05:00 WIB

Belajar dari ‘Sampar’

Adiyanto Wartawan Media Indonesia | Weekend
Belajar dari ‘Sampar’

MI/Ebet
Adiyanto Wartawan Media Indonesia

BUKAN sulap, bukan sihir. Tiba-tiba saja merek sebuah susu kemasan itu lenyap dari pasaran. Konon, susu itu diyakini dapat meningkatkan imun tubuh di tengah pandemi ini. Meski kandungan gizi dan nutrisinya tidak jauh beda dengan produk susu lainnya, masyarakat yang kadung percaya lantas ramai-ramai memborongnya. Sebagian berhasil mendapatkannya, tidak sedikit yang cuma bisa gigit jari lantaran benda yang dicari tidak ditemukan di rak mini hingga supermarket.

Belum lagi isu susu itu ‘mengering’, tabung oksigen pun ‘menguap’, dan sulit ditemukan di pasaran. Kalau pun ada, harganya sudah melonjak berkali lipat. Begitu pun halnya dengan harga obat yang mencekik leher. Kenyataan pahit itu kian menyesakkan bagi para pasien atau mereka yang keluarganya tengah kesusahan di tengah pandemi ini. Apakah itu ulah para spekulan? Komisi III DPR meminta kepolisian mengusut para penimbun tabung dan mafia obat tersebut.

Fenomena di atas persis yang digambarkan Albert Camus dalam novel La Peste (sampar). Dalam novel itu, filsuf Prancis tersebut memotret perilaku manusia dalam menghadapi wabah atau bencana. Ada yang cuek dan memikirkan dirinya sendiri, ada yang menganggap ini sebagai hukuman Tuhan, ada yang memanfaatkan kesempatan dalam kesempitan dan cuma mencari keuntungan, tetapi ada pula yang bersimpati dan mau menolong para korban, seperti yang dilakukan dr Rieux, tokoh utama di novel tersebut. Meski harus kehilangan istrinya, sang tokoh ini rela mempertaruhkan nyawanya untuk orang lain.

Di novel itu, Camus mengajak pembaca merenung bagaimana eksistensi kita (manusia) di tengah wabah atau bencana. Bagaimana kita bersikap dan menyikapi musibah. Apakah pasrah begitu saja menunggu antrean kematian atau mencuri-curi keuntungan dalam penderitaan orang lain, seperti yang dilakukan Cottard, Garcia, dan Gonzalez, tokoh-tokoh culas yang digambarkan Camus di buku tersebut.

Meski sampar yang digambarkan Camus dalam novelnya merupakan simbol tentang masa pendudukan Nazi di era 1940-an, wabah penyakit tersebut pernah pula melanda eropa pada pertengahan hingga akhir abad ke-14 dan membunuh sepertiga hingga dua pertiga populasi di benua itu. Wabah korona yang kini berjangkit hampir di seluruh dunia pun tidak jauh beda. Korban yang terus berjatuhan, membuat masyarakat, pemerintah, dan media massa panik menghadapi musuh yang tidak kasatmata. Fenomena ini terjadi di berbagai penjuru dunia, bukan cuma di Indonesia. Bahkan, WHO pun awalnya gagap menyikapi pandemi ini.

Namun, dari wabah yang telah berlangsung lebih dari setahun ini, manusia pun belajar. Para ahli memelajari perkembangan virus dan akhirnya menemukan vaksin. Meski belum ada obat yang betul-betul manjur, setidaknya mereka telah mengetahui bagaimana meminimalisasi penularan. Kita, sebagai masyarakat awam, harus mendengarkan nasehat para pakar tersebut. Kita juga mesti aktif terlibat dan menolak kepasrahan meski belum tentu memenangi perang melawan pandemi ini.

Setidaknya, seperti kata Camus, kita harus bertindak secara konkret menyelamatkan manusia. Minimal tetap disiplin mematuhi protokol kesehatan sebab dengan begitu, selain melindungi diri sendiri, kita juga ikut menyelamatkan orang lain. Bukan malah menyusahkan dengan menggerogoti dana bansos atau melambungkan harga obat di pasaran. Itu banal, bahkan keterlaluan namanya.

Baca Juga

Dok Bebek Kaleyo

Pameran Food and Hotel Indonesia Resmi Dibuka

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 21 September 2021, 21:04 WIB
Pameran Food and Hotel Indonesia (FHI) resmi dibuka hari ini dan akan berlangsung selama empat hari hingga Jumat...
Dok Xiaomi

Simak Enam Tips Menjadi Kreator Konten

👤Mediaindonesia.com 🕔Selasa 21 September 2021, 16:31 WIB
Tawaran penghasilan kreator konten didapatkan dari berbagai macam...
instagram dokterkulitku.com

Ini Cara Mudah Mengatasi Kesusupan

👤Nike Amelia Sari 🕔Selasa 21 September 2021, 08:05 WIB
Meskipun hanya serpihan kayu, tetap akan menimbulkan rasa nyeri dan kesusupan tak boleh...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Miliarder Baru dari Pundong

MASYARAKAT dihebohkan dengan video viral warga Dukuh Pundong III, Kelurahan Tirtoadi, Mlati, Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta, membeli tiga mobil dengan uang tunai.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya