Senin 08 Maret 2021, 06:05 WIB

Lembar Suram Nasib Toko Buku di Paris

Adiyanto | Weekend
Lembar Suram Nasib Toko Buku di Paris

Hugo MATHY / AFP
Salah satu toko buku milik Gibert Jeune di Saint-Michel, Paris.

DI sekitar Universitas Sorborne di Prancis, ada deretan toko buku yang sejak abad pertengahan telah menjadi langganan para intekektual di negara itu. Namun, seiring perkembangan zaman dengan hadirnya internet ditambah pandemi covid-19, satu persatu toko buku legendaris itu tutup.

Salah satunya penjual buku paling terkenal di Paris, Gibert Jeune yang terpaksa menutup tokonya yang tak jauh dari tepi Sungai Seine, tempat perusahaan milik keluarga itu memulai usanya lebih dari 130 tahun lalu.

Rencananya toko utama Gibert di Place Saint-Michel, serta toko lainnya di dekatnya, juga tutup menyusul bangkrutnya toko Boulinier tahun lalu. Boulinier, yang ikonik sejak abad ke-19, terpaksa memindahkan toko utamanya ke tempat yang lebih kecil pada Juni lalu karena kenaikan harga sewa.

Kini lebih banyak toko waralaba seperti Levi's, Celio, serta Sephora di sepanjang Boulevard Saint Michel yang membentang dari tepi Sungai Seine ke Sorbonne. Para kritikus menyebut daerah itu hanya menjadi jalur ritel global yang hambar.

Menurut badan perencanaan kota, dihadapkan pada persaingan dari penjualan online dan raksasa internet, Amazon, 43% toko buku di wilayah tersebut telah hilang dalam 20 tahun terakhir.

“Secara bertahap, pusat kota Paris  didominasi oleh wisatawan, sementara kampus/ universitas  semakin condong ke pinggiran kota, “ kata Francois Mohrt, seorang perencana kota di Apur.

Sebagai penjual buku independen pertama di Prancis, toko utama grup Gibert telah berada di Place Saint-Michel sejak berabad silam. Perusahaan berencana menutup empat dari enam toko mreka yang terletak tidak jauh dari katedral Notre-Dame.

Dikelilingi oleh rak buku yang sudah setengah kosong, salah satu dari 69 karyawan mengatakan kepada AFP: "Kami tidak berharap bisa bertahan 10 tahun."

Pemerintah kota, melalui perusahaan semi-publik Semeast mengusulkan harga sewa bisa ditunrunkan sedikit di bawah harga pasar dan merelokasi beberapa toko buku lokal kecil dan membolehkan mereka untuk menjual minuman.

Menurut Union of French Bookshops (SLF), toko buku independen sejak 2017 kembali tumbuh, meskipun sedikit menurun pada 2020, turun 3,3%, karena tiga bulan tutup selama lockdown.

Penjual buku kecil, dengan omset kurang dari 300.000 euro per tahun, membuat kemajuan terbesar dengan penjualan melonjak sebesar 15% pada tahun lalu.

Menurut Guillaume Husson dari SLF ada aspek sosial yang penting saat ini jika toko buku bisa bertahan.

“Hubungan antarmanusia, antara toko buku dan pelanggannya, itulah salah satu hal terpenting yang dicari pecinta buku dari penjual skala kecil, “ katanya. (AFP/M-4)

Baca Juga

Adrian Dennis/ Pool/ AFP

The Pogmentary, Film Dokumenter Paul Pogba

👤Fathurrozak 🕔Kamis 15 April 2021, 09:35 WIB
Paul Pogba bekerja sama dengan Amazon Studios untuk proyek dokumenternya yang berjudul The...
Iddas Yacht

Earth 300, Kapal Eksplorasi Sains Bertenaga Nuklir

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 15 April 2021, 09:35 WIB
Kapal itu direncanakan akan melaut pada...
Instagram @iddesyachts

Kapal Bertenaga Nuklir Ini akan Melaut 2025

👤Bagus Pradana 🕔Kamis 15 April 2021, 09:20 WIB
Kapal itu dilengkapi dengan Molten Salt Reactor atau sejenis pembangkit listrik tenaga nuklir bertekanan...

E-Paper Media Indonesia

HALAMAN FOKUS EKSTRA 4 HALAMAN

Fokus Edisi

Tajamnya Lancang Kuning di Lapangan

 Polda Riau meluncurkan aplikasi Lancang Kuning untuk menangani kebakaran hutan dan lahan. Berhasil di lapangan, dipuji banyak kalangan.

Baca E-Paper

Berita Terkini

Selengkapnya

BenihBaik.com

Selengkapnya

MG News

Selengkapnya

Berita Populer

Selengkapnya

Berita Weekend

Selengkapnya